OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Sejarawan Kristen: Kedamaian dan Kehidupan Penuh Toleransi Tercipta di Bawah Naungan Khilafah Islam

Sejarawan Kristen: Kedamaian dan Kehidupan Penuh Toleransi Tercipta di Bawah Naungan Khilafah Islam


Dalam buku "The Preaching of Islam", orientalis dan sejarawan kristen Thomas W. Arnold mencatat keadilan Khalifah Islam membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan Khalifah Islam dibanding dipimpin oleh Kaisar Romawi walau sama-sama Kristen.

Wilayah Syam (Syria, Jordan, Palestina) di bawah pemerintahan kristen Romawi timur (Byzantium) selama 7 abad sebelum Islam datang.

Ketika pasukan Muslim di bawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya berbunyi:

“Saudara-saudara kami kaum muslimin, kami lebih bersimpati kepada saudara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami, karena saudara-saudara lebih setia kepada janji, lebih bersikap belas kasih kepada kami dengan menjauhkan tindakan-tindakan tidak adil serta pemerintah Islam lebih baik daripada pemerintah Byzantium, karena mereka telah merampok harta dan rumah-rumah kami.”

Penduduk Emessa menutup gerbang kota terhadap tentara Heraclius serta memberitahukan kepada orang-orang Muslim bahwa mereka lebih suka kepada pemerintahan dan sikap adil kaum muslimin dari pada tekanan dan sikap tidak adil penguasa Romawi.

Demikianlah gambaran jiwa rakyat di Syam selama masa perang (tahun 633-639 Masehi). Dimana tentara kaum muslimin lambat laun dapat mengusir tentara Romawi dari wilayah itu. Dan tatkala Damaskus pada tahun 637 mempelopori menciptakan syarat-syarat perdamaian dengan pihak Kekhalifahan Islam, yang berarti terjaminnya keamanan dan diperolehnya kondisi-kondisi yang menguntungkan, maka hal itu segera diikuti oleh kota-kota lainnya. Emessa, Arethusa, Hieropolis mengadakan perjanjian yang sama dengan pihak Kekhalifahan Islam, kepada siapapun mereka harus membayar pajak. Bahkan Patriarch Jerusalem menyerahkan kota itu dengan syarat-syarat yang sama. Kecemasan terhadap timbulnya kekacauan agama akibat tindakan Kaisar Romawi mendorong mereka untuk lebih mendekati sikap toleransi kaum Muslimin.

Rakyat propinsi kekaisaran Byzantium yang direbut tentara muslim dapat menikmati alam toleransi seperti paham Monophysis dan Nestoria, yang selama berabad-abad tertekan oleh pemerintahan Kristen Romawi. Mereka diberi kebebasan tanpa gangguan untuk menjalankan keyakinan mereka, kecuali sedikit pembatasan, yaitu mereka jangan terlalu menonjol-nonjolkan symbol agama, untuk mencegah bentrokan antara penganut kedua agama atau timbulnya fanatisme yang dapat melukai perasaan kaum muslimin. Luasnya toleransi ini -demikian menarik perhatian dalam sejarah abad ke ketujuh– dapat dilihat dari syarat-syarat yang diberikan kepada kota-kota yang ditaklukkan (oleh pasukan Islam), dimana perlindungan terhadap jiwa dan harta penduduk dan keleluasaan menjalankan ajaran-ajaran agama dijamin sebagai imbalan ketundukan dan pembayaran jizyah yang jumlahnya lebih kecil dibanding pajak mencekik yang diterapkan penguasa kristen Romawi.

Sebagai contoh, dapat dikutipkan disini syarat-syarat persetujuan sebagaimana ditetapkan pada waktu penyerahan kota Jerusalem kepada khalifah Umar bin Khattab:

"Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih. Inilah persetujuaan keamanan, yang oleh Umar, hamba Allah, Amirul Mukminin, diberikan kepada penduduk Elia (Palestina). Dia memberikan kepada semua, yang sakit atau yang sehat, jaminan keamanan bagi jiwa, harta, gereja, salib, dan semua hal yang berhubungan dengan agama mereka. Gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, tidak juga mereka atau perlengkapan mereka akan dikurangi dengan cara apapun, begitu juga salib-salib atau harta milik mereka tidak akan diganggu, tidak akan ada paksaan bagi mereka mengenai soal-soal yang berhubungan dengan keyakinan mereka, dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya."

