OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Senin, 14 Agustus 2017

Yang Baru di Musim Haji 1438 Hijriyah: Melontar Jamarat Kini Diatur Lampu Lalu Lintas

Yang Baru di Musim Haji 1438 Hijriyah: Melontar Jamarat Kini Diatur Lampu Lalu Lintas

10Berita – Kementerian Haji Arab Saudi melalui Muasassah Haji wilayah Asia Tenggara telah menyiapkan sejumlah terobosan dalam pelaksanaan haji 1438 Hijriah. Sejumlah aturan baru diterapkan pada musim haji kali ini guna menghindari situasi yang tidak terkendali saat puncak ibadah haji.

Selain menyiapkan batu untuk melontar para jamaah saat berada di Muzdalifah, lembaga terkait yang berurusan dengan haji di Saudi itu juga akan memasang lampu lalu lintas jemaah di Mina.

Menurut Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama, Sri Ilham Lubis, lampu lalu lintas itu untuk mengendalikan pergerakan jemaah haji saat melontar jumrah bagi jemaah haji di setiap maktab.

“Jadi ada lampu semacam traffic light (lampu lalu lintas): ada merah, kuning, hijau,” ujar Sri Ilham saat ditemui di Bandara International King Abdul Azis pada Sabtu, 12 Agustus 2017.

Saat lampu berwarna hijau menyala, kata Sri Ilham, jemaah dibolehkan masuk dan melontar jumrah. Jika warna kuning yang menyala, berarti sudah ada peringatan kepada jemaah untuk berhenti berjalan. Saat lampu merah yang menyala, jemaah diwajibkan berhenti. Petugas akan mengunci pintu gerbang sehingga jemaah tidak akan bisa masuk untuk melontar jumrah.

Untuk membantu kelancaran jalannya ibadah haji di Mina, Kemenag mensiagakan dua petugas dari Panitia Pelaksana Ibadah Haji yang akan ikut mengatur pergerakan jemaah.

Saat puncak haji, kawasan Mina menjadi salah satu titik konsentrasi petugas. Akan ada petugas terlatih, unsur perlindungan jemaah maupun tim kesehatan, yang dikerahkan di wilayah itu untuk memberikan keamanan kepada jemaah.

Selain itu, Muasassah Haji wilayah Asia Tenggara juga akan menyiapkan jasa dorong kursi roda bagi jemaah haji Indonesia. Pasalnya, banyak jemaah calon haji Indonesia berusia lanjut dan masuk dalam kategori risiko tinggi.

Muasassah juga akan memberikan 50 sepeda motor yang khusus digunakan untuk berpatroli bagi jemaah. Sepeda motor itu untuk membantu jemaah haji yang mulai kelelahan. Kedua fasilitas itu akan disediakan di Mina.

Puncak ibadah haji diperkirakan berlangsung pada 9 sampai 13 Dzulhijjah atau 1 sampai 5 September 2017. (VN/Ram)

Sumber: Eramuslim

Inilah Sebabnya Mengapa Orang Kafir dan Sekuler Takut dengan Kekhilafahan

Inilah Sebabnya Mengapa Orang Kafir dan Sekuler Takut dengan Kekhilafahan


10Berita~Ketua Bidang Dakwah dan Kader FUI, Ustadz Abu Saad menerangkan alasan orang kafir dan sekuler takut dengan kekhilafahan. Meski aktivis pejuang khilafah tidak menggunakan senjata.

"Mengapa mereka takut dengan khilafah, padahal pejuangnya tidak menggunakan kekerasan? Mereka takut khilafah karena khilafah bagian dari ideologi Islam," katanya saat mengisi kajian Mabit, di Masjid Al Falah Pejompongan, Jakarta, Sabtu Malam (12/8/2017).

Menurut Abu Saad, bila Kekhilafahan Islam tegak, kapitalisme akan disingkirkan. Hal ini yang tidak diinginkan kalangan liberal dan sekuler.

