OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Rabu, 27 Juni 2018

LANGKA! Quick Count Pilkada Makassar, Kotak Kosong Unggul Dari Calon Tunggal

LANGKA! Quick Count Pilkada Makassar, Kotak Kosong Unggul Dari Calon Tunggal


10Berita, Berdasarkan perhitungan cepat ( quick count) beberapa lembaga survei pada Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar, calon tunggal Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu) belum unggul dari kotak kosong.

Hasil quick count itu antara lain dari Celebes Risiert Centre (CRC), Jaringan Suara Indonesia (JSI) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Berdasarkan hasil quick count tersebut, Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto (Danny Pomanto) sudah menyatakan bahwa kotak kosong memenangkan Pilkada Makassar sebelum perhitungan resmi KPU diumumkan.

Pada pilkada Makassar ini, Danny juga melakukan perhitungan suara secara real count. Menurut perhitungannya, di seluruh TPS di Kota Makassar telah menyatakan kotak kosong menang.

“Real count yang saya lakukan, karena semua TPS sudah ada hasilnya. Semua TPS sudah ada hasil perhitungan suaranya. Baik real count yang saya lakukan dan quick count yang dilakukan beberapa lembaga survei sama menyebutkan bahwa kotak kosong unggul dengan angka 53 persen dan 46 persen untuk calon tunggal,” kata Danny.

Danny juga menyebutkan, bahwa unggulnya kotak kosong dari calon tunggal dari Kota Makassar merupakan sejarah baru di Indonesia. Dimana untuk Pilkada untuk skala kota besar, baru kali ini ada calon tunggal dikalahkan oleh kotak kosong.

“Kota Makassar cetak sejarah baru di Indonesia, calon tunggal kalah dari kotak kosong. Untuk skala Kabupaten, pernah ada kotak kosong kalahkan calon tunggal di Maluku,” bebernya.

Dengan keunggulan kotak kosong di Pilkada serentak 2018, sambung Danny, Makassar kembali akan menggelar Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota pada Pilkada selanjutnya di tahun 2020.

Sumber: Kompas

Melihat Masjid Hijau Pertama di Malaysia

Melihat Masjid Hijau Pertama di Malaysia

Masjid Cyberjaya

Foto: http://www.cyberjayamalaysia.com.my

Pembuangan air bekas wudhu digunakan untuk menyirami lanskap

10Berita , JAKARTA --  Masjid yang dikenal sebagai Green Mosque atau Masjid Hijau ini menjadi masjid pertama di Malaysia yang menerima penghargaan platinum indeks bangunan hijau. Penghargaan itu sangatlah tepat mengingat Masjid Cyberjaya berlanskap ramah lingkungan. Mengunjungi masjid yang dibangun dengan biaya 62 juta ringgit Malaysia ini seakan berada di alam terbuka.

Dibangun di atas tanah seluas 109 hektare, Masjid Cyberjaya mengangkat konsep modern mengedepankan prinsip praktis, ekonomis, dan juga akrab dengan perkembangan teknologi. Hampir semua fasilitasnya menggunakan pendekatan teknologi modern tetapi tetap hemat biaya.

Dalam penggunaan teknologi, misalnya, pembuangan air bekas wudhu digunakan untuk menyirami lanskap nan tertata rapi di masjid yang didominasi satu warna putih ini. Tentunya air pembuangan wudhu itu sudah melalui proses penyaringan sebelum menyirami selurah tanaman yang ada.

Sistem pemanfaatan air bekas wudhu itu jarang digunakan masjid-masjid pada umumnya. Air bekas wudhu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga tidak terbuang begitu saja. Masjid ini juga memakai sistem pemanfaatan air hujan.

masa pembangunan Masjid Cyberjaya, Malaysia.


Optimalisasi teknologi di masjid yang mampu menampung 10 ribu jamaah ini, juga terletak pada penerangan. Seluruh sistem penerangan Masjid Cyberjaya ini menggunakan light emitting diode (LED) yang dipercaya dapat menghemat arus listrik pada lampu sampai 75 persen.

Masjid ini sengaja didesain dengan konsep kubah yang berbeda. Kubah pada masjid biasanya berada di tengah-tengah bangunan. Namun, pada Masjid Cyberjaya menempatkan kubah pada bagian samping. Sementara bagian tengah dibiarkan lengang seperti layaknya halaman depan.

Namun, di bagian tengah itu tetap diberi rongga yang panjangnya sampai ke dasar masjid. Diameter rongga itu juga sangat besar sehingga saking besarnya diameter yang dimiliki rongga, satu mobil bus dalam posisi normal saja bisa masuk.