Sumbangan wajib mereka ditetapkan lima dinar bagi mereka yang kaya, empat dinar bagi yang menengah dan tiga dinar bagi rakyat biasa. Bersama sama dengan Patriarch, Khalifah Umar mengunjungi tempat-tempat suci dan diriwayatkan ketika mereka berada dalam gereja Resurection, sedang bertepatan dengan waktu sholat, Patriarch mempersilahkan Khalifah untuk menunaikan sholatnya ditempat itu tetapi oleh Umar ditolak dengan lemah lembut, seraya mengatakan apabila beliau melakukan hal tersebut, maka dikhawatirkan kelak umatnya akan menganggap gereja itu sebagai tempat sholat bagi kaum muslimin dan menjadikannya masjid.

Sikap dan tindakan harmonis seperti itu juga diperlihatkan Umar terhadap penduduk yang beragama lain dalam urusan-urusan lainnya, seperti dituliskan dalam sejarah bahwa Umar pernah memerintahkan agar menyumbang uang dan makanan dari baitul mal untuk para penderita sakit lepra dari orang-orang Kristen. Bahkan dalam wasiatnya yang terakhir dimana beliau menunjuk penggantinya sebagai Khalifah, beliau menyinggung masalah Dzimmi (penduduk non-Islam yang tunduk) ini sebagai berikut: “Amatlah kuharapkan agar dia (Khalifah Baru) memperhatikan urusan kaum dzimmi ini, agar mereka itu tetap menikmati perlindungan Tuhan dan Rasulullah, pula agar dia (Khalifah Baru) menepati perjanjian dengan mereka, dan janganlah memberati mereka dengan beban-beban yang tak dapat mereka pikul."

Demikianlah sejarah mencatat... kedamaian dan kehidupan penuh toleransi di bawah naungan Khilafah Islam.

__
Referensi: 'The Preaching of Islam' Thomas W. Arnold


Sumber: Portal Islam

Muhammadiyah: Jika HTI Tak Bisa Ditoleransi, Harusnya Sekulerisasi Juga

Muhammadiyah: Jika HTI Tak Bisa Ditoleransi, Harusnya Sekulerisasi Juga

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan, sekulerisasi terang melawan prinsip yang paling pertama dari identitas kebangsaan, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

skr/hidayatullah.com

10Berita– Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri, Bachtiar Effendy mengkritisi pembubaran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah sekaligus pelarangan khilafah yang dianut.

Bachtiar mengungkapkan, jika setiap warga negara sepakat dengan identitas kebangsaan, yakni Pancasila dan UUD 1945, maka seharusnya konsisten dengan segala yang bertentangan terkait identitas kebangsaan.

“Kalau kita betul-betul menerima itu (identitas kebangsaan. Red), maka seluruh wacana tentang sekulerisasi juga bertentangan,” ujarnya di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, belum lama ini.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan, sekulerisasi terang melawan prinsip yang paling pertama dari identitas kebangsaan, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Kalau kita tidak bisa mentolerir HTI, kita juga harus tidak bisa mentolerir seluruh tindakan maupun gerakan-gerakan yang berlawanan dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa,” paparnya.

Karenanya, Bachtiar mengajak, agar benar-benar menerima identitas kebangsaan yang bersumber pada Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

“Sebab identitas kebangsaan kita itu tadi adalah akomodasi, atau yang lain menyebutnya konsensus (kesepakatan),” tandasnya.

Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 (Perppu Ormas) dan membubarkan HTI karena dituding bertentangan dengan Pancasila.*

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sumber: Hidayatullah

Isyaratkan 'Lindungi' Patung Dewa Perang Cina di Tuban, Citra Istana Terus Memburuk


Isyaratkan 'Lindungi' Patung Dewa Perang Cina di Tuban, Citra Istana Terus Memburuk


Citra Istana semakin memburuk setelah Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki berkomentar soal patung Dewa Perang Cina Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban. Teten mengisyaratkan Istana akan mempertahankan Patung Dewa Perang Cina, dengan meminta aparat menindak pihak-pihak yang ingin merobohkannya.