"Karena khilafah itu menjaga keberlangsungan kehidupan Islam, termasuk ideologinya. Oleh karena itu, mereka takut khilafah tegak," kata Abu Saad.

Sebelumnya, Ustadz Abu Saad menerangkan perbedaan pokok ideologi Islam dan Kapitalisme. Dalam pandangannya, Islam dan kapitalisme memiliki perbedaan pokok saat memandang kehidupan akhirat.

"Islam mengatur urusan dunia dan akhirat. Kapitalis tidak mengatur urusan akhirat," ujarnya.

Akan tetapi, di saat kapitalisme ingin memasuki ranah akhirat. Maka, kapitalisme meminjam dari agama-agama yang ada. "Kapitalis sendiri tidak memiliki agama,"cetusnya.[] 

Sumber : voa-islam.com

 

Pemuda Muhammadiyah Usul Penggunaan Kata “Koruptor” Diubah Jadi “Maling”, Kalian Setuju?

Pemuda Muhammadiyah Usul Penggunaan Kata “Koruptor” Diubah Jadi “Maling”, Kalian Setuju?


10Berita - Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengusulkan nomenklatur atau penggunaan kata "koruptor" diubah menjadi "maling".

Menurut Dahnil, penggunaan kata "maling" lebih mudah dipahami oleh berbagai lapisan di masyarakat.

"Kami ingin mendorong publik untuk mengganti nomenklatur koruptor dengan kata yang mudah dipahami budaya Indonesia, yaitu 'maling'," kata Dahnil dalam pidatonya saat pembukaan Konvensi Antikorupsi 2016 di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (17/6/2016).

Dahnil melanjutkan, penggunaan kata "koruptor" terkesan elitis bagi sebagian masyarakat. Dengan menggunakan kata "maling", maka masyarakat akan lebih memahami makna dan akibat dari yang ditimbulkan oleh koruptor.

Dahnil juga mengusulkan agar awak media menggunakan kata "maling" dalam pemberitaan mengenai perilaku korupsi. Ia bahkan juga mengusulkan perubahan nama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Kalau ada revisi Undang-Undang KPK, kami usulkan ganti nama KPK jadi Komisi Pemberantasan Maling (KPM)," ucap dia.

Dahnil mengatakan, melawan korupsi perlu dilakukan dengan tindakan kebudayaan.

"Jenazah koruptor tidak perlu dishalatkan. Itu ekspresi kebencian terhadap koruptor. Dulu Rasul pernah melakukan itu juga," tutur dia.

Ia berharap Konvensi Antikorupsi 2016 dapat memberikan manfaat di masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi di masa datang. Pemberantasan korupsi, kata dia, bisa dilakukan dimulai dari diri sendiri.

Acara pembukaan Konvensi Anti Korupsi 2016 dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo, Bupati Bojonegoro Suyoto, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli.

Hadir pula Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Muhammad Nasir Djamil, Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Mantan ketua PP Muhammadiyah Teguh Santosa, Koordinator ICW Adnan Topan Husodo.

Sumber : umatuna.com

Kesuksesan Timur Lenk dan Jatuhnya Dinasti Timuriyah

Kesuksesan Timur Lenk dan Jatuhnya Dinasti Timuriyah

10Berita, JAKARTA -- Timur Lenk memang dikenang sebagai pemimpin yang sukses. Dalam tempo 35 tahun, dia bersama pasukannya berhasil menaklukkan seluruh Asia Tengah yang mencakup wilayah Iran, Irak, bagian selatan Rusia, hingga utara India. Luas wilayah keseluruhan yang dikuasai mencapai 4,4 juta km persegi.

“Tidak sampai di situ saja, dalam ekspedisi mereka ke arah barat, antara 1400-1402, pasukan Timuriyah juga mengalahkan tentara Mamluk di Suriah dan Ottoman di Angora (Ankara),” tulis peneliti dari Museum Kesenian Metropolitan, Suzan Yalman, dalam artikelnya “The Art of the Timurid Period (1370-1507 M)”.

