OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Kamis, 22 Maret 2018

Ahed Al-Tamimi Akan Dipenjara Selama 8 Bulan Setelah Setujui Kesepakatan Pembelaan

Ahed Al-Tamimi Akan Dipenjara Selama 8 Bulan Setelah Setujui Kesepakatan Pembelaan

10BeritaTEPI BARAT, PALESTINA  - Seorang gadis remaja Palestina yang diadili karena menampar seorang tentara Israel menerima sebuah kesepakatan pembelaan pada hari Rabu (21/3/2018) di mana dia akan dijatuhi hukuman delapan bulan penjara, kata situs berita Haaretz Israel.

Pengacara Ahed Tamimi tidak segera memberikan komentar. Pengacara tersebut mengatakan kepada Reuters sebelumnya bahwa sebuah tawar-menawar atas insiden Desember tersebut, yang mengubah Tamimi menjadi pahlawan bagi orang-orang Palestina, telah ditawarkan oleh jaksa militer.

Rencana tersebut masih harus disetujui oleh pengadilan militer, Haaretz menambahkan. Tamimi telah menghabiskan empat bulan dalam penahanan administratif sejauh ini.

Wartawan Israel Asaf Ronel, editor luar negeri surat kabar tersebut, mengatakan bahwa sebagai perbandingan, Elor Azaria, tentara Zioni Israel yang dihukum karena pembunuhan setelah menembaki seorang Palestina yang tidak berdaya dari jarak yang dekat, dia total akan menjalani sembilan bulan masa tahanan ketika dia dibebaskan kemudian tahun ini. (st/MEE) 

Sumber : Voa-islam.com

Di Balik Pengunduran Diri Ketua MUI Sumbar Sebagai Dosen IAIN Bukittinggi

Di Balik Pengunduran Diri Ketua MUI Sumbar Sebagai Dosen IAIN Bukittinggi

10Berita , Bukittinggi – Perkara larangan cadar di IAIN M Djamil Djambek, Bukittinggi berbuntut panjang. Pihak rektorat hingga saat ini masih bersikukuh mempertahankan aturan itu. Ketua MUI Sumatera Barat, yang menjadi dosen di kampus itu, menentang sikap otoriter petinggi kampus dengan cara mengundurkan diri.

Kengototan pihak kampus IAIN Bukittinggi dalam melarang cadar diiringi aksi penolakan dari elemen masyarakat. Setelah Aliansi Umat Islam yang terdiri dari ormas Islam dan lembaga adat setempat mensomasi pimpinan kampus, kemarin Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar menyatakan mundur sebagai dosen IAIN Bukittinggi dan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Buya Gusrizal menyatakan, keputusan itu diambil karena pihak kampus menutup pintu diskusi dengannya. Selain itu, masukan ataupun nasihat yang disampaikannya, atas nama pribadi maupun sebagai Ketua MUI Sumbar, tak mendapatkan perhatian pihak IAIN. Pihak kampus tetap menerapkan larangan cadar bagi mahasiswi dan dosen perempuan.

“Sebenarnya masalahnya sejak 8 Januari, terjadi perdebatan (di grup WhatsApp) antara saya dengan pimpinan salah-satu fakultas di IAIN. Tentu semua yang ada di grup itu termasuk para pejabat IAIN itu membacanya, karena itu grup WhatsApp resmi IAIN Bukittinggi,” ujarnya saat dihubungi oleh Kiblat.net pada Selasa (20/03/2018).

Buya Gusrizal menjelaskan, larangan cadar yang diterapkan kampus tidak mendasar, baik itu dari segi kajian fiqih maupun hukum. Dalam perdebatan itu, ia menyampaikan bahwa khilafiyah terkait hukum cadar memang terjadi di kalangan ulama. Tetapi perbedaan pandangan muncul pada tingkatan disyariatkannya, ada pendapat itu mubah (boleh), sunnah, juga wajib. Bahkan hukum mubah untuk cadar pun tidak mutlak. Karena dalam kondisi tertentu bercadar bisa saja menjadi sunnah hingga wajib.

