OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 07 April 2018

Polri Bisa Gunakan Restorative Justice untuk Sukmawati, Asalkan…

Polri Bisa Gunakan Restorative Justice untuk Sukmawati, Asalkan…

10Berita , Jakarta – Pakar Hukum Pidana, Dr. Abdul Chair Ramadhan mengatakan upaya restorative justice (penyelesaian di luar pengadilan) tidak tepat jika diterapkan dalam kasus penodaan agama. Ia kemudian mempertanyakan keinginan polri yang ingin menerapkannya dalam kasus puisi Sukmawati.

“Ada pertanyaan yang harus dijawab oleh Polri jika memang ingin menerapkan keadilan restoratif di kasus Sukmawati dalam bentuk diversi tersebut,” katanya dalam rilis yang diterima Kiblat.net pada Jumat (06/04/2018).

Pertanyaan yang diajukan Abdul Chair dalam bentuk prasyarat itu adalah sebagai berikut:

Pertama, sanggupkah Polri untuk mendata secara pasti berapa orang yang tersinggung atas puisi Sukmawati di seluruh Indonesia, dan bagaimana sistem dan metoda pendataannya.

Kedua, walaupun katakan Polri dapat mendatanya secara pasti, maka bagaimana sistem dan mekanisme proses mediasinya untuk menerapkan restoratif justice dan diversi tersebut.

Ketiga, misalkan Polri dapat merumuskan sistem dan mekanisme proses mediasi dalam rangka diversi, bagaimana menyangkut perihal ganti kerugiannya. Seberapa besar ganti kerugian tersebut yang harus disepakati antara umat Islam se-Indonesia yang tersinggung dengan puisi Sukmawati.

“Apakah sanggup Sukmawati membayar ganti kerugian kepada semua umat Islam se-Indonesia yang tersinggung tersebut. Jika diasumsikan, misalkan saja untuk satu orang saja meminta angka sepuluh juta rupiah? Bagaimana jika, seratus juta atau bahkan satu milyar,” jelasnya dalam poin ini.

Keempat, bagaimana terhadap kasus-kasus sebelumnya, seperti contoh Viktor Laiskodat dan Ade Armando. Berarti, juga harus dilakukan hal yang sama belum lagi pada masa depan jika ada kasus serupa.

“Apakah mampu melakukan diversi yang terkait kewajiban adanya ganti kerugian?” ucap sosok yang pernah menjadi bagian dari Tim Advokasi Muslim Untuk Tolikara Papua itu.

Sumber : Kiblat.

Warga Palestina Gelar Aksi “Jumat Ban”, Jumlah ‘Syuhada’ Tambah 22 Orang

Warga Palestina Gelar Aksi “Jumat Ban”, Jumlah ‘Syuhada’ Tambah 22 Orang

10Berita Ribuan warga Palestina dari berbagai usia berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa di perbatasan Timur Gaza dan wilayah Palestina jajahan tahun 1948, aksi ‘Jumat Ban’ gelombang kedua Aksi ‘Kembali ke Palestina’ yang Terjajah yang dijuluki Grand March of Return, sejumlah demonstran mengalami luka-luka.

Ribuan warga berdatangan sejak pagi ke kemah kepulangan, untuk berpartisipasi dalam ‘Jumat Ban’, bersamaan dengan pekan kedua aksi damai ‘Kembali ke Palestina’ yang Terjajah, kutip PIC.

Ribuan demonstran menunaikan shalat Jumat di sejumlah kemah kepulangan di sepanjang perbatasan Gaza.

Di sepanjang perbatasan Gaza Timur, nampak terlihat kobaran api, yang bersumber dari ban-ban yang dibakar, untuk menghalangi penglihatan sniper, dan menyelamatkan para demonstran damai dari sniper Zionis.

Tim pemadam kebakaran Zionis berupaya memadamkan kobaran api yang meluas di sepanjang perbatasan Gaza Timur


Sejumlah demonstran mengalami luka-luka akibat tembakan yang dilancarkan pasukan Zionis ke sepanjang perbatasan Gaza.

Koresponden kami menegaskan, gulungan asap memenuhi kawasan perbatasan Timur Gaza, yang memicu pihak Zionis menghadirkan mobil pemadam besar untuk menghentikan pembakaran ban.