Timur Lenk meninggal dunia pada 1405, ketika dia dan tentaranya tengah mempersiapkan rencana untuk menyerang Tiongkok. Tetapi, bakat dan kepiawaiannya memimpin negara itu tidak diwarisi oleh para penguasa Timuriyah periode pasca-Timur Lenk.

Takhta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putra bungsu Timur Lenk, Shahrukh Mirza, yang memerintah sejak 1405-1447. Namun, raja yang baru ini ternyata tidak mampu menjaga pencapaian yang sudah ditorehkan ayahnya.

Sejumlah wilayah barat yang telah dikuasai sebelumnya jatuh ke tangan kelompok Kara Koyunlu dari suku Turkmen. Tidak hanya itu, beberapa pangeran Timuriyah berikutnya juga terlibat perselisihan internal sehingga mereka pun berusaha membangun kerajaan sendiri-sendiri.

Kondisi tersebut ikut melemahkan kekaisaran dari dalam. Pada akhirnya, hanya Khurasan dan Transoksiana yang tetap berada dalam kekuasaan Timuriyah. “Selepas periode Shahrukh Mirza, dinasti ini diperintah oleh anggota keluarga Timuriyah dalam wilayah yang terpisah-pisah,” tutur Yalman.

Sumber: Republika

Kurang Kerjaan, Seorang Netizen Jual Masjid Raya di Facebook Bikin Resah

Kurang Kerjaan, Seorang Netizen Jual Masjid Raya di Facebook Bikin Resah


10Berita - Sebuah akun facebook bernama ‘Hengky Khimbie’ yang memposting soal Mesjid Raya Singkawang mau dijual, membuat heboh dan resah masyarakat Singkawang.

Adapun isi dari postingan tersebut, “Di jual tak dipakai lagi Nego”. Alhasil, postingan itupun mendapat banyak komentar dari netizen.

Polres Singkawang pun tak tinggal diam. Mereka langsung melacak siapa pemilik akun tersebut.

Tim Humas Polres singkawang bersama Kanit Reskrim Polsek Singkawang Barat pun berhasil menemui saudara Afo pemilik foto di akun itu dan mengklarifikasi yang mana foto yang bersangkutan digunakan pada akun facebook Hengky Khimbie adalah bukan dirinya.

Disampaikan pula bahwa akun yang bernama Hengky Khimbie yang telah memposting “masjid raya singkawang dijual” merupakan akun palsu.

Kapolres Singkawang,Kalimantan Barat, AKBP Sandi Alfadien Mustofa menyatakan masih melakukan penyelidikan terhadap pengguna media sosial facebook yang ingin menjual Masjid Raya Singkawang itu.

“Ini kita masih melakukan penyelidikan dan anggota lagi mengumpulkan data-data soal postingan yang dimaksud,” kata Sandi di Singkawag.

Dia berpesan masyarakat jangan main hakim sendiri dan agar masalah tersebut dapat diserahkan ke kepada polisi, karena belum tentu yang bersangkutan yang membuat postingan tersebut, ujarnya.

Salah satu panitia Mesjid Raya Singkawang, H Ruslan Karim mengatakan, jika pihaknya tidak pernah mau menjual mesjid tersebut.

“Sepertinya ada pihak-pihak yang ingin memancing umat Islam supaya menjadi terganggu,” kata Ruslan.

Maka dari itu, dirinya meminta kepada pihak berwajib untuk bergerak cepat menindaklanjuti hal tersebut.

“Paling tidak polisi bisa mempertanyakan kepada yang bersangkutan apa kira-kira motif dan misinya seperti itu,” tuturnya.