“Jadi, sudah saya luruskan, seharusnya dalam mengambil kebijakan hukum janganlah asal-asalan. Karena semenjak menjadi dosen, Usul Fiqih adalah mata kuliah saya. Dan saya tidak senang sekali ketika hukum itu diistinbathkan asal-asalan,” tegasnya.

Tak cukup sampai di situ, Buya Gusrizal pun melanjutkan, “Permasalahan yang muncul tidak hanya sebatas kode etik. Tetapi, ada sesuatu sinyal bahwa orang-orang bercadar itu bisa disusupi oleh radikalisme. Di situlah saya tidak nyaman betul. Cadar dikaitkan dengan radikal, jenggot dikaitkan dengan teroris.”

Dalih Kode Etik untuk Larangan Cadar

Sebagaimana institusi pendidikan umumnya, tentunya IAIN Bukittinggi mempunyai standar dalam berbusana. “Formal dan sesuai syariat Islam” begitulah kode etik berbusana yang diberlakukan oleh IAIN Bukittinggi.

Namun, dalam penerapannya ketentuan formal ini justru berbuntut pada larangan cadar. “Lalu, apakah dengan kata formal semacam itu kemudian cadar dilarang?” ujar Buya Gusrizal heran.

“Saya lihat itu bukan kode etik. Itu adalah penafsiran-penafsiran atas kode etik. Nah, ini yang saya bantah. Kenapa kita tidak berlapang dada, berlapang hati dalam persoalan ikhtilaf seperti ini? Masyarakat saja yang awam bisa menerima. Tetapi itu tidak digubris,” jelasnya.

Penolakan Buya Gusrizal akan aturan tersebut semakin gencar. Ia juga memutuskan untuk bertemu dengan salah-satu petinggi kampus dari jajaran rektorat. Kepadanya, Buya Gusrizal memberi masukan agar larangan cadar ini dicabut. Pasalnya, persoalan agama merupakan hal sensitif bagi masyarakat Minangkabau, terlebih di Bukittinggi.

Pejabat rektorat tersebut menerima masukan itu dan berjanji akan dibicarakan dengan dewan kehormatan. Sejenak, persoalan tampak reda. Namun di akhir Januari, Hayati Safri, dosen bercadar di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan datang mengadu kepada Buya Gusrizal. Saat itu, Hayati mengaku diminta oleh pihak kampus agar cadarnya dilepas.

“Beberapa kali datang kepada saya. Saya katakan, masalahnya sedang diluruskan dulu di dalam kampus. Tetapi yang terakhir, yang ketiga kalinya beliau datang, mengadu kepada saya bahwa sudah dihukum dan sudah dinonaktifkan,” jelasnya. Buya Gusrizal mengaku kaget menerima kabar tersebut. Hayati pun mendapatkan saran agar permasalahan itu dilimpahkan ke Ombusdman di Padang.

Disanksinya Hayati, kembali menjadi pembicaraan dalam Grup WhatsApp petinggi kampus. Persoalan cadar kembali menjadi perhatian internal kampus. Namun, Buya Gusrizal merasa petinggi kampus tidak memberikan peluang diskusi untuknya. Sebaliknya, pihak kampus bersikukuh bahwa kode etik terkait larangan cadar tetap diterapkan.

Sumber : Kiblat.

Qolbun Mayyit (Hati yang Mati), Apa Itu?

Qolbun Mayyit (Hati yang Mati), Apa Itu?

10Berita, HATI yang mati tak ubahnya seperti jasad yang tidak bernyawa. Kendati dicubit, dipukul bahkan diiris sekalipun, ia tidak akan merasakan apa-apa.

Bagi orang yang hatinya sudah mati, saat melakukan perbuatan baik atau buruk, dirasakannya sebagai hal yang biasa-biasa saja; tidak memiliki nilai sama sekali. Bahkan ia akan merasa bangga dengan masa lalunya yang selalu dipenuhi perbuatan buruk; mencuri, berzina, menipu dan sebagainya.

Kalaupun ia berbuat kebaikan sekecil apa pun, itu hanya akan membangkitkan rasa bangga diri, rindu pujian serta penuh ujub dan takabur.

