OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 24 Januari 2018

Menghindari Indonesia dari Kehancuran

Menghindari Indonesia dari Kehancuran


10Berita  – Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar. Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.

Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali peperangan besar. Pada setiap kali terjadi peperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.

Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia. Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

1. Hancurkan tatanan keluarga.
2. Hancurkan pendidikan.
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan.

Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu. Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.

Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Hal ini dilakukan dengan mengurangi penghargaan terhadap mereka, mengalihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.

Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan rohaniwan/ulama adalah dengan cara melibatkan mereka ke dalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.

Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur? Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah. Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.

Diadaptasi dari tulisan Jarred Diamond, penulis yang memperoleh penghargaan Pulitzer. Dalam sebuah pidatonya Jarred pernah mengatakan bahwa negara seperti: Indonesia, Columbia dan Philipina, merupakan beberapa peradaban yang sebentar lagi akan punah.

*Tidak ada kata TERLAMBAT dan masih ada waktu….*

*Mari kita selamatkan negeri ini dengan kapasitas masing-masing terutama diawali dari diri sendiri, lalu keluarga dan komunitas…*

*Mari teruskan untuk Indonesia tercinta.* [kl/theglobalreview]

Penulis: Agung Nugroho, Penggiat Budaya

Sumber : Eramuslim 

Mahfud MD: Alhamdulillah, Pak Zul Memantik Soal LGBT

Mahfud MD: Alhamdulillah, Pak Zul Memantik Soal LGBT

10Berita, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengaku bersyukur Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan mengeluarkan pernyataan kontroversial soal lima fraksi di DPR mendukung lesbian, gay, biseksual, dan transgenser atau LGBT. Gara-gara heboh Zulkifli, semua serempak menolak perilaku seksual LGBT.

"Alhamdulillah, selama tiga hari ini ramai (soal LGBT) setelah Pak Zul memantik dari Surabaya, semuanya DPR (bilang) enggak-enggak, kami semua anti-LGBT," kata Mahfud dalam Indonesia Lawyers Club di tvOne pada Selasa malam, 23 Januari 2018.

Pembahasan soal perilaku seksual LGBT, terang Mahfud, adalah satu dari sebelas rancangan undang-undang yang tertunda bahas dalam waktu cukup lama karena menimbulkan banyak perdebatan.

Di DPR, klausul LGBT tertuang dan dibahas dalan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. "Dan alhamdulillah, sekarang di sini sudah selesai, itu kan bagus," terang pakar hukum tata negara itu.

Guru besar Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu menjelaskan, polemik LGBT dalam diskursus perundang-undangan sebetulnya sudah lama terjadi. "Bukan hanya sekarang, tapi tiga puluh tahun lalu sudah dibahas soal LGBT, arti perzinahan, bahkan soal tuyul," ujarnya.

Sama dengan sekarang, dulu yang dipersoalkan bukan soal orangnya yang masuk kategori LGBT, tetapi perilaku seksualnya yang menyimpang. Mahfud juga sepakat yang ditolak adalah perilaku seksualnya yang menyimpang, bukan LGBT.

"Dulu juga dibahas soal LGBT, tapi perilakunya bukan orangnya," terang Mahfud.

Senada, Sosiolog dari Universitas Ibnu Choldun, Musni Umar, mengatakan bahwa pernyataan Zulkifli soal LGBT menyadarkan seluruh elemen bangsa bahwa ancaman LGBT harus diantisipasi. Semua pihak harus menolak.

"Karena beliaulah yang menyadarkan seluruh masyarakat bahwa LGBT itu berbahaya," ujarnya.

Seperti diberitakan, polemik LGBT mencuat kembali setelah Ketua MPR Zulkifli Hasan menyatakan ada lima fraksi di DPR yang setuju LGBT. Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu menyampaikan itu saat berpidato di hadapan ibu-ibu dalan Tanwir Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu, 20 Januari 2018.

Sumber : viva.co.id

Said Didu: Zulhas Sedang Berjuang Lawan Arus Deras Kaum LGBT Lewat Jalur Politik!

Said Didu: Zulhas Sedang Berjuang Lawan Arus Deras Kaum LGBT Lewat Jalur Politik!


10Berita – Desakan agar Ketua MPR Zulkifli Hasan mengklarifikasi pernyataan soal “parpol pendukung LGBT” semakin menguat. Bahkan tuduhan negatif mengarah kepada Ketum PAN itu. Zulkifli Hasan (Zulhas) dituding telah memanfaatkan isu LGBT untuk kepentingan politik.