Analisis itu disampaikan aktivis politik Rahman Simatupang (11/08). “Seharusnya Istana bersikap dan mengungkap fakta bahwa Patung Dewa Perang Cina di Tuban itu belum berizin,” tegas Rahman.

Sebagai akibat dari pernyataan Tetan itu, kata Rahman, akan muncul persepsi masyarakat bahwa Istana dikuasai kelompok Cina. “Jangan salahkan persepsi masyarakat kalau memandang Istana dikuasai kelompok Cina,” papar Rahman.

Menurut Rahman, persoalan patung Dewa Perang Cina di Tuban sangat sensitif, karena bisa memunculkan gejolak sosial. “Kelompok Cina dinilai menguasai ekonomi sehingga akan memunculkan ketimpangan sosial. Ini bisa memicu gesekan, terlebih lagi ada patung Dewa Perang China,” jelas Rahman.

Pihak Istana mengisyaratkan aparat penegak hukum tidak kalah terhadap orang-orang maupun kelompok yang meminta merobohkan patung dewa perang Cina Kongco Kwan Sing Tee Koen di Tuban.

“Apalagi jika mereka protes mau ini mau itu, minta patung itu dirobohkan misalnya. Aparat tidak boleh tunduk pada tekanan,” tegas Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki di Jakarta (09/08).

Penegasan itu disampaikan Teten mengomentari penolakan masyarakat atas berdirinya patung raksasa Dewa Perang Cina, Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur.

Warga Tuban meminta agar patung tersebut segera dirobohkan karena tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia.[] 

Sumber : intelijen.co.id

 

Kejamnya Polpot, Diktator Boneka RRC Berwajah Lugu Yang Bantai 2.000.000 Rakyatnya

Kejamnya Polpot, Diktator Boneka RRC Berwajah Lugu Yang Bantai 2.000.000 Rakyatnya


10Berita – Nyaris tiga dasawarsa berlalu sejak rezim Khmer Merah di bawah Pol Pot digulingkan. Tetapi, sejarah kelam kebrutalan rezim komunis yang berkuasa pada 1975-1979 itu belum bisa sepenuhnya dihapus dari ingatan rakyat Kamboja maupun dunia internasional. Tidak heran, bagi wisatawan yang singgah di Kamboja, lokasi-lokasi bekas peninggalan rezim Khmer Merah sangat diminati untuk disinggahi. Kamp penyiksaan Tuol Sleng serta “ladang pembantaian” (killing field) Choeung Ek adalah dua dari segudang bukti kekejaman Pol Pot yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Benak langsung diselimuti kengerian dan kepedihan mendalam, ketika saya dan teman-teman wartawan dari Asia Pasifik menjejakkan kaki di Choeung Ek, awal April. Kami sengaja meluangkan waktu di sela-sela padatnya “Phnom Penh Interfaith Dialogue 2008” untuk mengetahui seperti apa wajah “ladang pembantaian” itu sesungguhnya. Choeung Ek adalah ‘ladang pembantaian’ yang digunakan rezim Khmer Merah selama empat tahun, sebagai lokasi eksekusi orang-orang berpendidikan tinggi dari Phnom Penh.

Ouch Kosal (27 tahun), pemandu wisata kami, menyebutkan ada sekitar 20.000 orang dieksekusi di situ. “Sebagian besar korban yang dieksekusi adalah dokter, pengacara, insinyur, guru, diplomat tinggi, serta kalangan profesional lain,” kata Kosal, lulusan Cambodia Mekong University. Mereka yang dieksekusi umumnya pernah bekerja di bawah rezim Lon Nol, yakni pemerintah dukungan AS, tetapi dikenal sangat buruk dan korup. Tanpa pandang bulu, mereka yang diketahui punya ide dan pandangan politik berbeda dengan Pol Pot, ditangkap dan dieksekusi. Penangkapan bahkan kerap terjadi pada orang yang hanya karena berpenampilan intelektual, antara lain dapat berbahasa asing, punya telapak tangan halus, berkaca mata, serta bermata pencarian bukan buruh, petani, atau pekerjaan-pekerjaan kasar lain.