Sumber di lapangan melaporkan, seorang wartawan mengalami luka-luka akibat tembakan Zionis di Timur Khan Yunis, dan puluhan lainnya mengalami gangguan pernapasan, akibat tembakan gas air mata di kawasan tersebut.

Empat orang demonstran mengalami luka-luka akibat penganiayaan Zionis di kawasan Timur Gaza, salah seorang mengalami luka serius.

Ribuan demonstran berkonsentrasi di kemah kepulangan, Gaza Timur, para pemuda mulai membakar ban mobil dekat perbatasan

Pada Jumat pagi, empat pemuda Palestina mengalami luka-luka, akibat serangan pasukan Zionis terhadap pawai aksi ‘Kembali ke Palestina’ yang Terjajah.

Tiga orang pemuda Palestina lainnya mengalami luka tembak di Timur Jabalia, dan yang keemat di Timur Gaza, kemudian dilarikan ke klinik setempat, di tengah informasi peningkatan siaga di kalangan tenaga medis, untuk mengantisipasi bertambahnya korban.

Sehari sebelumnya, seorang pemuda Tsair Rabiah gugur akibat luka yang dideritanya di Jabalia Timur, yang menambah jumlah syuhada sejak awal pawai Aksi ‘Kembali ke Palestina’ yang Terjajah pada 30 Maret lalu, menjadi 22 syahid, dua jenazah masih ditahan pihak Zionis, dan korban luka mencapai 1600 orang, 46 dari mereka mengalami luka serius.

Sebelum aksi dimulai, ribuan demonstran berkonsentrasi di kemah kepulangan, Gaza Timur, para pemuda mulai membakar ban mobil dekat perbatasan, dan pembakaran ribuan ban dilakukan usai shalat Jumat dalam rangkaian aksi ‘Jumat Ban’.

Para pemuda Palestina meletakan ban-ban mobil yang hendak dibakar di tempat yang telah ditentukan, sesuai rencana, untuk membantu pergerakan di lapangan saat mulai dibakar.

Sementara itu pasukan Israel menebarkan para sniper  dan kekuatannya di dalam pagar perbatasan di belakang pembatas pasir, dan nampak mobil berisi tangki air, untuk mengantisipasi kobaran api yang mungkin meluas ke permukiman seberang Gaza, akibat pembakaran ban.

Meski ancaman datang, para demonstran Palestina tetap teguh menuju kemah kepulangan di sepanjang perbatasan Timur Gaza.

Juru bicara Hamas, Hazim Qasim menyatakan, ancaman Zionis tak akan membuat takut warga Palestina, kami tetap akan melanjutkan perjuangan melawan upaya pembersihan etnis dan blokade Gaza, untuk mengembalikan hak dan meraih kemuliaan hidup.*

Sumber : Hidayatullah.com

Gubernur Anies Gelar Silaturahmi bersama Ulama dan Tokoh

Gubernur Anies Gelar Silaturahmi bersama Ulama dan Tokoh

10Berita, Jakarta  - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan pertemuan silaturahmi dengan sejumlah ulama dan tokoh masyarakat di Balaikota Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Para ulama dan tokoh yang hadir antara lain KH Abdul Rasyid Abdullah Syafiie, KH Ahmad Lutfi Fatullah, Aru Syeif Assadullah, Ustaz Nazar Haris, Ustaz Muhammad Nur Sukma, Neno Warisman dan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Anies menyampaikan bahwa di dalam pertemuan itu ia ingin menyerap aspirasi dan masukan dari para tokoh yang hadir. "Dinamika di Jakarta ramai terus, karena itu mohon doa dari para ulama agar selalu dimudahkan," ujarnya.

Anies mengakui, meski kepemimpinannya sudah berjalan selama enam bulan, namun suasana Pilkada masih terasa khususnya di sosial media. "Tetapi yang terpenting, apa yang kita rencanakan satu-satu bisa dikerjakan," jelasnya.

Anies mengatakan, tantangan terbesarnya sebagai gubernur adalah masalah waktu. "Selama bertugas tentu ada kekurangan, dan salah satunya yaitu silaturahmi, per hari itu bisa 20 sampai 25 undangan yang masuk, inginnya bisa menghadiri semuanya tetapi sulit. Bukan tidak mau datang, tetapi ini masalah waktu," tuturnya.