Ciri utama pemilik Qolbun Mayyit adalah menolak kebenaran dari Allah Azza wa Jalla dan selalu gemar berlaku dzalim terhadap sesama.

“Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu ia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya kami telah meletakkan tutupan diatas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Dan kendatipun kami menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al Kahfi [18]:57)

Dalam surat lain Allah Swt., berfirman: “Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup; dan bagi mereka azab yang berat.” (QS. Al Baqarah [2]:7)

Dengan demikian, hati yang mati adalah yang mati tidak mengenal Tuhannya. Hati seperti  ini menurut Dr. Ahmad Faridh dalam bukunya Tazkiyah an Nufus, senantiasa berada dan berjalan bersama hawa nafsunya, walaupun itu dibenci dan dimurkai Allah Azza wa Jall. Ia sama sekali tidak peduli apakah Allah ridha kepadanyaatau tidak.

Pendek kata, ia telah berhamba kepada selain Allah. Bila mencintai sesuatu, ia membencinya karena hawa nafsunya dan bila membenci sesuatu, ia membencinya kerena hawa nafsunya. Begitu pula apabila ia menolak atau mencegah sesuatu. []

Sumber: Manajemen Qolbu Untuk Melejitkan Potensi/Abdullah Gymnastiar 2004/ Bandung: MQS Publik hingga,  Islampos.

Qolbun Shahih (Hati yang Sehat), Apa Itu?

Qolbun Shahih (Hati yang Sehat), Apa Itu?

10Berita, SESEORANG yang memiliki hati yang sehat, tak ubahnya dengan memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu, berdasarkan hati nurani yang bersih.

Diantara ciri orang yang hatinya sehat adalah hidupnya diselimuti muhabbah (kecintaan) dan tawakal kepada Allah. Tidak usah heran manakala mencintai sesuatu, maka cintanya semata-mata kerena Allah. Dengan begitu, ia tidak akan berlebihan mencintai makhluk.

Demikian pula bila ia membenci sesuatu maka ia akan membencinya karena Allah semata, sehingga kebenciaannya itu tidak akan membuatnya tergelincir ke dalam perbuatan dosa dan aniaya. Sebaliknya, ini bisa menjadi ladang pahala.

Semakin bersih hati, hidupnya selalu akan  diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa pun, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakinibahwa semua yang diterima adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sifat ujub dan takabur.

Persis seperti ucapan yang telontar dari lisan Nabi Sulaiman a.s. tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, “…..ini adalah karunia dari Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau ingkar (nikmat)…..” (QS. An Naml [27]: 40).

Suatu saat Allah menimpakan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa, justru akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini.

Orang yang mengenal Allah dengan baik-berkat hati yang bersih-akan memiliki keyakinan; ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah unutk membuat seseorang semakin matang dan dewasa.

Persoalan yang datang justru akan membuatnya semakin bertambah ilmu, dan lewat “persoalan” itu pula, amalnya akan bertambah. Ia tidak akan merasa resah, kecewa dan berkeluh kesah. Ia menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yan harus di nikmati dalam hidup ini. Sikap seperti ini akan meningkatkan derajat sbagai hamba di hadapan Allah. Insya Allah.

Oleh karena itu, seseorang  yang hatinya sehat, ditimpa apapun dalam hidup ini, ia akan tetap teguh bagai air direlung lautan yang dalam; tidak akan terguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yag tegak tegar, dihantam ombak sadahsyat apa pun tidak akan roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia mata yakin dengan janji Allah, “Allah tiada membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…..” (QS. Al Baqarah [2]: 286). []

Sumber: Manajemen Qolbu Untuk Melejitkan Potensi/Abdullah Gymnastiar 2004/ Bandung: MQS Publik hingga,  Islampos.

Kenali 'Imran Ibn Hushain', Dilan 1990 Nothing Else

Kenali 'Imran Ibn Hushain', Dilan 1990 Nothing Else


10Berita, Dilan adalah sosok yang saat ini menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat, khususnya dikalangan Remaja. Dilan, digambarkan sebagai remaja anggota geng motor dengan julukan Panglima Tempur namun romantis, pintar, taat agama dan sayang orang tua telah berhasil memikat hati para remaja di negeri ini, khususnya lagi perempuan.