Choeung Ek, yang awalnya lokasi pemakaman warga Tionghoa, berada di kawasan seluas sekitar 2,5 hektare. Sebetulnya, “ladang pembantaian” Choeung Ek berada di sebuah lahan terbuka yang sangat luas. Tetapi setelah dilakukan penggalian kuburan massal, Pemerintah Kamboja menetapkan bahwa ladang pembantaian itu berada di lokasi seluas 2,5 hektare. Setelah jatuhnya rezim Pol Pot pada 1979, ada 86 dari total 129 kuburan massal di Choeung Ek berhasil digali. Sebanyak 8.985 mayat ditemukan di lokasi kuburan massal tersebut.

Cabikan pakaian korban pembantaian hingga kini masih tampak menyembul di sela-sela tanah. Rumput-rumput liar menyelimuti permukaan tanah yang dipenuhi cerukan-cerukan bekas kuburan. Serpihan tulang mudah ditemukan, bertebaran di seantero lahan. Pakaian para korban eksekusi yang lusuh dan lapuk dibiarkan teronggok di bawah pepohonan. Situasi memang tidak diubah agar pengunjung dapat menangkap atmosfer yang memilukan.

Ada pula Pohon Ajaib tempat alat pengeras suara digantung dan dibunyikan keras- keras sehingga lolongan korban yang tengah dieksekusi tidak terdengar oleh masyarakat sekitar.

Tuol Sleng

Dalam masa empat tahun berkuasanya rezim Khmer Merah, tidak kurang dua juta orang dari seantero Kamboja dibunuh. Ada sekitar 343 “ladang pembantaian”, seperti Choeung Ek tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Tetapi, Choeung Ek adalah “ladang pembantaian” paling terkenal. Pasalnya, sebagian besar korban yang dieksekusi di sana adalah intelektual dari Phnom Penh. Contohnya, mantan Menteri Informasi Hou Nim, profesor ilmu hukum Phorng Ton, serta sembilan warga Barat termasuk David Lioy Scott dari Australia. Sebelum dibunuh, sebagian besar mereka didokumentasikan dan diinterogasi di kamp penyiksaan Tuol Sleng.

Penjara S-21 atau Tuol Sleng adalah organ rezim Khmer Merah yang paling rahasia. Pada 1962, penjara S-21 merupakan sebuah gedung SMA bernama Ponhea Yat. Semasa pemerintahan Lon Nol, nama sekolah diubah menjadi Tuol Svay Prey High School.

Tuol Sleng yang berlokasi di subdistrik Tuol Svay Prey, sebelah selatan Phnom Penh, mencakupi wilayah seluas 600 x 400 meter. Setelah Phnom Penh jatuh ke tangan Pol Pot, sekolah diubah menjadi kamp interogasi dan penyiksaan tahanan yang dituduh sebagai musuh politik.

Menurut sejumlah pengurus Museum Genosida Tuol Sleng, nyaris tidak ada yang berubah dari penjara itu. Bercak-bercak darah berwarna kecokelatan di dinding dan lantai kamar masih terlihat. Ranjang besi para tahanan dilengkapi rantai besi dan belenggu pergelangan kaki masih teronggok di tiap-tiap sel.

Di Tuol Sleng, para intelektual diinterogasi agar menyebutkan kerabat atau sejawat sesama intelektual. Satu orang harus menyebutkan 15 nama orang berpendidikan yang lain. Jika tidak menjawab, mereka akan disiksa. Kuku-kuku jari mereka akan dicabut, lantas direndam cairan alkohol. Mereka juga disiksa dengan cara ditenggelamkan ke bak air atau disetrum. Kepedihan terutama dirasakan kaum perempuan karena kerap diperkosa saat diinterogasi.

Setelah diinterogasi selama 2-4 bulan, mereka akan dieksekusi di Choeung Ek. Sejumlah tahanan politik yang dinilai penting ditahan untuk diinterogasi sekitar 6-7 bulan, lalu dieksekusi.