Akan tetapi, setiap tidak bisa menghadiri acara, ia selalu mengutus wakilnya. "Dan salah satu hikmahnya, disaat banyak undangan subuh berjamaah misalnya, dan ketika saya tidak bisa, saya meminta para Wali Kota untuk menggantikan. Jadi Wali Kota Jakarta sekarang sering dapat disposisi memenuhi undangan subuh berjamaah," ujar Anies.

Sementara itu, para ulama dan tokoh dalam menyampaikan aspirasinya kebanyakan menyatakan kekagumannya mendapatkan pemimpin ibu kota seorang yang cerdas dan soleh. 

KH Ahmad Lutfi Fatullah misalnya, ia berharap masyarakat Jakarta bukan hanya pemimpinnya tetapi juga warganya menjadi pribadi-pribadi yang baik. "Oleh karena itu, kalau sebelumnya saya buat buku nasihat untuk pemimpin nanti saya akan buat buku nasihat untuk rakyat. Jadi kalau semuanya baik kan cakep tuh," ujar Kyai Lutfi dengan logat betawinya.

Acara yang berlangsung sekitar dua jam itu akhirnya ditutup doa oleh KH Abdul Rasyid Abdullah Syafiie.

Usai doa, semua berfoto bersama Anies dan saling menyapa serta bercengkrama dengan hangat. Mereka berharap agar momen silaturahmi seperti ini bisa rutin digelar.

Sumber : SI Online

Jumat, 06 April 2018

Masalah Pengangguran Bisa Jadi Bumerang Petahana Di Pemilu 2019

Masalah Pengangguran Bisa Jadi Bumerang Petahana Di Pemilu 2019


10Berita, Permasalahan lapangan pekerjaan akan menjadi bumerang bagi Perdana Menteri India Narendra Modi yang akan kembali maju mencalonkan diri dalam pemilu tahun 2019 mendatang.

Dalam pemilu 2014 lalu, lapangan pekerjaan baru adalah janji utama Modi dan merupakan salah satu faktor utama kemenangannya dalam pemilu pada saat itu. Banyak di antara kalangan muda yang menaruh harapan besar pada Modi agar bisa bekerja dengan layak di kantor dan mendapat penghasilan tetap.

Reuters mengambil contoh yang seperti yang terjadi di Kasba Bonli, sebuah kota pasar di negara bagian Rajasthan di tepi ladang gandum yang luas. Wilayah ini memiliki jumlah besar pemilih Partai Modar Bharatiya Janata (BJP) Modi pada pemilihan umum pada tahun 2013 dan pemilihan umum pada tahun 2014.

Hal itu lantaran banyak warga yang berharap Modi bisa mengkomodir pemuda setempat yang memiliki ijazah universitas namun masih menganggur.

Namun satu periode kepemimpinan Modi hampir berakhir, banyak warga India yang merasa belum menerima hasil dari janji Modi tersebut.

Tingkat pengangguran di India saya ini mencapai hampir dua pertiga dari 1,3 miliar orang di bawah 35 tahun. Jumlah ini mencapai tingkat tertingginya dalam 16 bulan pada bulan Maret di angka 6,23 persen, menurut Pusat Pengawasan Ekonomi India (CMIE).

Ram Vilas Paswan, seorang menteri di kabinet Modi, mengatakan data pekerjaan mengkhawatirkan dan bahwa pemerintah sedang berupaya untuk mengatasinya.

Namun demikian, Modi masih politisi paling populer di negara ini dan nampak sulit ditumbangkan kepopuleranya.

BJP atau mitranya memerintah 21 dari 29 negara bagian di India, naik dari hanya tujuh pada tahun 2014. Partai Kongres yang dulu perkasa ini menentang di New Delhi dan hanya mengendalikan tiga negara bagian. [rmol]

Sumber : Rmol, dakwahmedia.com

‘Jumat Kepulangan II’, Pasukan Zionis Kembali Anarkis

‘Jumat Kepulangan II’, Pasukan Zionis Kembali Anarkis


Massa Palestina dalam aksi Jumat Kepulangan II. (Aljazeera.net)

10Berita – Gaza. Sejumlah rakyat Palestina terluka akibat bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan zionis Israel. Bentrokan terjadi akibat lanjutan dari unjuk rasa ‘Pawai Kepulangan’ rakyat Palestina di perbatasan Gaza.

Meskipun masyarakat internasional dan Amerika Serikat telah mengingatkan Israel agar tidak menggunakan kekerasan. Namun fakta di lapangan tetap ada rakyat Palestina yang jatuh jadi korban keganasan senjata zionis.