Manisnya kisah cinta remaja SMA menjadi suguhan utama dalam film Dilan 1990 yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pidi Baiq. Dilan (Iqbaal Ramadhan) berupaya untuk mendekati Milea (Vanesha Prescilla), siswa pindahan dari Jakarta. Film yang berlatar di Kota Bandung pada awal 1990 ini memberi gambaran awal mula kisah asmara Dilan dan Milea.

Tingkah tak terduga Dilan yang melancarkan rayuan-rayuan menggelitik membuat Milea mabuk kepayang. Milea yang mulai penasaran akhirnya jatuh cinta dengan pria yang awalnya ia anggap aneh (Dalam CNNIndonesia, 26/01/18). Kisah klasik yang hadir ditengah-tengah remaja masa kini, remaja yang hidup dalam kebebasan berekspresi dan kebebasan lainnya.

Film Dilan 1990 yang tayang sejak 25 Januari ini, telah berhasil menembus angka 4,3juta penonton, sebuah angka yang fantastis dalam capaian film tanah air. Tingginya jumlah penonton film ini, sesungguhnya bisa menjadi indikasi berhasilnya propaganda barat merusak remaja, khususnya remaja muslim. Bagaimana tidak, Islam telah jelas dan tegas melarang aktivitas pacaran dan sejenisnya. Namun pada masa kini dengan film, bacaan, dunia digital dan sebagainya remaja digiring untuk mendekat, memasuki dan menerapkan gaya hidup barat yakni pacaran hingga Free sex.

Remaja muslim saat ini terus diserang dengan propaganda-propaganda yang telah dirancang oleh para orientalis barat penganut Liberalisme. Mereka dibuat terlena dan hidup penuh khayalan, selayaknya sebuah film yang ditonton atau cerita yang dibaca. “Masa remaja tak akan indah, bila tak pacaran, free sex dan narkoba” slogan-slogan inilah yang senantiasa barat hembuskan ke tengah-tengah remaja masa kini.

Sungguh, sangat miris bila melihat bagaimana kehidupan remaja saat ini dan diamnya pemerintah akan semua kerusakan yang terjadi pada remaja. Padahal, remaja inilah yang menjadi generasi-generasi penerus peradaban bangsa ini. Bagaimana mungkin kelak sebuah Negara besar di pimpin oleh  pemuda yang rusak ?

‘Imran Ibn Hushain, Sosok Ideal Pemuda Muslim

Ia berlabuh di Khaibar untuk berbai’at kepada Rasulullah saw. Sejak tangan kanannya menjabat tangan kanan Rasulullah, tangan kanannya itu menjadi tangan yang sangat dihormati. Ia pun bersumpah tidak akan menggunakan tangan itu, kecuali untuk setiap amal yang baik dan mulia. Fenomena ini mengabarkan akan perasaan lembut yang dimiliki oleh sang pemilik tangan tersebut.

Ialah Imran ibn Hushain ra. Ia adalah gambaran yang nyata tentang kejujuran, zuhud, wara’, dan totalitas dalam cinta dan taat kepada Allah. Ia sungguh selalu bersama taufik dan hidayah yang melimpah. Meski begitu, ‘Imran ibn Hushain tidak pernah berhenti menangis dan terus menangis. Ia menangis bukan karena dosa-dosanya, sebab ia dan para sahabat lain setelah masuk Islam, boleh dikatakan mereka tidak mempunyai dosa.

Sesungguhnya, yang membuat mereka menangis karena takut dan gentar kepada Allah adalah karena pengetahuan mereka terhadap keagungan dan kebesaran-Nya disamping kesadaran dan kelemahan dalam bersyukur dan beribadah kepada-Nya. Mereka merasa belum berbuat apa-apa sekalipun telah tunduk, ruku’ dan sujud menyembah-Nya.