Sumber: www.beritaislamterbaru.org

Janji Kini Mudah Diobral

Janji Kini Mudah Diobral

10Berita, JAKARTA -- Kita rindu sosok Anas bin an-Nadhr, ketika sumpahnya atas nama Allah ia tepati. Meski dengan rasa sakit yang mendera sekujur tubuh. Lantas kita bertanya, apa kabar sumpah para petinggi negeri ini? Bukankah mereka sudah disumpah lewat lisan mereka atas nama Allah? Lantas kenapa satu per satu janji-janji itu seperti hilang dengan segala pemakluman.

Janji kini menjadi barang yang teramat mudah diobral. Nilainya sudah sangat rendah seperti guyonan sia-sia di televisi. Jika orang berjanji, yang dijanjikan pun sudah maklum dengan segala pengingkaran. Alih-alih mengingatkan, kita justru memberi label tidak mengapa. Toh kita melakukannya juga.

Janji kadang menjadi sesuatu yang teramat berat. Berat untuk diwujudkan dalam amal. Mengobral janji dan menunaikan janji bukan lagi paket yang erat saling melengkapi. Mereka kini bercerai atas nama kepentingan. Mengobral janji dahulu, ingkar janji kemudian.

Janji kadang menjadi tak berbeda dengan barang-barang di museum. Janji adalah sesuatu yang langka. Jika ada yang sangat tepat janji, ia akan dianggap aneh. Padahal, janji adalah ucapan yang jika dilanggar, kafarat menanti. Terlebih jika ia melibatkan Allah dalam sumpah.

Namun, kita sangat menikmati dengan obral janji ini. Kita sudah merasa cukup dengan janji. Sehingga memberi kesempatan kepada para penjanji culas yang memang tidak pernah berniat menepatinya. Jangan-jangan kita adalah sang culas itu. Yang akan menimang-nimang kondisi keuangan dan kelapangan sebelum berjanji.

Adakah kita termasuk yang disebutkan Imam Ghazali, “Diri itu kadang murah hati dengan janji karena tidak ada kesulitan dan ongkos menunaikannya ringan. Namun jika kedudukan diraih, berkobar nafsu syahwatnya maka janjinya tidak ditepati.” Benarlah sang hujjatul Islam menilai diri kita. Kita memperhitungkan semua kondisi. Jika lapang dan sedang ingin meraih sesuatu, kita janjikan banyak hal. Jika sudah di tangan, entah apa kita masih ingat, apa yang terucap dari bibir kita dahulu.

Maka lihatlah sosok Mush'ab bin Umair yang tubuhnya terbaring kaku dalam Perang Uhud. Pemuda tampan yang menjadi idola Makkah ini memilih meninggalkan kesenangan dunia bersama kaum musyrik menuju cahaya Islam nan benderang. Lihatlah akhir hayatnya. Pemuda yang kaya, wangi nan bersih itu bahkan tidak memiliki kain kafan untuk menutupi jasadnya. Ia syahid saat membawa panji pasukan dalam Perang Uhud.

Rasulullah bersedih, kemudian membacakan ayat, “Ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu.” (QS al-Ahzab [33]: 23).

Sumber: Republika

Ustadz Farid Okbah: Islam Adalah Agama Paling Toleran

Ustadz Farid Okbah: Islam Adalah Agama Paling Toleran


10Berita, Bekasi – Pembina Lembaga Infaq Dakwah Center (IDC), Ustadz Farid Ahmad Okbah mengatakan bahwa Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi sifat toleran. Hal tersebut ia ungkapkan karena menurutnya, saat ini umat Islam sering disebut sebagai agama yang anti toleransi.

“Maka perhatikan perintah Allah yang dilakukan oleh Rasulullah, Allah mengajarkan kepada kita semua, lakum dinukum wa liyaddin kita punya agama kita laksanakan, kalian punya agama silahkan laksanakan agama kalian,” ujarnya dalam acara Tabligh Akbar dan solidaritas korban terduga pencurian amplifier di Masjid Nurul Islam, Islamic Center Bekasi pada Ahad, (13/08).