Haing S Ngor, dokter medis Kamboja, adalah segelintir intelektual yang berhasil lolos dari buruan rezim Khmer Merah. Haing dianugerahi Piala Oscar berkat perannya di film “The Killing Fields”. Dalam film itu, ia memerankan tokoh Dith Pran, jurnalis Kamboja yang selamat dari pembantaian. Dan, Haing tak kalah piawai beradu peran dengan Sam Waterston, pemeran Sidney Schanberg, wartawan New York Times yang mengabadikan kekejaman di sana. Sayang, Haing tewas terbunuh di kediamannya di Los Angeles ketika melawan perampokan yang dilakukan tiga pecandu narkoba pada 1996.

Anak-anak juga menjadi korban

Dari kondisi tengkorak para korban, setidaknya bisa diketahui eksekusi dilakukan sangat brutal. “Eksekusi dilakukan tidak dengan ditembak atau cara-cara lain yang dapat menimbulkan kegaduhan. Korban secara berkelompok digiring ke pinggir lobang kuburan massal lalu dieksekusi dengan alat-alat pertanian, misalnya cangkul atau pacul, yang dihantamkan ke bagian kepala,” tutur Kosal.

Musik diputar keras-keras dari megafon yang digantung di “pohon ajaib”, untuk meredam lolongan kesakitan. Korban tidak bisa melarikan diri karena tangan dan kaki dibelenggu, sementara mata ditutup rapat.

Fakta pembantaian intelektual Kamboja terbilang mengherankan. Tidak kurang Donna Baker, diplomat dari Kementerian Luar Negeri Australia yang ikut bersama para wartawan ke Tuol Sleng dan Choeung Ek, juga mempertanyakan hal itu. “Di Rusia, yang juga negara komunis, para intelektual tetap diperkenankan hidup. Mengapa di Kamboja mereka semua dibantai? Apa karena mereka sebelumnya bekerja di bawah rezim Lon Nol?” kata Donna.

Dari penyelidikan pascajatuhnya Pol Pot, yang bernama asli Saloth Sar, diyakini dia ingin mengembangkan komunisme ekstrem. Rezim Pol Pot ingin membangun segala sesuatunya dari awal. Maka, pada 17 April 1975, Kamboja diproklamasikan Pol Pot sebagai negara baru. Ia menyebut tahun 1975 sebagai “Year Zero”. Segala sesuatunya ingin dibangun dari titik nol. Pol Pot memproklamasikan 17 April 1975 sebagai Hari Pembebasan (Liberation Day) dari rezim Lon Nol yang buruk dan korup. Ternyata, pembebasan yang dijanjikan Pol Pot justru merupakan awal masa kegelapan bagi rakyat Kamboja.

Banyak tentara Khmer Merah akhirnya menyadari ada yang salah dari ideologi komunis ala Pol Pot. Mereka melarikan diri dari Kamboja dan bergabung dengan pasukan Vietnam untuk menggulingkan rezim brutal itu. Pol Pot jatuh di tangan tentaranya sendiri yang membelot ke Vietnam. 7 Januari 1979 adalah hari pembebasan dari cengkeraman rezim Khmer Merah. Banyak tentara Khmer Merah yang diperkenankan bergabung dengan pemerintahan Kamboja pasca Pol Pot. PM Hun Sen, misalnya, dulu adalah deputi komandan resimen Khmer Merah. Tetapi, ia kabur ke Vietnam pada 1977.

Penegakan hukum tetap diberlakukan ke sejumlah pemimpin papan atas Khmer Merah yang berwatak kriminal, khususnya Deuch yang bernama asli Kaing Khek Iev. Pada 1975-1979, Deuch menjabat sebagai Direktur S-21. Sejak 1999, Deuch mendekam di tahanan menanti persidangan atas pelanggaran HAM.

Harus diakui, menapaki jejak peninggalan rezim Khmer Merah sungguh tidak nyaman. Perut terasa mual. Tetapi, wisata ke Tuol Sleng dan “ladang pembantaian” Choeung Ek setidaknya bisa mengingatkan kita pada sejarah kebrutalan pada masa lalu, yang seharusnya tidak terulang kembali.(kl/kp)

Sumber: kekejamanpolpot.blogspot.id

Ketika Bob Sadino Dikira Tukang Sampah di Gedung Kantor Miliknya

Ketika Bob Sadino Dikira Tukang Sampah di Gedung Kantor Miliknya


Suatu pagi, terlihat seorang wanita berpenampilan menarik berusia 40an membawa anaknya memasuki area perkantoran sebuah perusahaan terkenal.Karena pagi itu masih sangat sepi, mereka pun duduk-duduk di taman samping gedung untuk sarapan sambil menikmati taman yang hijau nan asri.Sesekali si wanita membuang sembarangan tisu yang bekas dipakainya.