Masjid Cyberjaya, Malaysia


Desain masjid ini adalah untuk menggambarkan Islam sebagai agama yang progresif dengan menggunakan pendekatan kontemporer tanpa menghilangkan identitas kemelayuannya. Masih terdapat ukiran tradisional Malaysia yang sederhana. Cerminan kesederhanaan dan kemurnian Arsitektur Islam modern di Malaysia ini menyesuaikan dengan iklim tropis di Malaysia. Selain itu, seni ukir yang mendominasi di setiap bagian atas masjid juga sebagai cerminan bahwa Masjid Cyberjaya adalah contoh kota hijau masa depan.

Penempatan bangunan didasarkan pada 100 situs acre, mengikuti rencana induk yang ke depannya akan dibangun di Universitas Islam Malaysia sehingga konsep dan tata letak masjid  dan universitas tidak berjauhan dan hal itu juga bisa memudahkan perancangan bangunan baru yang nantinya oleh arsitek lain.

Keterkaitan antara masjid dan universitas ditunjukkan pada bentuk "Pending" Royal, sabuk gesper berbentuk oval yang terbuat dari emas atau perak. Nah, posisi seperti itulah yang nantinya digunakan untuk pembangunan masa depan kompleks Universitas Islam Malaysia.

Interior dalam Masjid Cyberjaya, Malaysia


Selain megah, masjid ini juga memiliki banyak hiasan sebagai pelengkap yang eksotis. Hiasan yang ada di dalam maupun di luar masjid, semuanya dikonsep ramah lingkungan. Hiasan atau fitur yang terdapat di dalam masjid ialah Courtyard Central, The Glass Dome, dan Lanscape.

Courtyard Central yang ada pada halaman tengah ini berada di area masjid yang dirancang sebagai ventilasi alami dan sumber cahaya. Bunga tanjung ditempatkan di tengah bangunan untuk berteduh. Rumput sintetis yang diletakkan di tempat tersebut menjadi pelengkap keeksotisan Courtyard Central.

Bagian depan Masjid Cyberjaya, Malaysia


Sementara itu, hiasan masjid yang ada di bagian luar dapat melengkapi keindahan bangunan masjid yang ada pada menara. Menara milik Masjid Cyberjaya memiliki desain modern yang terbuat dari lempengen kayu yang dicat warna cokelat

Menara modern ini memiliki lebar lima meter dan panjang sekitar 27 meter. Menara ini menjadi titik fokus kalau bangunan megah berwarna putih itu adalah masjid. Menara ini ditempatkan di bagian bangunan yang strategis menghadap jalan utama.

Pernyertaan konsep hijau pada Masjid Cyberjaya ini diharapkan bisa menjadi model yang benar untuk membangun masa depan masjid di Malaysia. Tujuan atau maksud desain dari masjid ini bukan hanya untuk menghemat energi dan biaya operasional masjid, melainkan juga bisa memaksimalkan penggunaan bahan yang dapat didaur ulang dan akhirnya akan membantu melindungi lingkungan.

"Ini adalah kesempatan bagi kita untuk kembali melihat dan berpikir ulang desain masjid jangan sampai menjadi masalah lingkungan. Dari kesadaran ini sehingga arsitek lain mungkin di kemudian hari membangun dari pendekatan kami," kata Ketua Pegawai Eksekutif Atsa Arsitek Azim A Aziz

Tujuan dari masjid ini tidak hanya tempat untuk shalat, tetapi juga bisa menunjang kebutuhan masyarakat setempat yang masih sesuai dengan syariat Islam, seperti festival dan upacara keagamaan. Seperti halnya masjid di Malaysia yang digunakan juga untuk acara-acara seperti akad nikah, kajian Islam, dan lainnya.

Sumber :  Republika

Hasil Pilgub 2018, PDIP Gagal di Jawa dan Sumatera

Hasil Pilgub 2018, PDIP Gagal di Jawa dan Sumatera

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Foto: ist

10Berita, Masyarakat di 17 provinsi sudah menuntaskan haknya untuk memilih pemimpin melalui Pilkada serentak 2018. Meski hasil resmi masih harus menunggu keputusan KPU, berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei, inilah daftar pemenang Pilgub di 14 provinsi.

Di Bali berdasarkan hasil hitung cepat lembaga Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) pasangan - Wayan Koster-Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati yang disung PDIP, PAN, Hanura, PKPI unggul atas Bagus Rai Dharmawijaya Mantra-I Ketut Sudikerta dengan perolehan

Sementara di Sulawesi Selatan pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman yang diusng PDIP, PKS, dan PAN mengalahkan lawan-lawannya. Hasil quick count SMRC pasangan nomor 3 memperoleh 55,3 persen suara, bersaing ketat dengan pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar.

Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah memenangkan Pilgub Sumatera Utara. Pasangan yang diusung Nasdem, Gerindra, PAN, Golkar, Hanura, PKS dan Demokrat ini mengalahkan Djarot Saiful Hidayat-Sihar PH Sitorus yang dijagokan PDIP dan PPP.