“Ini merupakan bentu toleransi yang sangat tinggi dalam islam,” tambahnya.

Ia menerangkan toleransi umat Islam dalam konteks agama. “Makanya kita bilang pada umat yang lain (selain Islam), jangan kalian ajarkan toleransi kepada kami, kami umat Islam mengakui nabi kalian sebagai nabi kami, nabi Musa, nabi Isa, tapi apakah kalian mau mengakui nabi kami Muhammad sebagai nabi kalian juga?” terangnya.

Ulama anggota persatuan Ulama Muslim Sedunia (Ittihad Ulama Muslimin) tersebut juga mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama Islam.

Ia menjelskan seluruh kaum Muslimin yang memilih untuk memeluk Islam adalah buah dari hidayah Allah. Tugas dai hanyalah untuk menyeru, memberi kabar bagi mereka yang belum mengetahui tentang agama Islam. Soal ingin memeluk Islam atau tidak, itu urusan hidayah Allah SWT.

“Tidak ada paksaan dalam agama kami, tapi kalian jangan sekali-kali memaksakan agama kalian kepada kami, maka kami akan halau kalian semua,” ungkapnya.

 

Reporter: Reno Alfian
Editor: Fajar Shadiq

Sumber:  Kiblat.


Penyiram Bensin ke Tubuh Zoya Ditangkap Setelah Ditembak Kakinya,Ternyata Dia Yang Beli Bensin Menyriam dan Membakar

Penyiram Bensin ke Tubuh Zoya Ditangkap Setelah Ditembak Kakinya,Ternyata Dia Yang Beli Bensin Menyriam dan Membakar


10Berita~Masih ingat dengan sosok pria penyiram bensin yang fotonya viral dan diburu polisi? Pria ini sudah berhasil ditangkap pada Rabu (9/8/2017) dan terungkap peran 'mengerikannya'.

Pria berinisial SD (27), pada screenshoot video YouTube yang beredar tampak fotonya sedang menyiramkan bensin jenis Pertamax di tubuh Muhammad Al Zahra (Zoya) tukang servis amplifier yang dituding mencuri.

Saat dituangkan bensin ke tubuhnya Zoya masih hidup meski sudah menjadi bulan-bulanan massa, ia pun akhirnya tewas mengenaskan.

Polisi mengatakan dalam tragedi pembakaran di Babelan ini SD memiliki peran yang mengerikan, ia pembeli bensin, penyiram bensin dan sekaligus pembakar Zoya.

"Terpaksa SD harus kami tindak tegas dengan menembak kakinya," ujar Kapolres Kabupaten Bekasi Kombes Asep Adi Saputra di Mapolda Metro Jaya, Rabu (9/8/2017) seperti dikutip dari Kompas.com.

Menurut polisi SD terpaksa ditembak kakinya karena berupaya melarikan diri saat polisi datangi tempat persembunyiannya.

"Dia kami tangkap di tempat persembunyiannya di Pandeglang, Banten tadi malam," kata Asep.

Foto penyiram bensin viral akibat ulah iseng

Awalnya seorang netizen mengaku iseng-iseng buka YouTubedan menemukan sosok penyiram bensin ke tubuh Zoya.

Fotonya lantas viral dan ternyata polisi sedang memburunya.

Pria tersebut menggunakan kaus warna putih dengan dengan lengan hijau. Celana pendek dan topi warna cokelat.

Tampak pria ini tanpa ragu menyiramkan bensin jenis Pertamax ke tubuh Muhammda Al Zahra (Zoya).

Dari video dan sceernshot ini akhirnya polisi berhasil menangka SD.

Menurut keterangan Kapolres Metro Bekasi Komisaris Besar Asep Adisaputra, pihaknya telah memeriksa sembilan saksi di lokasi kejadian pengeroyokan berujung kematian Zoya.

Selain SD sudah diamankan 4 pelaku kalinnya yakni SU (40), NA (39), AL (18) dan KR (55) dan sudah lebih dulu ditahan.