Tidak jauh dari situ, ada seorang kakek tua berpakaian sederhana dengan mengenakan celana pendek sedang memegang gunting untuk memotong ranting. Si kakek menghampiri dan memungut sampah tisu yang dibuang si wanita itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Beberapa waktu kemudian, kembali wanita itu membuang sampah lagi tanpa rasa sungkan sedikit pun. Kakek tua itu pun dengan sabar memungut kembali dan membuangnya ke tempat sampah.

Sambil menunjuk ke arah sang kakek, si wanita itu lantas berkata kepada anaknya,”Nak, kamu lihat kan, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu, kerjanya mungutin dan buang sampah! Kotor, kasar, dan rendah seperti dia, jelas ya?”

Si kakek meletakkan gunting dan menyapa ke wanita itu, “Permisi, ini taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk kesini ?”

Wanita itu dengan sombong menjawab, “Aku adalah calon manager yang dipanggil oleh perusahaan ini.”

Pada waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sangat sopan dan hormat menghampiri si kakek sambil berkata, ”Pak Presdir, hanya mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai.”

Sang kakek mengangguk, lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita itu dia berkata tegas, “Manager, tolong untuk wanita ini, saya usulkan tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun di perusahaan ini.”

Sambil melirik ke arah si wanita, si manager menjawab cepat, “Baik Pak Presdir, kami segera atur sesuai perintah Bapak.”

Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek mengulurkan tangan membelai kepala si anak, “Nak, di dunia ini, yang penting adalah belajar untuk menghormati orang lain, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah".

Si wanita tertunduk malu, tanpa berani memandang si kakek.

Kakek itu adalahBob Sadino, yang kedudukannya adalah Presiden Direktur di perusahaantersebut.

*****

Bob Sadino dikenal sebagai pengusaha sukses yang berpenampilan sangat sederhana dan mempunyai ciri khas selalu mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek, bahkan ketika bertemu dengan presiden maupun pejabat negara sekalipun.

Beliau lahir pada tanggal 9 Maret 1933, dan telah meninggal dunia karena sakit pada 19 Januari 2015.

Gayanya yang nyentrik dengan pola pikir unik dan cenderung keluar dari pakem teori maupun buku teks ekonomi menjadikan Bob Sadino sebagai entreprenuer sejati, yang memberikan inspirasi hebat bagi para generasi penerus bangsa yang ingin menjadi pengusaha sukses.

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita diatas Hargailah setiap orang yang anda temui, walaupun penampilan mereka biasa-biasa saja. Penampilan seseorang belum tentu (bahkan seringkali) menggambarkan kedudukan sosialnya.

Sumber: inmotivasi.blogspot.com


Kurban Mengajarkan 5 Pengalaman Spiritual

Kurban Mengajarkan 5 Pengalaman Spiritual

10Berita, JAKARTA – Idul Adha atau Idul Kurban sebentar lagi tiba. Banyak hikmah yang bisa dipetik oleh Muslim yang menunaikan kurban pada momentum Idul Adha tersebut.

“Kurban mengajarkan kita bukan saja soal menaklukkan ketakutan dan rasa pelit, tetapi secara unik mencerahkan pengurban untuk merasakan pengalaman spiritual yg lain,” kata Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia Ustaz Nurul Huda dalam pesan instan yang diterima Republika.co.id, Jumat (11/8).

Pertama, kata da’i yang akrab dipanggil Ustaz Enha itu, kurban mengajarkan keberserahan secara total kepada Allah (surender).

Kedua, kurban mengajarkan ketaatan tanpa tapi (obey).

Ketiga, kurban mengajarkan berpikir bahagia, lepas, damai (peace of mind).

Keempat, kurban mengajarkan kita kebebasan dan kemerdekaan, keteraturan hanyalah penghambaan kepada Sang Pencipta (freedom).