Namun demikian, tidak sedikit yang mendukung langkah Zulhas tersebut. Salah satunya adalah mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu.

Said Didu meyakini, saat memberikan pernyataan soal LGBT, Zulhas sedang berjuang melawan arus deras perjuangan LGBT lewat jalur politik. Zulhal memilih untuk melawan demi masa depan NKRI.

“Saya kenal lama dan tahu karakter Pak @ZUL_Hasan, sehingga saat melempar tentang LGBT saya yakin bahwa Beliau sedang berjuang melawan arus deras perjuangan LGBT lewat jalur politik dan beliau memilih untuk melawan demi masa depan NKRI. Terus berjuang Bang Zul,” tegas Said Didu di akun Twitter @saididu.

Soal pernyataan Zulhas, Said Didu mengaku sudah mendapat penjelasan, mengapa masalah Parpol pendukung LGBT dibuka ke publik.

“Saya sudah dapat penjelasan kenapa hal tersebut dibuka ke publik – tapi infonya tidak untuk publik,” kata @saididu membalas komentar akun @Ace_Taniwijaya.

@Ace_Taniwijaya sebelumnya menulis: “Sebaiknya pak @ZUL_Hasan sendiri yang mengklarifikasi di media elektronik dan media cetak tentang LGBT waktu pidato agar nggak meresahin publik. Jangan suruh fungsionaris partainya supaya persoalan ini clear. Gimana prof @saididu?”

Sebelumnya Rektor Universitas Ibnu Chaldul (UIC) Jakarta, Musni Umar, turut memberikan apresiasi kepada Zulkifli Hasan.

“Selaku Sosiolog dan Rektor Univ. Ibnu Chaldun Jakarta memberi apresiasi kepada Ketua MPR RI yang membuka tabir tentang LGBT dalam pembahasan RUU Hukum Pidana. Jika bukan Ketua MPR yang buka masalah LGBT, publik tidak tahu. Alhamdulillah Sekarang banyak parpol yang mengaku tidak dukung LGBT,” tulis Musni Umar di akun Twitter @musniumar.

Menurut Musni, jika sudah ribut di publik, pimpinan partai politik tidak ada yang berani secara terbuka dukung LGBT, khawatir rakyat tidak memilih partai yang dipimpinnya.

“Kalau sudah ribut di publik, pimpinan partai politik tidak ada yang berani secara terbuka dukung LGBT khawatir rakyat tidak pilih partai mereka,” tegas @musniumar.

Soal pernyataan Zulhas, Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong meyakini Zulkifli Hasan tak asal sembarangan menyebut ada lima fraksi yang mendukung LGBT.

Ali yakin Zulkifli Hasan mempunyai data yang tepat terkait hal tersebut sehingga Zul yakin Ketua Umum PAN itu tidak asal bicara.(kl/ito)

Sumber : Eramuslim 

Setelah Qatar, Giliran Belanda Dukung Operasi Militer Turki di Afrin Suriah

Setelah Qatar, Giliran Belanda Dukung Operasi Militer Turki di Afrin Suriah

Menlu Belanda, Halbe Zijlstra. (aa.com.tr/ar)

10Berita – Amsterdam. Menteri Luat Negeri (Menlu) Belanda, Halbe Zijlstra, turut berkomentar atas operasi militer yang dilakukan Turki di kota Afrin, Utara Suriah. Menurutnya, ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa Turki mengalami serangan teror yang hebat.

Dilansir dari aa.com.tr/ar, Rabu (24/01/2018), Zijlstra juga menyebut operasi ‘Ranting Zaitun’ sesuai dengan hukum internasional. Ia menegaskan, negaranya sama sekali tidak mendukung milisi PYD yang menjadi salah satu  fokus dalam operasi Turki itu.

“(Operasi Ranting Zaitun, red) bukan pertentangan antara Turki dan Kurdi. Milisi PYD tidak dapat lepas tangan. Turki telah mengalami serangan teror yang dahsyat, dan mereka punya hak untuk membela diri,” imbuh Zijlstra di hadapan Parlemen Belanda.

Lebih lanjut, Menlu Belanda  itu juga menyebut Turki punya hak membela diri sebagaimana diatur dalam pasal 51 dari Piagam PBB. Pasal itu mengatur hak pembelaan diri suatu negara dalam menghadapi ancaman teroris.