Ilustrasi: ist

Di Kalimantan Barat pasangan nomor urut 3 Karolin Margret Natasa-Suryadman Gidot yang diusung PDIP, Demokrat dan PKPI unggul jauh dibanding 2 pasangan lawannya. Kemenangan Bupati Landak ini sudah diprediksi sejak awal karena Kalimantan Barat memang merupakan basis PDIP dan Karolin adalah putri MH Gubernur Kalbar periode 2008-2018, Cornelis MH.

Hal yang sama terjadi di Jawa Tengah. Pasangan Ganjar Pranowo – Taj Yasin dengan mudah mengalahkan Sudirman Said – Ida Fauziyah. Berdasarkan hasil quick count SMRC, pasangan yang diusung PDI-P, PPP, Demokrat, Nasdem ini unggul dengan perolehan 58 persen suara lebih

Persaingan ketat terjadi di Jawa Barat. Pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzanul Ulum sukses mengungguli pesaing berat Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi dan Sudrajat – Ahmad Syaikhu. Jagoan PDIP, Tb Hasanudin – Anton Charliyan berada di urutan buncit.

Persaingan ketat yang diprediksi akan terjadi di Jawa Timur karena keduanya berasal dari basis yang sama, ternyata tidak terjadi. Pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto unggul jauh dibanding Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno yang diusung PDIP, PKB, Gerindra dan PKS.

Di Nusa Tenggara Barat, pasangan Zulkieflimansyah-Siti Rohmi Djalilah yang diusung Partai Demokrat dan PKS unggul telak dibanding tiga pasangan lawannya. Sementara di Nua Tenggara Timur di mana pasangan Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Andreanus Nae Soi yang diusung Nasdem, Golkar dan Hanura mengungguli pasangan yang diusung partai-partai besar termasuk PDIP, Gerindra maupun Demokrat.

Koalisi Gerindra, PKS dan PAN akhirnya bisa menang di Pilgub 2018 tepatnya di Kalimantan Timur. Pasangan Isran Noor-Hadi Mulyadi berhasil mengalahkan pasangan Rusmadi Wongso-Safaruddin yang diusung PDIP dan sempat diunggulkan dalam sejumlah survei.

Di Riau pasangan Syamsuar-Edy Nasution yang diusung PAN, Nasdem dan PKS unggul dibanding lawan-lawannya. Sementara di Lampung, pasangan yang Golkar, PKB dan PAN berhasil mengalahkan petahana M. Ridho Ficardo dan juga Herman HN yang dijagokan PDIP.

PAN kembali unggul di Sumatera Selatan setelah pasangan yang diusung bersama Nasdem dan PKS, Herman Deru-Marwadi Yahya unggul jauh dibanding pasangan lainnya. Pasangan Dodi Reza Alex Nurdin-M Giri Ramanda N. Kiemas yang diusung PDIP, PKB dan Golkar berada di urutan kedua dengan perolehan 30,45 persen.

Pasangan calon gubernur Murad Ismail-Barnabas Orno melesat meninggalkan dua pasangan calon lainnya, yakni Said Assagaf-Andreas Rentanubun dan Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath dalam Pilgub Maluku. Pasangan ini diusung koalisi besar yakni Gerindra, PKB, PDI-P, Nasdem, PKPI, PAN, PPP dan Hanura.

Hasil hitung cepat Pilgub di 14 dari 17 daerah itu menunjukkan PDIP gagal di Jawa dan Sumatera. Jika di Jawa, PDIP masih bisa mempertahankan Jawa Tengah, tidak demikian dengan di Sumatera. Dari 4 Pilgub, PDIP gagal meraih kemenangan. Ini tentu warning serius bagi PDIP dan juga Presiden Jokowi mengingat Pemilu dan Pilpres 2019 praktis kurang dari setahun. @yb

Sumber :UC News 

Ternyata Ini Penyebab Tagihan Listrik Anda Mahal

Ternyata Ini Penyebab Tagihan Listrik Anda Mahal

10Berita, Anda sering melihat tagihan listik yang tinggi, padahal penggunaannya dirasa sangat wajar dan kita pun pasti bertanya-tanya.

Kalau Anda mengalaminya, kesalahannya mungkin bukan pada meteran listrik, melainkan pada penggunaan listrik yang salah.

Tanpa sadar, Anda sering mengabaikan beberapa hal kecil yang ternyata menggunakan energi listik yang cukup besar.

Berikut pemborosan listrik yang tanpa sadar Anda lakukan, yang membuat tagihan listrik membengkak.