Sungguh indah sifat dan sikap yang dimiliki ‘Imran ibn Hushain dan Sahabat Rasul lainnya. Kecintaan, ketaatan serta loyalitas mereka kepada Allah dan Rasulullah tak perlu diragukan lagi kekuatannya, harta dan jiwa mereka seluruhnya diperjual-belikan dijalan Allah saja. Dan sudah selayaknya, para generasi muslim sang pembangun peradaban menjadikan para sahabat yang mulia ini sebagai contoh dan role model dalam kehidupan mereka masa kini.

Serta bersegera berjuang mengembalikan kehidupan Islam yang sempurna, Islam yang tidak hanya ada di dalam masjid saja, namun Islam yang juga ada dalam kehidupan bersosial ditengah-tengah masyarakat sampai Islam yang dijadikan landasan pengaturan segala aspek kehidupan yakni Islam yang diterapkan dalam sebuah Institusi Negara. [Wallahu’alam bisshawab. [syahid/voa-islam.com]

Oleh: Tri Wahyuningsih, S.Pi (Anggota Komunitas Muslimah Menulis)

Sumber : Voa-islam.com

Ketua Bidang Infokom MUI: Penyebab Hoaks Adalah Ketidakadilan

Ketua Bidang Infokom MUI: Penyebab Hoaks Adalah Ketidakadilan

10Berita , Jakarta – Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Masduki Baidlowi mengatakan hoaks atau berita bohong disebabkan oleh ketidakadilan.

Saat berbicara dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana dan Profesi Perpolisian Indonesia (ISPPI) bertajuk “Antara Kebebasan Berpendapat, Hoax dan Ujaran Kebencian” di Jakarta, Masduki mengatakan cara efektif dalam meredam hoaks adalah dari hulu ke hilir. Dari hulu melalui fatwa dan regulasi, sedangkan di hilir dengan penegakan hukum dan literasi.

“Kondisi saat ini lagi dalam keadaan adanya penumpang gelap di demokrasi kini, yakni media sosial di sisi lain demokrasi kita memang demokrasi liberal yang bergelimang dengan hoaks,” kata Masduki, Rabu, (21/03/2018).

Dia menyebut perusahaan media sosial (medsos) mengambil keuntungan paling besar dalam bidang informasi, dan justeru tidak ikut bertanggung jawab ketika memecah belah masyarakat. Harusnya perusahaan medsos harus bertanggung jawab membangun literasi.

“Seharusnya pemerintah membuat kebijakan peraturan untuk perusahaan sosial media. Mayoritas media sosial kita milik asing, ini mereka bermain di negara kita seharusnya diatur,” katanya.

Masduki menambahkan bahwa MUI mengharapkan perlakuan yang tepat dalam memberantas hoaks. Hukum harus diberlakukan kepaada pelaku dan juga pemilik perusahaan digital.

“Kita semua sepakat bahwa hoaks dilarang baik dalam agama maupun konstitusi kita. Akan tetapi penyebab adanya hoaks adalah ketidakadilan dalam segala hal,” tuturnya.

Terkait hoaks, Masduki juga menyoroti politik identitas yang saat ini berkembang, yaitu politik untuk saling tampil dan menjatuhkan lawan dengan informasi. Sehingga menyebabkan antar pihak saling berseteru untuk mencari-cari kesalahan.

“MUI secara tegas telah mengeluarkan fatwa haram hoaks. Hoaks bukan hanya dari masyarakat tetapi juga dari ketidakadilan penguasa,” pungkasnya.

Sumber : Kiblat.

Rabu, 21 Maret 2018

Dosa Terbesar Amien Rais menurut Anaknya: Diam ketika Melihat Kezaliman

Dosa Terbesar Amien Rais menurut Anaknya: Diam ketika Melihat Kezaliman



10Berita, JAKARTA - Hanum Rais, anak dari Bapak Reformasi, Amien Rais angkat suara atas dugaan ancaman yang dilakukan oleh Menkomaritim, Luhut Binsar Panjaitan atas ayahnya. Hanum pun berdoa dan berharap atas ayahandanya semoga dalam lindungan dari Allah subhana wa ta’ala.