Zijlstra menambahkan, “Ada ikatan kuat antara PYD dan PKK yang masuk ke dalam daftar teroris di Belanda maupun Uni Eropa.”

Sebelumnya, loyalis PYD/PKK melakukan serangan teror di kota Rotterdam pada Senin (22/01) malam waktu setempat. Hal ini berdasarkan keterangan dari Pelayanan Sosial dan Keagamaan, sebuah organisasi sipil milik rakyat Turki di Belanda.

Operasi “Ranting Zaitun” secara resmi diluncurkan oleh otoritas militer Turki pada Sabtu (21/01) sore waktu setempat. Sejauh ini, pihak militer mengklaim telah melakukan penyerangan terhadap 153 titik yang disinyalir milik organisasi teroris tersebut.

Militer Turki juga menyebut operasi Ranting Zaitun ini telah sesuai dengan hukum internasional dan resolusi DK PBB mengenai pemberantasan teroris. “Turki juga berhak membela diri sebagaimana dimaksud dalam pasal 51 Konvensi PBB dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah,” lanjutnya. (whc/)

Sumber: Anadolu Ajansı Arab,
dakwatuna

Mantap, Ini Serangan Mematikan Fahira Idris di ILC Pada Eks Ratu Waria yang Ngeles Tak Menuntut Pelegalan Pernikahan Sejenis

 

Mantap, Ini Serangan Mematikan Fahira Idris di ILC Pada Eks Ratu Waria yang Ngeles Tak Menuntut Pelegalan Pernikahan Sejenis


10Berita, Senator Dewan Perwakilan Daerah, Fahira Idris, memperingatkan masyarakat dan para pemangku kebijakan agar tak memberikan kelonggaran aturan bagi pelaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT.

Ketua Komite III DPD itu berpendapat, sudah semestinya DPR menolak mengakomodasi atau bahkan melegalkan praktik LGBT di Indonesia melalui undang-undang. Alasannya, sekali undang-undang melegalkan LGBT, pastilah ada tuntutan lanjutan, yakni pengesahan pernikahan sejenis.

"Undang-undang yang longgar untuk LGBT sebenarnya menjadi pintu besar untuk (pelegalan) pernikahan sejenis," kata Fahira dalam program Indonesia Lawyers Club tvOne pada Selasa, 23 Januari 2018.

Dia mencontohkan kasus di Amerika Serikat. Di negara itu, katanya, pada era 1960-an, LGBT masih dianggap praktik ilegal. Lalu setelah itu LGBT dilegalkan dan akhirnya pada 2015 disahkan pernikahan sejenis. Begitu pula yang terjadi di Inggris: LGBT ilegal pada era 1960-an dan kemudian disahkan undang-undang pernikahan sejenis pada 2013.

Fahira membeberkan contoh itu sebagai peringatan bagi Indonesia, terutama ketika tampak gerakan atau upaya melegalkan LGBT. Sebenarnya, menurut dia, gerakan itu mengandung misi serupa seperti di Amerika dan Inggris serta di negara-negara lain yang telah melegalkan pernikahan sejenis. "Tidak mungkin satu gerakan tidak mempunyai target."

Dia dalam kesempatan itu juga merespons pernyataan Merlyn Sopjan, Ratu Kecantikan Putri Waria Indonesia 2006, yang menyebut bahwa kaumnya tak pernah menuntut pelegalan pernikahan sejenis.

Fahira menganggap pernyataan itu sebagai cerminan sikap polos atau lugu Merlyn, meski telah cukup lama bergiat di bidang kesetaraan kaum LGBT. "Saya kira, Mbak Merlyn ini kurang baca, mungkin terlalu polos."[] 

Sumber : viva.co.id, www.tribunislam.com

MUI: Kita Jangan Dibuat Pintu Masuk Bagi LGBT

MUI: Kita Jangan Dibuat Pintu Masuk Bagi LGBT

Intinya MUI ingin perluasan makna dari zina.

10Berita , JAKARTA --  MUI mengusulkan beberapa perubahan terkait pembahasan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) di DPR. Salah satunya, MUI mengusulkan kepada DPR dan pemerintah untuk memperluas pasal zina.