Kelima, kurban bukan hanya mengajarkan kita rasa syukur,  tetapi ia memberikan kita berkelimpahan (abundance).

Sumber: Republika

ICMI: Umat Muslim Harus Gerakkan Perekonomian Nasional

ICMI: Umat Muslim Harus Gerakkan Perekonomian Nasional

10Berita, JAKARTA -- Ketua Umun Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie menyerukan umat Muslim di Indonesia untuk bersama-sama menggerakan sektor perekonomian nasional agar tidak jatuh ke orang lain. Dia menilai sektor perekonomian perlu menjadi perhatian yang serius di kalangan intelektual Muslim karena kesenjangan ekonomi saat ini makin melebar.

"Ini tanggung jawab intelektual kita, yaitu bagaimana infrastruktur umat ini menggerakan sektor ekonomi," kata dia dalam agenda Halal Bihalal ICMI di Jakarta, Jumat (11/8).

Jimly mengungkapkan, saat ini pengusaha Muslim sangat sedikit. Dari 100 pengusaha terkaya di Indonesia, hanya 10 orang dari kalangan Muslim. Karena itu, menurut dia, dunia perguruan tinggi, riset dan ilmu pengetahuan, tidak hanya harus menyatu dengan kesadaran iman dan taqwa, tapi juga dengan kesadaran ekonomi.

Jimly menambahkan, gerakan ekonomi umat saat ini perlu dipahami sebagai sunnah Rasul yang harus terus digelorakan. Bahkan, perlu ada dukungan agar di tiap masjid ada pengajian yang membahas soal pengembangan ekonomi nasional. "Karena tadi, 100 orang terkaya hanya 10 orang yang Muslim," ujar dia.

Selain itu, kata Jimly, ICMI juga mendorong agar ekonomi syariah bisa terbangun secara masif di kalangan masyarakat. Termasuk juga pengembangan Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) yang menjadi infrastruktur bagi perusahaan mikro dan Badan Usaha Milik Desa. "Jadi harus pada penguasaan ekonomi supaya tidak dikuasai oleh orang lain," kata dia.

Jimly juga memaparkan pandangannya soal kondisi bangsa Indonesia saat ini. Menurut dia, bangsa ini sedang terporosok ke dalam jurang kebebasan yang sangat dalam. Dengan keragaman cara pandang, sejarah dan etnis, maka kebebasan tersebut rawan jika tidak dikontrol.

"Yang menikmati kebebasan itu hanya elit. Kesenjangan 25 tahun terakhir melebar. Maka kita harus promosikan sila kelima itu yang dilupakan orang. Jadi ICMI mengusahakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," kata dia.

Sumber: Republika

(Video) Ini Penjelasan Ustadz Daud Rasyid Terkait Diubahnya Arah Kiblat di Masjid Al-Hikmah New York

(Video) Ini Penjelasan Ustadz Daud Rasyid Terkait Diubahnya Arah Kiblat di Masjid Al-Hikmah New York


10Berita-JAKARTA  - Beberapa waktu yang lalu masyarakat Muslim di Amerika dan Indonesia dihebohkan dengan berita terjadinya konflik di masjid Al-Hikmah New York. Konflik yang sebenarnya berawal dari pertikaian sesama pengurus masjid sejak belasan tahun yang lalu itu, dalam beberapa bulan belakangan semakin memanas.

Salah satu pangkal masalah yang memantik semakin memanasnya konflik di masjid Al-Hikmah New York adalah diubahnya arah kiblat di masjid tersebut oleh imam masjid, ustadz Dr Daud Rasyid.

Akibat diubahnya arah kiblat membuat imam masjid resmi, ustadz Daud Rasyid dianggap sebagai sosok bermasalah yang berujung 'terusirnya' beliau dari masjid tersebut.

Alhamdulillah, Kamis sore kemarin (10/8/2017), Voaislam berkesempatan bersilaturahim dengan beliau sekaligus meminta penjelasan dari beliau tentang perubahan arah kiblat di masjid Al-Hikmah New York.

Berikut video penjelasannya:

[fq]

Sumber: voa-islam

Lynne Penasaran dengan Keistimewaan Shalat

Lynne Penasaran dengan Keistimewaan Shalat

10Berita, JAKARTA -- Sebelum menerima hidayah Islam, Lynne M Mcglynn-Aisha menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai seorang ateis dan agnostik. Pengalaman masa lalu yang kelam sekaligus pahitlah yang membuat perempuan itu menolak keberadaan Tuhan.