1. Menyalakan Pemanas Air 24 Jam
Anda tidak sadar jika penggunaan dispenser dengan konsumsi daya 300 atau 500 watt selama 24 jam nonstop sangat menyedot listrik. Selain itu, kebiasaan ini juga membuat dispenser lebih cepat rusak.

Sebaiknya, selalu matikan dispenser setelah digunakan. Jika ingin lebih praktis, gunakan timer digital. Anda pun bisa sesuka hati mengatur kapan dispenser menyala atau mati.

2. Menurunkan Suhu AC Terlalu Rendah
Mesin pendingin ruangan (AC) membutuhkan tambahan daya sebanyak 6 persen ketika suhu diturunkan setiap satu derajat.

Oleh karena itu, penghematan dapat dilakukan dengan memasang suhu ideal 24-25 derajat Celcius.

Suhu ideal itu dapat optimal dirasakan jika ruangan tertutup rapat. AC juga tidak lagi boros energi apabila filter dan coil rutin dibersihkan.

3. Sering Memati-Hidupkan Alat Elektronik
Sering memati-hidupkan alat elektronik, misalnya pompa air atau lampu, juga merupakan pemborosan listrik karena alat listrik membutuhkan daya yang lebih besar ketika dihidupkan.

Jadi, semakin sering kita mati-hidupkan, maka daya yang dikonsumsi juga akan semakin besar.

Sumber: inspiradata.com

Libur Pilkada, Pemprov DKI Hapus Denda Pajak Kendaraan

Libur Pilkada, Pemprov DKI Hapus Denda Pajak Kendaraan

10Berita – Pelayanan pajak DKI Jakarta tetap beroperasi selama libur Pilkada Serentak pada hari ini, Rabu 27 Juni 2018.

“Lalu libur Pilkada ini tidak membuat Pemprov lalu beristirahat. Semua kegiatan pelayanan kita tetap siapkan, khususnya yang berkaitan dengan pembayaran PBB dan pajak kendaraan bermotor itu tetap kita buka,” kata Anies Baswedan di Kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (27/6).

Malahan, kata Anies, di hari libur ini Pemprov menggratiskan denda keterlambatan pembayaran pajak kendaraan bermotor bagi warga Jakarta. Kesempatan ini sekaligus dalam rangka merayakan hari jadi kota Jakarta yang ke-491.

“Bagi warga yang mau menunaikan silakan. Dalam rangkaian ulang tahun Jakarta juga ini, kita membebaskan denda keterlambatan pembayaran pajak kendaraan bermotor,” ujarnya.

Kesempatan ini hanya berlaku hingga 21 Juli mendatang.

“Itu kita bebaskan sampai tanggal 21 Juli, jadi pembayaran 22 (Juni) sampai 21 Juli. Kalau anda punya tunggakan, bayarkan pajaknya, tidak ada dendanya,” tukasnya. ()

Sumber :rmol

Beda Pilkada, Beda Pilpres

Beda Pilkada, Beda Pilpres

oleh: Tony Rosyid,

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

10Berita, 2018, ada 171 pilkada sedang digelar. Utamanya di pulau Jawa. Jumlah pemilihnya 100 jutaan. Ada tiga propinsi di Jawa yang ikut Pilkada. Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dilihat dari koalisi partai, acak Adut. Tak menunjukkan keterbelahan koalisi istana vs koalisi oposisi. Di Jateng, PKB berkoalisi dengan PKS, PAN dan Gerindra. Di Jatim, Gerindra dan PKS berkoalisi dengan PKB dan PDIP. Di Jabar, koalisi partai pendukung istana pecah. Ada tiga paslon.

Di Jabar, terjadi persaingan ketat antara pasangan Ridwan Kamil-Uu (diusung Nasdem, Hanura, PKB dan PPP) vs Dedy Mizwar-Dedi Mulyadi (diusung Golkar dan Demokrat). Sama-sama partai koalisi pendukung Istana. PDIP punya calon sendiri. Sementara partai oposisi, PKS, PAN dan Gerindra kompak, usung Sudrajat-Saikhu.

SBY meradang ketika rumah dinas mantan Wagub Jabar, Dedy Mizwar, digeledah. Bahkan menuduh "oknum" TNI, Polri dan BIN tidak netral. Tantang BIN untuk ciduk SBY kalau gak terima. Kalau begini, berarti sudah cukup serius. Seolah benar-benar ada operasi khusus untuk mengalahkan pasangan Dedy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Ridwan Kamil-Uu adalah calon yang dibesut istana. Jokowi dicurigai ikut memberi dukungan kepada pasangan ini. Sementara, Dedy Mizwar sudah ada MoU dengan Demokrat. Diantara isi MoU itu, Dedy Mizwar akan mendukung siapapun capres-cawapres yang didukung Demokrat.