“Semoga Amien Rais selalu dalam lindunganNya,” harapnya, di akun Twitter pribadi miliknya, Rabu (21/03/2018).

Namun demikian, ia nampak mengantisipasi atas adanya kasus tersebut yang dilontarkan Luhut. “Kalaupun ada sesuatu terjadi padanya, kita semua jadi tahu dalangnya.”


Sebelumnya Luhut merespon kritikan Amien dengan dugaan kata ancaman semisal akan membongkar dosa-dosa Bapak Reformasi tersebut. Hanum pun menjelaskan, bahwa dosa Amien adalah ketika dia diam kala ada sesuatu yang zalim.

“Dosa terbesar AR adalah jika sebagai Muslim ia diam ketika kezaliman  terjadi. Sebagai putrinya, saya hanya bisabilang: wama karu wama karallah, wallahu khairul maakirin. Met Subuhan.” (Robi/)

Sumber :voa-islam.com

Perguruan Tinggi Asing Masuk Indonesia, yang Untung Siapa?

Perguruan Tinggi Asing Masuk Indonesia, yang Untung Siapa?


Oleh: Nurul Wahida, S.Pd, 

(Alumnus Universitas Negeri Medan, mahasiswi program magister Institut Teknologi Bandung)

10Berita, Beberapa waktu yang lalu, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir dalam konferensi pers di Jakarta Senin (29/1/2018) menyatakan bahwa untuk menghadapi globalisasi pendidikan dan revolusi industri 4.0, sejumlah perguruan tinggi asing akan beroperasi di Indonesia pada tahun ini.

Dia mencatat ada lima sampai 10 universitas asing yang sedang bersiap membuka perwakilan di Indonesia. Sejumlah perguruan tinggi kelas dunia menyatakan ketertarikannya untuk beroperasi di Indonesia seperti University of CambridgeMelbourne UniversityQuenslandNational Taiwan University.

Beliau optimis beroperasinya universitas asing unggulan di Indonesia akan memberikan kesempatan bagi mahasiswa dalam negeri untuk mendapatkan fasilitas pendidikan tinggi berkualitas tanpa harus bepergian ke luar negeri. Selain itu, perguruan tinggi asing bisa mendatangkan mahasiswa dari luar negeri untuk belajar di Indonesia. "Jika ini terealisasi, tentu saja akan membawa dampak pada perekonomian masyarakat," papar dia.

Beberapa tokoh yang mendukung yaitu Rektor UI Muhammad Anis, beliau berargumen agar kita jadikan keberadaan mereka adalah sebagai trigger (pemicu) untuk kita memperbaiki diri dan melakukan evaluasi mana yang perlu kita tingkatkan dan sebagainya.

Menanggapi hal ini tak sedikit pihak yang memberi komentar kontra pula. Seperti yang dikutip oleh harian Antara, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Budi Djatmiko di Jakarta, pada Senin (29/1/2018) menyatakan pemberian izin perguruan tinggi asing beroperasi di Indonesia akan mengancam keberadaan lembaga pendidikan tinggi yang sudah ada.

Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Said Hamid Hasan melihat keinginan pemerintah ini akan sangat memberi keuntungan bagi PT asing. Kampus-kampus asing itu akan menerima banyak mahasiswa dan mendapat keuntungan besar.

Jika mempertimbangkan suatu keputusan, kita perlu meninjau seberapa besar dampaknya bagi bangsa ini. Jika memang program ini dibuat dalam rangka menghadapi globalisasi pendidikan, bukankah globalisasi sendiri telah kita saksikan memberi dampak negatif yang besar terhadap bangsa ini? Disini Penulis ingin meninjau dari beberapa sisi.

Pertama, dari sudut pandang ideologi dan budaya.  Kita perlu meninjau kembali bagaimana pengaruh masuknya budaya barat dan gaya hidup sekuler-liberal yang menjadi salah satu penyebab rusaknya moral pemuda-pemudi ini. Jika keputusan ini terealisasi maka pintu gerbang bagi paham liberalisme dan kroni-kroninya (Individualisme, materialism, dsb) pun semakin terbuka lebar.