Menurut Ketua Bidang Hukum dan Perundang-Undangan MUI, Basri Bermanda, usulan ini dikemukakan agar Indonesia tidak membukakan pintu masuk buat kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender(LGBT). "Kita jangan buat pintu masuk bagi LGBT. Karena, kalau tidak ada penjelasan yang luas (tentang zina) itu bisa dimaknai yang macam-macam nanti sama orang-orang liberal. Jadi undang-undang ini kan pintu masuk semua masalah sekarang kan," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (23/1).

Dia menuturkan, terkait dengan LGBT dan tentang pasal zina ini juga sempat didiskusikan dalam rapat rutin pimpinan MUI di Kantor MUI, Jakarta Pusat hari ini. Namun, MUI masih akan menggelar rapat lagi untuk kemudian diusulkan pada DPR.

"Besok rapat lagi, jadi baru hasil itu akan diusulkan ke DPR. Kan yang mengolah undang-undang ini DPR dan pemerintah," ucapnya.

Basri menuturkan, selama ini, perbuatan zina yang bisa dipidana mensyaratkan adanya ikatan perkawinan. Sementara, dalam RKUHP diusulkan dua orang yang melakukan zina tanpa ikatan perkawinan bisa dipidana dan termasuk dalam delik aduan.

"Intinya MUI ingin perluasan makna. Zina itu dirumuskan seperti yang betul-betul zina. Yang kawin itu kan hendaknya laki-laki dan perempuan. Kalau yang sekarang ini bisa bermakna macam-macam, bisa laki-laki dengan laki, perempuan dengan perempuan," katanya.

Seperti diketahui, perluasan pasal yang mengatur tentang perzinaan dan kriminalisasi kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) mengemuka dalam pembahasan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) di DPR.

MUI sendiri selalu mengawal proses pembahasan RUU KUHP yang berkaitan dengan pasal-pasal yang diamanatkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut. Pasal-pasal tersebut di antaranya yakni, Pasal 284 tentang Perzinahan, Pasal 285 tentang Perkosaan, dan Pasal 292 tentang Pencabulan atau LGBT.

Sumber : Republika.co.id

Jangan Ada (Cinta) Mantan di Antara Kita

Jangan Ada (Cinta) Mantan di Antara Kita



Oleh : Loly Norsandi  

Mantan. (n)

Seseorang yang kita anggap jodoh tapi ternyata bukan. Jleb!

Seorang laki-laki, tiba-tiba saja berlari setelah khutbah nikah yang diberikan penghulu. Ia meraih pinggul sang biduan yang sedang melantunkan  lagu kesedihan, membawanya ke dalam pelukan erat. Bagaimana tidak, si biduan adalah sang mantan!

Ia bukan biduan yang khusus teken kontrak untuk mengisi acara. Ia ternyata sang mantan yang datang jauh-jauh dari Jambi ke Sulawesi untuk menyumbang sebuah lagu  yang menyayat hati  di resepsi pernikahannya.

Tak hanya sampai di situ, si mempelai laki-laki pun ambruk dalam pelukan sang mantan. Resepsi perkawinan, itu sih biasa terjadi. Setiap minggu juga sering ada. Tapi resepsi perkawinan yang laki-lakinya pingsan di pelukan mantan, itu baru luar biasa. 

Tidak sekali memang kejadian lucu nan pilu ini terjadi di Indonesia. Wanita yang sudah 7 tahun pacaran, terisak-isak saat memberi selamat kepada si mantan yang tengah bersanding dengan jodohnya. Ada juga pria yang mengamuk di resepsi perkawinan mantan, hingga ucapan Master of Ceremony(MC) menjadi bahan aransemen DJ dunia.

"Mohon bersabar, ini ujian...

Mantan! Terdengar seram bagi mereka yang kisah cintanya harus berakhir tragis. Bahkan ada yang bunuh diri saat harus berpisah dengan yang tercinta. Astaghfirullah.

Memang, yang pernah mengisi hati itu tak mudah hilang. Bayangkan saja kasus yang terjadi di Sulawesi ini, bertahun-tahun berpacaran namun harus berakhir karena uang panaik. Kemudian dia menikahi wanita yang baru dua bulan dikenalnya.

Sayangnya cerita mantan ini kadang tak hanya sampai di pelaminan. Aku menjadi tamu, kamu menjadi mempelai. Namun banyak yang berlanjut menjadi perselingkuhan, akibat Cinta Lama yang Belum Kelar. Jadilah, persoalan mantan ini menjadi serius.