Jabar punya jumlah pemilih paling besar. Lebih dar 30 juta. Siapapun bakal capres-cawapres, punya kepentingan terhadap Jabar. Jokowi 3-5 kali setiap bulan "sidak" ke Jabar. Sidak atau pengkondisian? Beda tipis.

Jika bukan calon dari istana yang menang, Jabar bisa tak terkendali. Ikhtiar dan ritual kunjungan Jokowi ke Jabar akan dianggap sia-sia. Sementara SBY berupaya mengambil Jabar dengan memenangkan pasangan Dedy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Di Jawa, calon istana berpeluang menang. Di Jabar, elektabilitas Ridwan Kamil-Uu paling tinggi. Meski Dedy-Dedi dan pasangan Sudrajat-Saikhu berupaya mengejar. Di Jateng, Ganjar-Yasin yang dibesut istana mengungguli Sudirman Said-Fauziyah. Di Jatim, Khofifah-Emil Dardak, calon yang diidamkan Jokowi, melampui suara Gus Ipul-Puti.

Apakah jika paslon istana menang di Pilkada, terutama di Jawa, otomatis akan melanggengkan Jokowi di pilpres 2019? Tidak. Pertama, koalisi istana tidak tunggal. Terbelah oleh kepentingan koalisi. Silang koalisi terjadi di beberapa wilayah. Partai pemerintah dan oposisi campur aduk. Kedua, calon tidak merepresentasikan kepentingan istana maupun lawan istana.

Pilkada, bagi para pemilih, lebih merepresentasikan figur. Bukan representasi istana atau partai. Kalau toh ada, tidak terlalu dominan. Prosentasenya tidak terlalu signifikan. Artinya, hasil pilkada 2018 tidak terlalu berpengaruh pada hasil pilpres 2019. Pemilih pilkada sangat cair, tidak dikotomis. Beda dengan pemilih di pilpres, pendukung istana dan oposisi terbelah. Kelompok "Ganti Presiden" berhadap-hadapan, tidak saja secara politik, tapi juga secara emosional dengan kelompok pendukung Jokowi. Siapapun pemenang pilkada, pilpres punya variabel yang berbeda.

Kecuali di Jabar. Sedikit agak beda. Sebab, pertama, partai oposisi punya pasangan sendiri. Kedua, heroisme 212 berasal dari Jabar. Ketiga, Jabar paling besar jumlah pemilihnya. Jika pasangan oposisi menang, benar-benar bisa jadi sunami buat Jokowi di pilpres 2019. Oposisi kalah, tak terlalu berpengaruh. Sebab, partai koalisi istana pecah.

Kesimpulannya, pilkada Beda dengan pilpres. Pemilih walikota, bupati, terutama gubernur di tiga wilayah Jawa, Sumut dan Sulsel, tidak terafiliasi secara otomatis dengan capres dan cawapres di 2019. Seandainya pasangan yang dicalonkan istana menang di tiga wilayah Jawa, tak otomatis mereka akan pilih Jokowi. Pendukung Khofifah, bukan identik pendukung Jokowi. Pendukung Gus Ipul, bukan juga pendukung lawan Jokowi. Itupun jika Jokowi dapat tiket dan berkesempatan maju di pilpres 2019. Sebab, jika PDIP dan Golkar tarik diri, Jokowi tak jadi nyapres. Bisa terjadi? Sangat bisa!

Pendukung Gus Yasin di Jawa Tengah, para ulama dan santri K.H. Maemoen Zubair, tidak bisa diidentifikasi sebagai pendukung Jokowi. Banyak dari mereka ikut demo 212 dan tidak simpatik ke Jokowi. Begitu juga pendukung Fauziyah dari PKB, belum tentu tidak dukung Jokowi.

Di Jabar lebih susah lagi. Cagub-cawagubnya ada empat. Punya agenda setting masing-masing. Kalau toh pasangan Ridwan Kamil-Uu menang, suaranya tidak akan sampai 50%. Itupun belum tentu dukung Jokowi. So? Hasil pilkada, bukanlah gambaran dari pilpres. (*)

Sumber : Indopos

Presiden Jokowi harus tegas untuk penegakan hukum kasus terorisme dan separatisme di bumi Papua

Presiden Jokowi harus tegas untuk penegakan hukum kasus terorisme dan separatisme di bumi Papua


10Berita - Terkait tragedi menjelang pemilu serentak berupa penembakan pesawat logistik KPU di bandara Kenyam Kabupaten Nduga Papua pada tanggal 25 Juni 2018 yang mengenai pesawat Trigana Air dan  pilot dilanjutkan penembakan dan pembunuhan 3 warga yang diduga dilakukan oleh  Organisasi  Papua  Merdeka maka The Islamic Study and Action Center (ISAC) berpendapat bahwa:

1. Indonesia berduka, bahwa kasus ini harus segera diusut tuntas, karena sudah nyata nyata telah berbuat sadis, kejam dalam melawan pemerintah beserta warga dengan penembakan pesawat dan 3 korban meninggal dunia warga sipil

2. Pemerintah harus tegas, jangan terkesan membiarkan, mentolerir perilaku OPM sebagai tindakan kriminal biasa, namun harus ditindak sebagai organisasi separatis dan terorisme

3. Terorisme dalam kasus  ini nampak sekali bermotif politik, separatis dan gangguan Kamtibmas

4. Pelibatan Densus 88 dan TNI  harus segera disinergikan untuk penegakan hukum terhadap semua pelaku dan aktor intelektualnya

5. Mempertanyakan sikap BNPT yang seolah tidak berdaya menangani kasus terorisme di bumi Papua

6. Kasus ini seharusnya menjadi operasi prioritas pemerintah, jika membandingkan dengan kasus bom di Surabaya aparat mampu menangkap ratusan orang dan menembak mati beberapa orang, maka ISAC menunggu langkah dan sikap aparat penegak hukum dalam kasus tetorisme dan separatisme di bumi Papua.

Solo, 27 Juni 2018
The Islamic Study and Action Center (ISAC)
Sekretaris
Endro Sudarsono

Sumber : konten Islam

Kepala Daerah yang Menang Jangan Dijadikan Mandor Politik dan ATM Partai!

Kepala Daerah yang Menang Jangan Dijadikan Mandor Politik dan ATM Partai!

Suasana adat Jawa yang kental di TPS 3 Sidodadi Samarinda Ulu, Samarinda Kaltim| AKURAT.CO/Ibnu Rusyd

10Berita,  Ketua Progres 98 Faizal Assegafberharap kepala daerah yang menang hari ini jangan dijadikan mesin uang untuk kepentingan partai.

"Siapapun yang terpilih di pilkada serentak adalah putra-putri terbaik bangsa untuk melayani rakyat secara adil dan tanpa diskriminasi. Kepala daerah yang menang tidak boleh diposisikan sebagai mandor politik dan ATM bagi kepentingan parpol manapun. Selamat berdemokrasi dengan ceria, jujur, dan beradab," tulis Faizal Assegafmelalui akun Twitter.

Sementara itu, Presiden Joko Widodomengajak masyarakat memilih pemimpin terbaik sekaligus mengingatkan bahwa pilihan boleh berbeda tetapi semua tetap bersaudara.

"Mari memilih pemimpin terbaik di kabupaten, kota dan provinsi. Pilihan boleh berbeda, tetapi kita tetap bersaudara. Selamat memilih!," tulis Presiden Jokowi melalui akun Twitter @jokowi yang diunggah sekitar pukul 08.01 WIB.

Pada Rabu ini, pemilihan kepala daerah dilaksanakan serentak di 171 daerah pemilihan di Tanah Air. Para warga memilih 17 gubernur, 115 bupati, dan 39 wali kota.

Presiden Jokowi mengajak masyarakat untuk memilih pemimpin terbaik. Presiden juga mengingatkan bahwa "pilihan boleh berbeda tetap tetapi kita tetap bersaudara."

Kepala Negara mengingatkan pilihan politik boleh berbeda, tetapi setelah itu biarkan pemimpin yang kita pilih bekerja selama lima tahun.

"Saya mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia untuk bersatu padu terlepas apapun pilihan politik kita," kata Presiden Jokowi melalui fanpage Facebooknya.

Sebagai bangsa yang besar, lanjut Kepala Negara, sesungguhnya Indonesia masih harus menghadapi persoalan yang jauh lebih besar di masa datang, dan persoalan tersebut hanya dapat dihadapi dengan persatuan bangsa.

Dalam pilkada serentak 2018 yang digelar Rabu ini, tercatat ada 514 pasangan calon berebut menjadi gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, dan wali kota, wakil wali kota.

Rinciannya sebanyak 435 pasangan calon atau 84 persen diusung partai politik dan sebanyak 79 pasangan calon atau 16,6 persen berasal dari jalur perseorangan.

Untuk aparatur sipil negara sejumlah 153 calon, TNI/Polri 13 calon, politikus 448 calon, dan swasta 500 calon. Untuk 153 ASN yang mencalonkan Pilkada sebanyak 6 gubernur, 59 bupati, 18 wali kota dan 15 wakil wali kota. []

Sumber :UC News 

Pentingnya Sifat Kehati-Hatian

Pentingnya Sifat Kehati-Hatian

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net

Sikap wara sangat dijaga oleh generasi salaf.

10Berita ,  JAKARTA --  Ayahanda Abu Hanifah, pencetus Mazhab Hanafi, itu memiliki sikap wara dan menghindari perkara syubhat. Cerita tersebut seperti dinukilkan dari kitab al-Aghani, karya Abu al-Faraj al-Ishbahani.