Koresponden Aljazeera di Gaza, Wail al-Dahduh melaporkan pada Jumat (06/04/2018), puluhan ribu rakyat Palestina berkumpul di titik yang ditetapkan koordinator aksi. Koordinator juga telah menyiapkan tenda dan tempat untuk shalat. Sementara aksi dimulai dengan didahului Shalat Jumat.

Meski begitu, tambah Dahduh, sebagian pemuda sudah mulai melempari pasukan zionis di balik pagar dengan batu dan membakar beberapa ban, serta mengibarkan bendera Palestina.

Hal itu menyebabkan sejumlah massa harus terluka akibat peluru Israel, dan banyak lainnya terkena gas air mata yang juga ditembakkan pasukan zionis.

Sementara di sisi berlawanan, Koresponden Aljazeera Guevara al-Badiri juga melaporkan situasi di titik yang dikuasai zionis. Menurutnya otoritas zionis merasa malu dengan aksi damai tersebut. Mereka secara mendadak menggelar pertemuan untuk membahas perkembangan di Jalur Gaza.

Berdasarkan ketentuan, rakyat Palestina akan berkumpul di perbatasan timur Jalur Gaza. Tuntutan mereka masih sama seperti Jumat pekan lalu; yaitu hak kembali ke tanah kelahiran mereka setelah terusir pada 1948 silam. (whc/)

Sumber: Aljazeera, dakwatuna

Tendensius, Media Islamofobia Australia Sebut Pendemo Penista Sukmawati Sebagai “Garis Keras”

Tendensius, Media Islamofobia Australia Sebut Pendemo Penista Sukmawati Sebagai “Garis Keras”

10Berita, Kelompok Islam garis keras Indonesia menyerukan protes dan jihad terhadap putri mantan presiden pertama, Soekarno. Judul rasis ini disematkan Radio Australia ABC terkait aksi demo menuntut proses hukum terhadap Sukmawati Soekarnoputri yang digelar Jumat (06/04).

Sukmawati dianggap telah menistakan agama Islam lewat puisinya di acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya, di Indonesia Fashion Week 2018. Dalam puisinya, Sukmawati membandingkan konde dengan cadar dan kidung dengan adzan.

Tanpa ragu Radio Australia ABC mengutip seruan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’ruf Amin ketika mengadakan konferensi pers. “Kita perlu menyelesaikan perbedaan melalui dialog, untuk menemukan solusi dan kesepakatan. Kita tidak ingin konflik seperti di negara lain,” tulis media.

Bahkan media tendensius ini menyamakan aksi demo yang digelar pada hari ini dengan demo menuntut penista agama Ahok, dan menyebut mantan presiden Megawati dalam pemberitaannya.

Aksi demo yang dimaksud bertajuk Aksi Bela Islam 6-4, digelar di depan Bareskrim Mabes Polri, Jl. Merdeka Timur Gambir Jakarta Pusat. Aksi ini sendiri dimulai setelah pelaksanaan Shalat Jum’at, dengan titik kumpul di Masjid Istiqlal.

Demo yang diinisiasi Persaudaraan Alumni 212 itu mengusung slogan “Ayo Dukung Polri Tangkap, Adili dan Penjarakan Soekmawati Penista Agama”. (rau/ram)

Sumber : eramuslim.com

 

Pemikiran Sukmawati Keliru dan Berbahaya bagi Keindonesiaan

Pemikiran Sukmawati Keliru dan Berbahaya bagi Keindonesiaan

10BeritaJakarta  - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) sangat menyayangkan munculnya puisi -yang tidak ada angin dan tidak ada hujan-yang seolah mengundang kembali suasana pertentangan antara Keislaman dan keindonesiaan. Apalagi hal tersebut terjadi di tengah-tengah pendinginan dan penciptaan suasana ke arah yang lebih kondusif serta pemulihan kembali situasi bangsa pasca pilkada DKI yang begitu sangat tinggi dinamikanya.

"Yang lebih berbahaya lagi, puisi kontroversial itu datang dari anggota keluarga yang selama ini dihormati sebagai Bapak Bangsa, yang dalam ikut membidani lahirnya Indonesia sangat kental pemahaman tentang kultur Indonesia yang agamis, berbudaya, dan beradab," ungkap anggota Presidium KAHMI Ahmad Doli Kurnia dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (05/04/2018). 