Miris memang! Idealnya, jangan ada mantan di antara kita. Biar cinta itu suci hanya untuk yang halal. Biar hati dan kehormatan terjaga. Biarkan seperti Fatimah dan Ali. Yang masa mudanya sibuk mendakwahkan Islam dan menuntut ilmu.

Yuk, move on!

Hijrah setelah punya mantan, pun tak terlambat karena Allah Mahapemaaf, Mahapemurah. Lupakanlah sang mantan mulai saat ini juga. Hingga hati siap menerima cinta (halal) yang baru. Agar kelak keutuhan rumah tangga terjaga, sakinah hingga usia senja.

Lupakanlah ia, sang mantan. Toh, ia yang pergi tanda tak berjodoh, karena jodoh harusnya menikah. Kalau pacaran bukan jodoh, itu sih maksiyat.

Berat, biar pelan tapi pasti kita bisa mulai dengan tobat. Bertobat dari segala aktivitas maksiyat selama berpacaran, mulai dari zina hati, fikiran, bahkan zina yang sebenar-benarnya. Allah maha menerima taubatan nasuha. InsyaAllah. Di bawah ini ada langkah-langkah yang bisa kamu tempuh untuk semakin mudah melupakan mantan.

1. Luruskan niat.

Melupakannya bukan karena ia tak baik, tapi karena hati ini layaknya hanya milik Allah dan hanya untuk yang halal kelak.

2. Menyibukkan diri dengan kebaikan.

"Kalau tidak menyibukkan diri dengan kebaikan, maka kita akan disibukkan dengan kesia-siaan." [Ibnul qoyyimah]

Jangan habiskan waktu mu untuk mendengarkan lagu melow, sambil merenungi rintik hujan yang katanya 1% nya air, 99% kenangan. *duhh.. sadis.

Yuk, sibukkan diri dengan hal yang bermanfaat, yang menjadikan diri kita berarti. Berarti untuk masa depan kita, dunia-akhirat. Dari pada merenungi dia yang mungkin sudah bahagia dengan  yang lain.

3. Stop stalking!

Zaman now, zaman sosial media. Gak usah stalk akun dia. Dia baik-baik aja koq, khawatirkan aja diri kamu. Jangan hidup menyedihkan karena stagnan, gak move on. Kalau bisa, unfollow aja instagram dia. Unfriend facebook dia. Unsuscribe youtube dia. Karena apa? Karena cinta yang masih kamu miliki itu membahayakan kamu, harus kamu lupakan.

Cinta memang fitrah, boleh saja kamu punya. Tapi kalau bikin kamu inginnya pacaran dengan dia, ya gak boleh. Yakin saja, jodoh gak kemana. Yang penting sekarang kamu move on dan hijrah dulu dari sang mantan. Siapa tau malah berjodoh dengan orang yang luar biasa.

Bagaimana?

Setuju kan? Kalau mantan memang seharusnya dilupakan. Karena ia belum halal, karena Allah tak ridho. Agar hati siap bersama jodoh sebenarnya. Bahwa jodoh kita kelak mendapatkan hati yang suc,  yang tak mencintai jodoh orang.

Dan yang penting, gak usah datang di resepsi sang mantan. Mendatangi undangan resepsi pernikahan itu memang wajib, tapi kalau tak syar'i, apalagi itu resepsi pernikahan mantan. Tak perlulah memaksakan diri, apalagi menyumbang lagu. Jangan ada lagi mempelai yang pingsan di pelukan sang mantan. Hehehe..

Timbun dalam-dalam mantan dan segala kenangan maksiyat. Ingat!  di timbun. Jangan, dikubur. Kalau dikubur nanti malah ada niat buat ziarah.

So, let's move on! Move up! Jadi generasi muda yang produktif, mengerti agama dan jauhi pergaulan bebas. (rf/)

Ilustrasi: Google

Sumber :voa-islam.com

Hijab; antara Fashion dan Panggung Politik

Hijab; antara Fashion dan Panggung Politik



Oleh: Siti Rahmah

10Berita, Perkembangan fashion senantiasa mengalami peningkatan dari masa ke masa. Hal ini memberikan angin segar untuk pecinta dunia fashion. Tidak ketinggalan fashion pakaian muslimah pun peminatnya semakin meningkat, seiring munculnya kesadaran tentang kewajiban mengenakan hijab.

Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim terbesar di dunia menjadi surga para designer untuk mengembangkan karya. Gebrakan kaum hawa yang berbondong-bondong menjalankan kewajiban agamanya, menginspirasi tumbuh suburnya industri busana muslimah. 

Sayangnya, kesadaran ini rancu dengan trend fashion dan jeratan menggiurkan dunia politik praktis. Tahun 2018 merebak fashion yang diramaikan oleh para politisi perempuan yang menggunakan hijab. Sebut saja Andi Rachmatika Dewi yang akrab dengan panggilan CICU maju di pemilihan kota Makassar. Ada juga Ingrid Kansil yang maju di Pilkada Kabupaten Bogor. Atau Nanda Gudban yang maju dalam Pilkada kota Malang (Liputan 6.com).

Fenomena ini, tidaklah mengherankan. Pasalnya mayoritas penduduk Indonesia muslim. Hal ini erat kaitannya dengan literatur prilaku pemilih. Aspek agama masih menjadi pengamatan penting bagi pemilih untuk memilih calon dari agama tertentu.

Pengamatan tentang kecenderungan pemilih ini, dijadikan sebagai peluang oleh partai politik untuk menarik simpati demi mendapatkan suara terbanyak. Salah satu caranya adalah dengan mengusung calon-calon pilkada dari agama mayoritas. Diajukannya calon perempuan muslimah berhijab dan fashionable dijadikan sebagai icon pemimpin perempuan yang cerdas, cantik, trendy dan taat. Tujuannya apalagi bila bukan untuk memikat.

Hijab, Wujud Ketaatan

Sejatinya mengenakan hijab adalah bentuk ketaatan dan ketundukan pada Rabb semesta alam. Bagi seorang muslimah mengenakan hijab  bukanlah pilihan tapi kewajiban. Ketika mengenakannya, muslimah bukan sekadar menutupkan tapi harus sesuai aturan syara. Tentu saja ini semua dilakukan harus dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Memakai hijab di Indonesia saat ini sudah mengalami dinamisasi, bahkan sudah menjadi budaya. Tetap tak bisa dipungkiri masih ditemui perbedaan motif dalam mengenakan hijab ini.

Gempita perubahan fashion muslimah ini memang perlu diapresiasi. Hanya saja hendaknya dorongan untuk mengenakan hijab ini bukan sebatas bermotif mengejar fashion atau kepentingan politik saja. Berhijab harus benar-benar atas dasar kesadaran yang lahir dari pengetahuan atas bimbingan ilmu dan pengetahuan agama.

Hijab dan Motif Politik

Tahun 2018 digadang-gadang sebagai tahun yang panas karena pentas pertunjukan perpolitikan. Saat ini pun, di awal memasuki tahun baru sudah mulai bisa dirasakan nuansa kehangatannya.

Pertengahan Januari ini, mulai terasa aroma religi. Bukan karena mendekati Idul Fitri atau bulan haji, tapi untuk memikat hati penduduk negeri yang mayoritas beragama Islam. Upaya penggalangan simpati yang dilakukan oleh (Bakal Calon (BaLon) ini pun mulai masif. Mereka mendatangi masjid dan rajin hadir ke pengajian. Balon perempuan yang maju banyak yang mengenakan hijab atau mendadak berhijab.

Semoga bermunculannya perempuan berhijab di pentas pilkada ini bukan bagian dari polesan dan pancingan untuk mendulang kemenangan. Kecantikan para perempuan berhijab ini semoga tidak melulu tunduk oleh syahwat kekuasaan. Ya...semoga. (rf/)

Sumber :voa-islam.com

Sang Gangster Pun Menangis

Sang Gangster Pun Menangis

Memilih Islam karena dipengaruhi pengalamannya saat Shubuh.

10Berita , JAKARTA --  Kamusnya tak menyimpan pengertian dan konsep agama sehingga ia tak se dikit pun meme dulikan itu. Lingkungan sosialis di sekelilingnya melengkapi kebingungan Sved Mann, pria apatis itu, tentang identitas dirinya. Ia pun tumbuh menjadi seorang gangster, tanpa agama.

Usai Tembok Berlin runtuh pada 9 November 1989, keluarga Sved yang berasal dari Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) pindah ke sebuah lingkungan baru yang sebelumnya berada di wilayah Republik Federal Jerman (Jerman Barat). Sved baru berusia 12 tahun waktu itu.