Suatu saat, Tsabit bin Zutha tersebut sedang berjalan di pinggiran Kota Kufah, Irak. Terdapat sungai yang jernih dan menyejukkan di sana. Tiba- tiba, sebuah apel segar tampak hanyut di sungai itu.

Dalam kondisi yang lapar, Tsabit pun memungut apel tersebut. Rezeki yang datang tiba-tiba, sebuah apel datang tanpa diduga di saat yang tepat. Tanpa pikir panjang, ia pun memakannya, mengisi perutnya yang keroncongan. Baru segigit menikmati apel merah nan manis itu, Tsabit tersentak. Milik siapa apel ini? Bisiknya dalam hati.

Meski menemukannya di jalanan, Tsabit merasa bersalah memakan apel tanpa izin empunya. Bagaimanapun, pikir Tsabit, buah apel dihasilkan sebuah pohon yang ditanam seseorang. "Bagaimana bisa aku memakan sesuatu yang bukan milikku,"kata Tsabit menyesal.

Ia pun kemudian menyusuri sungai. Dari manakah aliran air membawa apel segar itu?

Tsabit berpikir akan bertemu dengan pemilik buah dan meminta kerelaannya atas apel yang sudah digigitnya itu. Cukup jauh Tsabit menyusuri aliran sungai hingga ia melihat sebuah kebun apel.

Beberapa pohon apel tumbuh subur di samping sungai. Rantingnya menjalar dekat sungai. Tak mengherankan jika buahnya sering kali jatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus air.

Tsabit pun segera mencari pemilik kebun. Ia mendapati seseorang tengah menjaga kebun apel tersebut. Tsabit menghampirinya seraya berkata, Wahai hamba Allah, apakah apel ini berjenis sama dengan apel di kebun ini? Saya sudah mengigit apel ini, apa kau memaafkan saya? kata Tsabit sembari menunjukkan apel yang telah dimakan segigit itu.

Namun, penjaga kebun itu menjawab, Saya bukan pemilik kebun apel ini. Bagaimana saya dapat memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya? Pemilik kebunlah yang berhak memaafkanmu. Lalu, penjaga kebun itu pun berkata, Rumahnya (pemilik kebun apel) cukup jauh, sekitar lima mil dari sini.

Walau harus menempuh jarak sekitar delapan kilometer, Tsabit tak putus asa untuk mencari keridhaan pemilik apel. Akhirnya, ia sampai di sebuah rumah dengan perasaan gelisah, apakah si pemilik kebun akan memaafkannya. Tsabit merasa takut sang pemilik tak meridhai apelnya yang telah jatuh ke sungai digigit olehnya.

Mengetuk pintu, Tsabit mengucapkan salam. Seorang pria tua, si pemilik kebun apel, membuka pintu. Wahai hamba Allah, saya datang ke sini karena saya telah menemukan sebuah apel dari kebun Anda di sungai, kemudian saya memakannya.

"Saya datang untuk meminta kerelaan Anda atas apel ini. Apakah Anda meridhainya? Saya telah mengigitnya dan ini yang tersisa," ujar Tsabit memegang apel yang digigitnya.

Agak lama pemilik kebun apel itu terdiam mendengar ucapan Tsabit. Lalu, Tsabit pun tersentak ketika sang tuan rumah berkata, Tidak, saya tidak merelakanmu, Nak. Penasaran dengan pemilik kebun apel yang mempermasalahkan satu butir apel, Tsabit menanyakan apa yang harus ia lakukan agar tindakannya itu dimaafkan. Saya tidak memaafkanmu, demi Allah, kecuali jika kau memenuhi persyaratanku, pria tua itu menjawab.

Persyaratan apa itu? tanya Tsabit harap- harap cemas. Kau harus menikahi putriku, kata pemilik kebun yang mengagetkan Tsabit. Menikahi seorang wanita bukanlah sebuah hukuman, pikir Tsabit. Benarkah itu yang menjadi syarat Anda?

"Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri Anda? Itu adalah anugerah yang besar, tanya Tsabit tak percaya.

Begitu terperanjatnya Tsabit ketika pemilik kebun itu berkata bahwa putrinya yang harus Tsabit nikahi merupakan wanita cacat. Putriku itu buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Tak mampu berjalan, apalagi berdiri. Kalau kau menerimanya, maka saya akan memaafkanmu, Nak, kata pria tua.

Syarat yang mungkin sulit masuk di akal, hukuman yang harus ditanggung Tsabit hanya karena mengigit sebutir apel yang ia temukan di sungai. Namun, hal yang lebih mengejutkan, Tsabit menerima syarat tersebut karena merasa tak memiliki pilihan lain.