Menurut Doli, Indonesia yang dilahirkan oleh Bung Karno dan founding father lainnya adalah Indonesia yang didasari oleh nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Kebersamaan yang saling menghargai dan menghormati keberagaman dan perbedaan. 

"Bagi Kahmi dan Keluarga Besar HMI, yang lahir dua tahun setelah kemerdekaan, nilai keislaman dan keindonesiaan adalah doktrin yang satu dan tak terpisahkan dalam berkomitmen dan melakukan seluruh peran, kontribusi, serta aktivitasnya sebagai anak bangsa. Dan kami akan selalu menjadi yang terdepan menjaga apabila ada kekuatan-kekuatan yang berupaya memisahkan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan," kata Doli. 

Menurut Doli, itu semua berlaku untuk setiap aspek kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Seluruh pemikiran, ucapan, prilaku, tindak tanduk sebagai anak bangsa haruslah mencerminkan pengembangan kehidupan yang damai, harmonis, rukun, dan tenteram berbasis nilai-nilai religiusitas dan kebudayaan Indonesia. 

"Apa yang telah dilakukan oleh Ibu Sukmawati adalah sesuatu yang dapat menciderai kehidupan yang sejak awal dibangun oleh orang tuanya. Apa yang disampaikan oleh Ibu Sukmawati tidak ada hubungannya dengan pertentangan seni, budaya, dan politik. Apa yang disampaikan Ibu Sukmawati adalah sesuatu pemikiran yang justru keliru, bertentangan, dan berbahaya bagi keindonesiaan," tegasnya. 

Doli menyarankan, langkah bijak yang harus dilakukan oleh Sukmawati adalah introspeksi diri serta memohon maaf kepada rakyat Indonesia, sebagai ksatria dan negarawan seperti sang Proklamator, ayahnya.

Sumber : SI Online

KH Didin: Umat Islam Pemaaf, Tapi Bagi Penista Agama Hukum Harus Ditegakkan

KH Didin: Umat Islam Pemaaf, Tapi Bagi Penista Agama Hukum Harus Ditegakkan


10Berita – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin angkat bicara soal permintaan maaf yang dilakukan Sukmawati Soekarnoputri atas dugaan penistaan agama melalui puisi Ibu Indonesia yang dibacakannya beberapa waktu lalu.

“Sehubungan dengan ajakan bagi umat Islam untuk memaafkan Sukmawati, saya ingin sampaikan bahwa umat Islam memang umat pemaaf dan diperintahkan untuk terus saling memaafkan seperti perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS Ali Imran ayat 134 dan 135. Tetapi hal tersebut jika berkaitan dengan urusan pribadi. Tidak boleh ada saling mendendam,” ujar Kyai Didin melalui pernyataan tertulisnya, Kamis (5/4).

Namun, kata Kyai Didin, jika berkaitan dengan penistaan agama seperti puisi Sukmawati yang menghujat syariat cadar dan syariat azan maka hukum harus ditegakkan.

“Orang yang secara sadar dan sengaja menghina syariat Islam harus diproses dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku,” tegas Kyai Didin. (swa)

Sumber :Eramuslim 

FSI: Jika dengan Kata ‘Maaf’ Kasus Jadi Selesai, Akan Muncul Pihak Lain Lakukan Hal yang Sama

FSI: Jika dengan Kata ‘Maaf’ Kasus Jadi Selesai, Akan Muncul Pihak Lain Lakukan Hal yang Sama


10Berita, Pelaporan atas dugaan tindak pidana dalam puisi ‘Ibu Indonesia’ oleh Sukmawati Soekarnoputri masih berlanjut. Setidaknya sampai Kamis kemarin diberitakan sudah 14 pihak yang melaporkan Sukmawati ke polisi.

Pada Kamis (5/4/2018) misalnya, di Bareskrim Mabes Polri, Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) mendampingi dua pelapor. Lalu, ada Forum Syuhada Indonesia (FSI) yang secara bersamaan juga mendampingi pelapor lainnya pada Kamis kemarin.

Tak tanggung-tanggung, ACTA langsung mendampingi dua pelapor sekaligus, yakni atas nama Riska karmila dan Edwin Irmansyah sebagai warga negara yang merasa resah atas puisi ‘Ibu Indonesia’ buatan Sukmawati.