Kita semua tahu bagaimana gaya hidup mahasiswa internasional di negeri-negeri Barat yang sudah sangat jauh dari nilai-nilai agama bahkan tak sedikit yang menganut paham atheis. Dunia kampus tak pernah sepi dari forum-forum diskusi ilmiah dan sebagainya, hal ini merupakan medium yang sangat tepat untuk terjadinya proses transfer ideologi dan paham-paham barat ke benak pemuda-pemudi kita.

Disisi lain, jika program ini dianggap dapat menjadi pemicu bagi Perguruan Tinggi dalam negeri untuk terus berkompetisi dan mengejar kualitas, lalu bagaimana dengan nasib Perguruan Tinggi Negeri domestik? Sebab program kerja sama ini hanya dilakukan dengan perguruan tinggi swasta (PTS), bukankah akhirnya dapat berdampak kepada semakin sedikitnya peminat Perguruan Tinggi Negeri?

Sisi yang lebih berbahaya adalah dengan masuknya PT asing ini, maka para imigran atau para pendatang dari berbagai negara tersebut dapat dengan mudah melakukan eksplorasi terhadap lokasi sumber-sumber daya alam (SDA) kita yang akhirnya bangsa kita lagi yang rugi, mereka jelas untung besar.

Maka harusnya sebelum program ini terlaksa, ada baiknya pemerintah benar-benar mengkaji lagi dan bersikap jujur pada kenyataan untuk membela kepentingan bangsa jangan hanya tergiur dengan keuntungan-keuntungan besar yang hanya fatamorgana. Jangan biarkan cengkraman kapitalisme liberal barat terus memangsa bangsa ini. Telah banyak dilakukan kerja sama dengan asing, namun sejatinya apa? Bukankah tak ubahnya sebuah penjajahan gaya baru yang berkedok “kerjasama”?

Pada hakikatnya kita harus percaya diri dengan kemampuan dan potensi bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang mandiri dan tidak gampang bergantung dengan asing apalagi barat.

Selama kita masih terus bergantung maka selama itu pula kita tetap tak pernah bisa mandiri dan menajdi bangsa yang kuat. Bagaimana agar mampu mandiri? Disitu lah PR besar pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi dalam negeri dengan serius. [syahid/]

Sumber :voa-islam.com

Lakukan Investigasi Pembunuhan 10 Pria Rohingya oleh Militer, 2 Wartawan Myanmar Diadili

Lakukan Investigasi Pembunuhan 10 Pria Rohingya oleh Militer, 2 Wartawan Myanmar Diadili


Penangkapan Wa Lone & Kyaw Soe Oo memicu kekhawatiran terancamnya kebebasan pers di Myanmar (Reuters)

10Berita, YANGON  Dua wartawan Myanmar muncul di pengadilan, 100 hari setelah mereka ditangkap dengan tuduhan memiliki dokumen rahasia pemerintah.

Pengadilan di Yangon menggelar sidang pendahuluan untuk memutuskan apakah kedua wartawan, yang bekerja untuk kantor berita Reuters itu, akan menghadapi tuduhan di bawah Undang-Undang Rahasia Resmi—sebuah hukum era Kolonial Inggris yang memberikan hukuman maksimal 14 tahun penjara.

Sidang pada Rabu (21/3/2018) menandai ke-11 kalinya Wa Lone (31) dan Kyaw Soe Oo (28), muncul di pengadilan.

Pimpinan redaksi Reuters, Stephen J Adler, mengatakan bahwa Wa Lone dan Soe Oo “hanya melakukan pekerjaan mereka sebagai wartawan”.

“Wa Lone dan Kyaw Soe Oo adalah individu teladan dan wartawan luar biasa yang berdedikasi untuk keluarga dan pekerjaan mereka. Mereka mestinya berada di ruang berita, bukan di penjara,” kata Adler seperti dilansir Aljazeera, Rabu (21/3).

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditangkap terkait investigasi yang dilakukan Reuters atas pembunuhan 10 pria Rohingya oleh militer Myanmar dan warga etnis Rakhine di negara bagian Rakhine, kata kantor berita itu.