Sebelumnya, selama 28 tahun, ribuan keluarga, termasuk keluarga Sved, terpisahkan oleh tembok kokoh sepanjang 43 kilometer tersebut. Tembok itu pertama kali dibangun pada 15 Agustus 1961, sebagai pemisah permanen antara Jerman Timur dan Jerman Barat.

Peruntuhannya menandai penyatuan kembali kedua wilayah Jerman tersebut. “Didikan” lingkungan sosialis selama hidup di Jerman Timur membentuk Sved menjadi orang yang acuh tak acuh pada mereka yang beragama. “Biasanya aku tersenyum sinis saat melihat atau bertemu mereka yang memeluk keyakinan tertentu, termasuk Muslim,” katanya.

Sampai di bekas wilayah Jerman Barat, ia bertemu situasi yang sama sekali berbeda. Wilayah itu lebih banyak dihuni kaum imigran yang inferior. “Kami menjadi sampah masya rakat. Kami (Sved dan kaum imigran) adalah orang-orang kulit hitam Amerika yang tinggal di pemukim an terisolasi,” ujarnya.

Meski mulanya tidak siap dengan kehidupan itu, Sved perlahan mencontoh perilaku sosial di lingkungan barunya itu. Ia segera memiliki referensi baru tentang bagaimana hidup di dunia barunya dari para imigran yang menjadi kawannya. “Aku banyak melakukan hal buruk, seperti mencuri dan kejahatan lainnya,” kenangnya.

Suatu hari ia bertemu seorang imigran asal Turki, adik seorang imam masjid lokal yang kemudian menjadi kawan dekatnya. Kedekatan itu me mung kinkan sang teman mengenalkan agamanya, Islam, pada Sved si apatis.

Suatu hari, kawan Sved mengata kan kepada kakaknya bahwa ia ingin membawa Sved pada Islam. Sang imam tak menanggapinya dengan serius dan hanya berkata, “Dia (Sved)? Tidak mungkin.” Tetapi, ia tetap pada pendiriannya dan menga takan kepada kakaknya bahwa ia akan segera bertemu kembali dengan Sved yang ber agama Islam.

Imam masjid itu lalu bepergian selama tiga bulan. Dan, saat kembali, ia dikejutkan oleh sapaan Sved terhadapnya. “Ia berkata, ‘Assalamualaikum’. Rasanya sulit mempercayai itu saat itu hing ga aku pun bertanya kepa danya, ‘Apa yang terjadi kepa damu?’” kata sang imam.

Lantunan Alquran saat Subuh

Sved menemukan ke yakinannya setelah ber dis kusi panjang dengan ka wan dekatnya itu suatu malam. Setelah membicarakan banyak hal ten tang Islam, kata Sved, ia segera me miliki keinginan untuk pergi ke mas jid bersama sang teman.

Ia menambah kan, keterpanggil annya untuk me milih Is lam turut di penga ruhi oleh peng alamannya pada suatu Subuh, di mana ia mende ngar seorang anak membaca Alquran. “Tiba-tiba aku menangis, tak tahu me ngapa. Aku tak mengerti bahasa Arab, tidak memahami apa yang dibacanya. Tapi, seolah hatiku secara jelas memahami nya,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia menambahkan, peristiwa itu terasa begitu ajaib baginya. “Itu pe ngalaman yang luar biasa. Aku adalah seorang gangster dan tiba-tiba bisa menangis.”

Ketika sebuah proyek independen pembuatan film dokumenter tentang agama dan budaya di Jerman menemuinya dan bertanya tentang perpindahan agamanya, Sved menjawab, “Aku tidak akan mengatakan bahwa aku berpindah agama. Mereka hanya menjelaskan banyak hal tentang Islam padaku dan aku mencoba memahaminya.” Ia melanjutkan, “Tidak ada perpindahan agama dalam Islam. Allah juga berkata dalam Alquran, ‘Tidak ada paksaan dalam agama (QS al-Baqa rah:256)’,” jawabnya ringan.