“ACTA di sini hanya mengawal umat Islam yang merasa resah dan meminta ACTA mendampingi,” ungkap Akhmad Laksono, Wakil Ketua ACTA, di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat.

Sementara FSI sendiri mendampingi laporan atas nama Herlina Yulianti Azis. FSI juga menghadirkan beberapa saksi, di antaranya Rahmat Himran dari Forum Umat Islam Bersatu (FUIB), Arif Ikhsan dari Presidium Alumni 212 dan perwakilan Perhimpunan Notaris Muslim Indonesia (FNMI).Seperti diketahui, Sukmawati sendiri telah mengumumkan permintaan maafnya kepada umat Islam. Namun menurut Wakil Ketua ACTA Akhmad Laksono, hal itu tidak dapat menghapus proses hukum Sukmawati yang telah dilaporkan banyak pihak.

“Biarkan kepolisian bekerja dengan profesional dan maksimal untuk dugaan tindakan pidana ini. Biarkan pengadilan yang membuktikan bersalah atau tidaknya,” ujar Akhmad.

Begitu pula dengan FSI. Menurut Direktur LBH FSI, Khairul Amin, meskipun Sukmawati telah menyambangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan MUI meminta umat Islam untuk memaafkan, kata dia, proses hukum mesti tetap berlanjut.

“Kita mengapresiasi MUI untuk memaafkan, tanpa disuruh MUI kita memaafkan,” kata Khairul.

Menurut Khairul, dugaan tindak pidana pasal penodaan agama 156a, dan UU No. 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis pasal 16 yang dilakukan Sukmawati, jika tidak diteruskan prosesnya akan menjadi preseden buruk ke depannya.

“Ini preseden buruk nanti ke depannya, kalau kemudian dengan kata maaf itu menjadi selesai,” ujar Khairul. Nantinya, kata dia, akan muncul pihak yang melakukan hal yang sama dengan objek yang berbeda jika proses tidak dilanjutkan.

“Jika dengan Kata ‘Maaf’ Kasus Jadi Selesai, Akan Muncul Pihak Lain Lakukan Hal yang Sama,” terangnya. Begitu pun jika proses mediasi dilakukan antara Sukmawati dengan para pelapor. Menurut Khairul, FSI tidak akan pernah mencabut laporannya.

“Proses hukum harus lanjut, meskipun dia datang kepada kami untuk meminta maaf,” tegasnya.

Arif Ikhsan PA 212 (kiri), Pelapor Herlina Yulianti Aziz (tengah) dan Direktur LBH FSI Khairul Amin (kanan) usai melaporkan Sukmawati di Bareskrim Mabes Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (5/4). (Foto: MNM/Salam-Online)

Lebih lanjut, dia berharap polisi untuk bersikap adil dalam menangani proses hukum yang ada. Khairul pun membandingkan penanganan polisi atas beberapa aktivis Islam yang cepat diproses disbanding beberapa orang lainnya yang begitu lamban bahkan tak berlanjut, padahal sudah jadi tersangka.

Dia berharap, jangan sampai kasus Sukmawati berubah menjadi seperti yang terjadi atas kasus mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang karena proses hukumnya lamban, jutaan umat Islam pun turun menggelar aksi protes.

“Jangan sampai umat Islam memadati Monas seperti dulu (kasus Ahok),” ujarnya.

Sumber : salam-online.com

Ribuan Umat Islam Tuntut Adili Sukmawati di Bareskrim Polri

Ribuan Umat Islam Tuntut Adili Sukmawati di Bareskrim Polri


10Berita, Ribuan umat Islam bersiap-siap aksi longmarch dari Masjid Istiqlal menuju Bareskrim Mabes Polri yang berjarak 1 kilometer di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Sebuah mobil komando warna putih yang terparkir di jalan depan gerbang masjid juga sudah bergerak memutar arah. Pada mobil tersebut, terpasang spanduk besar bertuliskan ‘Maaf Bukan Berarti Hukum Berhenti’ dan foto wajah Sukmawati Soekarnoputri.

“Siap satu komando? Siap kita penjarakan si busuk?” teriak seorang orator dari atas mobil komando yang disambut sahutan kompak “siap” dari massa pendemo.

Mereka menuntut proses hukum terhadap putri proklamator Sukarno itu tetap berjalan meski bersangkutan sudah meminta maaf atas puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dinilai menyinggung agama Islam.

Sumber : Rmol