Sementara, ia tak ingin berdosa mengambil hak yang bukan miliknya. Tsabit, seorang pemuda tampan, harus menikahi wanita cacat hanya karena menemukan sebuah apel. "Datanglah ba'da Isya untuk berjumpa dengan istrimu,"kata pemilik kebun.

Kejutan Malam hari usai shalat Isya, Tsabit pun menemui calon istrinya yang cacat. Ia masuk ke kamar pengantin wanita dengan langkah yang berat. Hatinya dipenuhi pergolakan luar biasa, tapi pemuda gagah itu tetap bertekad memenuhi syarat sang pemilik apel. Tsabit pun mengucapkan salam seraya masuk ke kamar istrinya.

Betapa terkejutnya Tsabit ketika mendengar jawaban salam dari wanita yang suaranya lembut nan merdu. Tak hanya itu, wanita itu mampu berdiri dan menghampiri Tsabit. Begitu cantik paras si wanita tanpa cacat apa pun di anggota tubuhnya yang lengkap. Tsabit kebingungan, ia berpikir salah memasuki kamar dan salah menemui wanita yang seharusnya merupakan istrinya yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh.

Tak percaya, Tsabit pun mempertanyakan si gadis bak bidadari tersebut. Namun, Tsabit tidak salah, ialah putri pemilik kebun apel yang dinikahkan dengannya. Apa yang dikatakan ayah tentang aku? tanya si gadis mendapati suaminya mempertanyakan dirinya seolah tak percaya.

"Ayahmu berkata kau adalah seorang gadis buta,"kata Tsabit.

"Demi Allah, ayahku berkata jujur, aku buta karena aku tidak pernah melihat sesuatu yang dimurkai Allah,"jawab si gadis membuat Tsabit kagum.

"Ayahmu juga berkata bahwa kau bisu,"ujar Tsabit masih dalam nada heran.

"Ya benar, aku tidak pernah mengucapkan satu kalimat pun yang membuat Allah murka," kata si gadis.

"Tapi, Ayahmu mengatakan, kamu bisu dan tuli," lanjut Tsabit.

"Ayahku benar, demi Allah, aku tidak pernah mendengar satu kalimat pun, kecuali di dalamnya terdapat ridha Allah," jawab gadis cantik itu.

"Tapi, ayahmu juga bilang bahwa kau lumpuh, pertanyaan terakhir Tsabit.

"Ya, ayah benar dan tidak berdusta. Aku tidak pernah melangkahkan kakiku ke tempat yang Allah murkai, ujar si gadis membuat Tsabit begitu terpesona.

Tsabit memandangi istrinya yang cantik jelita itu. Ia pun mengucapkan syukur. Sang pemilik kebun kagum dengan sifat kehati-hatian Tsabit dalam memakan sesuatu hingga jelas kehalalannya.

Sumber :Republika.co.id 

Kalah di DKI Jakarta, Kini Djarot Kalah Lagi di Sumatera Utara

Kalah di DKI Jakarta, Kini Djarot Kalah Lagi di Sumatera Utara


10Berita, Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Djarot Saiful Hidayat kembali kalah Pilkada. Hal itu berdasarkan quick count Pilgub Sumut 2018.

Sebelumnya, Djarot adalah Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Ahok pada Pilgub DKI Jakarta tahun lalu. Pada Pilkada Serentak 2018 ini, PDIP kembali memajukan Djarot menjadi Calon Gubernur di Sumatera Utara.

Berpasangan dengan Sihar PH Sitorus, ia mendapat nomor urut 2 dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu), 27 Juni 2018. Djarot Saiful Hidayat – Sihar PH Sitorus yang disingkat dengan DJOSS berhadapan dengan pasangan Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah yang disingkat dengan ERAMAS.

DJOSS didukung oleh PDIP dan PPP. Sedangkan ERAMAS didukung oleh Golkar, PKS, Gerindra, PAN, Nasdem dan Hanura. 

Berdasarkan quick count, DJOSS tertinggal cukup jauh dari ERAMAS.

Berikut ini hasil quick count sementara dari sejumlah lembaga survei:

Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC)

Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah (ERAMAS) : 58,96 persen
Djarot Saiful Hidayat – Sihar PH Sitorus (DJOSS) : 41,04 persen

Data masuk: 75,33% (Pukul 15:15 WIB)



Charta Politika

Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah (ERAMAS) : 60,97 persen
Djarot Saiful Hidayat – Sihar PH Sitorus (DJOSS) : 39,03 persen

Data masuk: 61,5% (Pukul 15:18 WIB)

Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah (ERAMAS) : 56,73 persen
Djarot Saiful Hidayat – Sihar PH Sitorus (DJOSS) : 43,27 persen

Data masuk: 86,86% (Pukul 15:18 WIB)

Sumber : Tarbiyah