Insiden itu terjadi selama penumpasan militer yang memaksa hampir 700.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, kata Reuters.

Setelah penangkapan kedua wartawan itu, militer Myanmar kemudian mengakui bahwa tentaranya ikut serta dalam pembunuhan tersebut.

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditahan setelah diundang makan oleh petugas polisi di pinggiran kota terbesar Myanmar, Yangon.

Kedua wartawan itu mengatakan kepada keluarga mereka bahwa mereka ditangkap setelah menyerahkan beberapa kertas yang digulung oleh dua petugas yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya, ujar Reuters.

Penangkapan mereka telah memicu kekhawatiran global mengenai kebebasan pers di Myanmar.

Para diplomat dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada dan Uni Eropa, menghadiri sidang pengadilan pada Rabu.

Kedutaan Besar Denmark, yang telah mengirim perwakilan ke setiap sidang, mengatakan bahwa kedua jurnalis itu telah menghabiskan waktu “100 hari di balik terali besi untuk memastikan hak publik atas informasi”. Kedubes Denmark juga mendesak Myanmar untuk membatalkan tuduhan dan segera membebaskan mereka. (S)

Sumber: Aljazeera, Salam Online.

Mengerikan... INDEF Sebut Jumlah Utang Indonesia sudah Tembus Rp 7.000 Triliun

Mengerikan... INDEF Sebut Jumlah Utang Indonesia sudah Tembus Rp 7.000 Triliun

10Berita, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa Pujarama memberikan angka mengejutkan terkait utang Indonesia. Menurutnya, saat ini jumlajnya sudah mencapai Rp 7.000 triliun.





Riza tak asal bicara. Angka tersebut gabungan dari utang pemerintah dan swasta. Utang pemerintah tersebut ditujukan untuk membiayai defisit anggaran, sementara utang swasta berasal dari korporasi swasta dan badan usaha milik negara (BUMN).

“Kementerian Keuangan dalam APBN 2018 menyatakan total utang pemerintah mencapai Rp 4.772 triliun. Namun, jika menelisik data out-standing Surat Berharga Negara (SBN) posisi September 2017 sudah mencapai Rp 3.128 triliun, terdiri SBN denominasi rupiah sebanyak Rp 2.279 triliun, dan dalam denominasi valas Rp 849 triliun. Sementara, utang swasta tahun 2017 telah mencapai sekitar Rp 2.389 triliun,” jelas Riza  di Kantor INDEF, Jakarta Selatan, Rabu (21/3/2018) seperti dikutip Liputan 6.

Riza menjelaskan, posisi utang pemerintah terus meningkat secara agresif sejak 2015. Ini terjadi seiring kebutuhan belanja infrastruktur yang menjadi prioritas kerja Pemerintahan Jokowi.

“Utang pemerintah melonjak dari Rp 3.165 triliun (2015) menjadi Rp 3.466, triliun (2017). Peningkatan utang terus berlanjut hingga APBN 2018-Februari menembus angka Rp 4.034, 8 triliun dan pada APBN 2018 mencapai Rp 4.772 triliun,” ujar Riza.




Menurutnya, terdapat dua indikator utang yang biasanya dipakai pemerintah, yaitu rasio keseimbangan premier terhadap PDB dan rasio utang terhadap PDB. Rasio keseimbangan premier terhadap PDB pada APBN 2017 mengalami minus 1,31 persen.

“Hal ini menunjukkan cash flow pemerintah justru semakin tekor ketika menambah utang. Akibatnya, untuk membayar bunga dan cicilan utang terus ditopang oleh utang baru,” katanya.

Adapun, rasio utang terhadap PDB tahun 2017 sebesar 2,89 persen memang masih dalam batas wajar. Artinya, indikator rasio utang pemerintah tetap dalam waspada.

“Menurut penjelasan Pasal 12 ayat 3 UU No 17 2003 tentang keuangan negara menyebutkan bahwa defisit anggaran dibatasi maksimal sebesar 3 persen dan utang maksimal 60 persen dari PDB,” tandas Riza.

Sumber :Wajada