Mereka dijerat Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Muhammad Al Zahra alias Joya atau Zoya (30) warga Kampung Jati RT 04/05, Desa Cikarang Kota, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tewas dibakar massa yang marah karena dituduh mencuri ampli Musola.

Sementara itu di akhir napas Zoya terhenti ada tiga kata yang diucapkan, kata tersebut merujuk pada ucapan yang artinya kalau ia tidak mencuri. ()

Sumber: Tribunnews

Wanita yang Hijrah Dua Kali

Wanita yang Hijrah Dua Kali

10Berita, JAKARTA -- Nama lengkapnya Asma binti Umais bin Ma'd bin Tamim bin al Haris bin Ka'ab Malik bin Quhafah. Namun, ia biasa dipanggil dengan Ummu Abdillah. Umais seperti yang dikisahkan dalam 100 Muslim Terhebat memiliki sikap teguh laksana gunung. Beliau dalam sejarah dikenal sebagai sahabiyah yang tidak memiliki keraguan dan kebimbangan.

Asma adalah istri Jafar bin Abu Thalib RA. Asma termasuk wanita pertama yang ikut berhijrah. Asma turut berhijrah bersama suaminya menuju Habasyah. Ia rela merasakan pahit getir hidup di pengasingan. Suaminya Jafar adalah juru bicara kaum Muslimin saat mengadap Raja Habasyah, An Najasyi.

Di Habasyah, Asma melahirkan tiga putra, yakni Abdullah, Muhammad, dan Aunan. Abdullah sangat mirip dengan ayahnya. Jafar sendiri yang masih sepupu dengan Nabi disebut mirip dengan Beliau SAW. Hal ini yang menggembirakan hati Asma.

Ketika Rasulullah SAW memerintahkan kaum Muslimin hijrah ke Madinah, kabar ini sampai ke kaum Muslimin di Habasyah. Mereka menyambut berita ini dengan gembira. Karena mereka akan bergabung dengan kaum Muslimin yang diterima di tanah Yatsrib.

Namun, baru pada tahun ketujuh Hijriyah, Asma bersama Jafar dan kaum Muslimin di Habasyah menyusul kaum Muhajirin ke Madinah. Saat rombongan kaum Muslimin dari Habasyah datang, kebetulan Rasulullah SAW baru saja pulang dari Khaibar. Beliau sangat gembira bertemu dengan Jafar sehingga karena kegembiraannya Beliau berkata, “Aku tidak tahu mana yang menyebabkan aku gembira, apakah karena kemenangan di Khaibar atau karena kedatangan Jafar?”

Asma lalu masuk ke rumah Hafsah binti Umar. Tatkala itu Umar masuk ke rumah Hafsah, sedangkan Asma berada di sisinya. Lalu Umar bertanya kepada Hafsah, siapakah wanita ini? Hafsah menjawab dia adalah Asma binti Umais. Lalu Umar bertanya lagi, “Inikah wanita yang datang dari negeri Habsyi di seberang lautan?” Asma menjawab sendiri, “Benar”.

Umar kembali berkata, “Kami telah mendahului kalian berhijrah bersama Rasulullah SAW, maka kami berhak terhadap diri Rasulullah daripada kalian.”

Mendengar perkataan itu Asma tidak kuasa menahan gejolak jiwanya sehingga ia berkata, “Demi Allah tidak. Kalian tidak bersama Rasulullah SAW, sedangkan Beliau memberi makan kepada yang kelaparan di antara kalian dan mengajarkan bagi yang masih bodoh di antara kalian. Adapun kami di suatu negeri atau bumi yang jauh dan tidak disukai, yakni Habsyi, dan semua itu ada demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Asma diam sejenak kemudian berkata, “Demi Allah aku tidak makan dan minum sehingga aku laporkan hal ini kepada Rasulullah SAW”. 