Ia menuturkan, sebelum mengamal kan ajaran Islam, dia telah melaku kan pencarian, tetapi tak meluangkan cukup waktu untuk itu. “Tapi, aku selalu percaya Tuhan. Dan, aku senang akhirnya menemukan Islam.” Sved tampak tak ingin memusing kan alasan di balik pilihannya pada Islam. “Aku lebih suka mendes kripsikan keislaman ku de ngan ‘seseorang telah menge nal kanku pada Is lam dan aku menuju agama itu’,” katanya.

“Karena, pada akhir nya semuanya adalah Islam,” tandas Sved ber usaha me nekan kan ja wabannya pada makna kata ‘Islam’, yakni berse rah diri. ¦ c15 ed: wachidah handasah

Tak Pernah Tinggalkan Shalat

Sved mengikrarkan syahadat 11 tahun lalu dan mengganti nama depannya menjadi Sayed. Sejak itu, ia banyak membaca untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Dari sang imam yang pernah me ragukannya, Sayed belajar membaca Alquran. Ia juga mempelajari bahasa Arab untuk dapat memahami Kitabullah tersebut.

Bagi Sayed, Islam adalah menyerahkan keinginan diri di bawah kehendak Tuhan. “Mengapa aku mau melakukannya? Karena, dengan itu nanti aku akan bertemu dengan Penciptaku dan surga-Nya agar aku berhak atas itu. Itulah Islam menurutku saat ini,” ujarnya saat ditanya tentang esensi Islam.

Karena itu, sejak bersyahadat, Sayed tak mau meninggalkan shalat lima waktu dengan alasan apa pun. Shalat baginya adalah keluar dan mengistirahatkan diri sejenak dari dunia dan seluruh isinya. “Kita membersihkan diri dan menghadap Sang Pencipta.” Ia menambahkan, shalat tak menjadi masalah bagi segala aktivitasnya. “Tak ada alasan untuk meninggalkannya. Setiap orang pasti bisa menemukan tempat untuk berwudhu, membasuh diri, dan mendirikan shalat,” tambahnya.

Kini, selain merasakan ketenangan dan keteraturan hidup, Sayed mengaku, ia menemukan hal berharga lainnya dalam Islam. “Ketika kamu menjadi seorang Muslim, kamu mungkin kehilangan teman, tetapi kamu mendapatkan saudara,” ujarnya. Setelah berislam, Sayed merasa menemukan keluarga baru dan saat itu juga menjadi anggotanya. “Itu sesuatu yang tidak bisa kuperoleh dari gereja-gereja di Jerman.”kata 

Sumber :Republika.co.id 

Ikuti Langkah Swedia, Slovenia Segera Akui Negara Palestina

Ikuti Langkah Swedia, Slovenia Segera Akui Negara Palestina


Presiden Palestina Mahmud Abbas bertemu para pejabat Slovenia. Foto: PIC

10Berita, PALESTINA—Menteri Luar Negeri Slovenia Carl Ereavik, dilaporkan telah mendeklarasikan bahwa pemerintahannya siap mengakui negara Palestina, Senin (22/1/2018).

Untuk itu, Ereavik segera menggelar voting di parlemen Slovenia untuk mengakui negara Palestina. Sehingga Slovenia menjadi negara kedua Uni Eropa yang mengambil langkah ini.

Kepada Channel Bobm, Ereavik mengatakan bahwa sejumlah negara Eropa mendukung langkah ini, ketika parlemen memberikan lampu hijau bagi usulan pengakuan terhadap negara Palestina.

Ereavik menegaskan, pengakuan Slovenia terhadap negara Palestina akan menguatkan sikapnya terkait perundingan damai di Timur Tengah.

Menlu Slovenia menegaskan hal ini ketika bertemu Presiden Palestina Mahmud Abbas di Brussel dalam pertemuan Menlu Eropa. Selain mengajak anggota Uni Eropa lainnya untuk mengakui kedaulatan Negara Palestina, Menlu Slovenia juga menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Palestina.

Di antara 28 negara anggota Uni Eropa, Swedia merupakan negara pertama yang mengakui secara resmi kedaulatan Negara Palestina tahun 2014, dan disusul delapan negara lainnya, Republik Ceko, Slowakia, Hungaria, Bulgaria, Rumania, Malta dan Siprus sebelum bergabung dengan Uni Eropa.

Komite urusan luar negeri di parlemen Slovenia pada 31 Januari mendatang akan menggelar pertemuan untuk menyetujui usulan ini, sebelum dikirim ke paripurna untuk dilakukan voting. []

SUMBER: PIC