Dia berkisah, ketika masih kecil, aku kerap pergi ke gereja. Tetapi aku justru dilecehkan dengan sangat buruk oleh pimpinan gereja setempat selama bertahun-tahun, hingga akhirnya aku lari dari rumah ketika berusia 13 tahun. “Sejak saat itu, aku menjalani hidup sendirian,” tutur Lynne membuka kisah hidupnya.

Awalnya, dia menjalani masa kanak-kanaknya dengan baik. Seperti teman-teman sebayanya kala itu, hari-hari Lynne kecil diisi dengan bermain dan suasana penuh tawa. Namun, semuanya berubah ketika dia menginjak umur enam tahun.

Berbagai peristiwa buruk mulai menimpa hidupnya. Mulai dari pelecahan seksual, hingga berbagai penyiksaan fisik dan verbal yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Semua kenangan mengerikan itu terus membekas dalam ingatan Lynne sampai hari ini. Malang betul nasibnya, belakangan dia mengetahui jika dirinya ternyata anak hasil korban perkosaan. “Kenyataan ini lebih menyakitkan lagi,” katanya memaparkan. 

Sejak lari dari rumah, mulailah Lynne menjalani kerasnya kehidupan jalanan secara berpindah-pindah dari Kanada, Amerika Serikat, sampai ke Meksiko. Semua pekerjaan buruk pun dilakukannya, mulai dari mencuri, menipu, melacur, mengedarkan narkoba, hingga menjadi pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Kehidupan semacam itu dilaluinya selama kurang lebih 10 tahun.

Dalam kurun waktu tersebut, batin Lynne selalu diliputi kegundahan. Nasib buruk seolah-olah tidak mau lepas dari hidupnya. Ketika berada di Meksiko, Lynne sempat masuk bui. Di dalam penjara, dia diperkosa beramai-ramai (gang rape) oleh sejumlah oknum polisi federal setempat.

Dalam keterpurukan, ia mengutuk Tuhan dan tak lagi memercayai keberadaannya. “Selama hidup di jalanan, aku mencapai titik nadir paling rendah dalam hidupku,” ungkapnya. 

Sumber: Republika

Ribuan Santri, Ulama, dan Kiai Aswaja Sambangi DPRD Jatim Tolak Perppu Ormas

Ribuan Santri, Ulama, dan Kiai Aswaja Sambangi DPRD Jatim Tolak Perppu Ormas

10Berita-SURABAYA –Ribuan umat Islam yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ulama Aswaja (FKU) Jawa Timur mendatangi gedung DPRD Jatim menolak Perppu Ormas, Jumat (11/8/2017).

Aksi yang dipimpin oleh KH Joko Santoso dari Ponpes di Mojokerto ini mendesak DPRD Jatim segera meneruskan aspirasi para ulama dan Kiai Jawa Timur pada pemerintah agar segera mencabut Perppu Ormas no 2 tahun 2017.

Para ulama dan kiai Aswaja menilai, Perppu ini akan mengancam kegiatan dakwah Islam dan memberanggus orang-orang yang kritis. Hal ini telah dibuktikan dengan sikap pemerintah yang represif dan otoriter menangkap ulama dan tokoh kritis serta membubarkan Ormas yang berseberangan dengan pemerintah.

KH Qoyyum, biasa dipanggil Abah Qoyum dari Malang menegaskan bahwa Islam memiliki peran besar dalam kemerdekaan bangsa ini, sehingga tak pantas Perppu diarahkan ke ormas Islam.

“Mereka telah berjuang mengusir penjajah di bawah komandan ulama dan kiai. Jangan lupakan sejarah dengan meminggirkan mereka, perannya sangat besar dalam menjaga keberagaman di negeri ini, dan sudah berlangsung puluhan tahun,” pungkasnya.

Aksi yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.00 ini berjalan tertib dan lancar. Aksi diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap dan doa yang disampaikan oleh Kyai Abdul Karim dari Ponpes Baron Nganjuk.

Sumber: Jurnal Islam