Tatkala Rasulullah datang maka Asma berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Umar berkata begini begitu”. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Umar apa yang telah dikatakan kepada Asma. Umar menjawab, “Aku mengatakan begini begitu.”

Rasulullah berkata kepada Asma, “Tidak ada seorang pun memiliki diriku melebihi kalian. Adapun ia (Umar) dan para sahabat berhijrah satu kali, tetapi kalian telah berhijrah dua kali.”

Mendengarkan pernyataan berbunga-bunga, hati Asma sangat gembira. Lalu ia sebarkan berita tersebut kepada khalayak hingga orang-orang mengerumuninya untuk meminta penjelasan lebih lengkap tentang kabar tersebut.

Sumber: Republika

Tepatilah Janji

Tepatilah Janji

10Berita, JAKARTA-- Orang lebih mengenal nama keponakannya, Anas bin Malik. Pembantu Rasulullah SAW yang hidup dalam kemuliaan. Tumbuh bersama orang terbaik di atas bumi, menyerap ilmu dari Nabi Muhammad SAW dan meriwayatkan beribu hadis. Namun, kali ini adalah kisah Anas yang lain.

Kisah paman Anas bin Malik, Anas bin an-Nadhr. Tidak banyak tulisan yang mengurai kepahlawanan Anas bin an-Nadhr. Tapi, sungguh ia adalah golongan dari orang-orang yang menepati janjinya.

Betapa kecewanya perasaan Anas bin an-Nadhr karena tertinggal dalam Perang Badar. Ahlul Badar yang mendapat keistimewaan tidak didapatinya. Bertapa gundah hatinya karena ia tidak bisa membela kaum Muslimin yang masih berjumlah sedikit itu.

Kekecewaannya begitu menusuk kalbu. Ia seakan menyalahkan diri sendiri sepanjang waktu. Padahal, jihad adalah amal tertinggi dalam syariat Allah. Tak kuasa hatinya hingga suatu saat ia berujar. “Aku tidak hadir pada tempat pertama gugurnya orang mati syahid yang diikuti Rasulullah. Dan sungguh Demi Allah, jika saja Allah memperlihatkan kepadaku tempat gugurnya orang yang mati syahid beserta Rasulullah, niscaya Allah akan melihat apa yang aku perbuat,” tegas Anas bin an-Nadhr.

Sebuah janji telah terucap, sebuah sumpah telah menggema. Sebuah keinginan untuk mati. Siapakah yang menginginkan kematian? Namun, Anas mengejar kematian itu dengan sumpah. Tak bisa dicabut, tak akan dilanggar. Kemudian Allah benar-benar menghadirkan situasi bagi Anas untuk menunaikan janjinya.

Kemudian, Anas bin an-Nadhr mengikuti Perang Uhud bersama pasukan Rasulullah SAW. Saat perang berkecamuk, Sa'ad bin Muadz melihat sosok Anas tak mempedulikan musuh. Ia menerjang kaum kafir Quraisy dengan gagah berani. Lantas Sa'ad menyeru ke Anas, “Wahai Abu Amr, hendak ke mana engkau?” Anas menjawab, “Aduhai bau surga ada di depan Uhud.” Lantas, ia terus menerjang musuh hingga syahid menyambutnya.

Saat ditemukan, di sekujur tubuhnya ada lebih dari delapan puluh bekas panah, pukulan, dan tusukan. Imam al-Ghazali dalam ihya ulumuddin menyambung kisah ini, maka turunlah ayat. “Ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 23).

Itulah lelaki yang menepati apa yang ia ucapkan. Kita sungguh rindu sosok-sosok seperti Anas bin an-Nadhr. Sumpahnya tidak mudah. Ia mencari syahid. Sedangkan kita, kadang hanya berjanji untuk tepat waktu, meyakinkan akan melakukan ini dan itu dengan baik. Namun, kita sering dan sengaja mengingkari apa yang kita ucapkan.

Sumber:Republika