OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 17 Juli 2018

Pemuda Muhammadiyah: Hentikan Stigma Orang yang Mencari Keadilan Sebagai Pro Teroris

Pemuda Muhammadiyah: Hentikan Stigma Orang yang Mencari Keadilan Sebagai Pro Teroris

10Berita , Jakarta – Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian menyebut orang yang bersimpati terhadap teroris sebagai bagian dari kelompok mereka dan bisa dipidana. Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menilai pernyataan tersebut berbahaya.

Pernyataan tersebut disampaikan Kapolri dengan merujuk pada Undang-undang Nomor 5 tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang baru saja disahkan. “Yang bersimpati pun kepada mereka (teroris) saat melakukan aksi itu, bagian dari kelompok mereka itu bisa kita pidana,” kata Kapolri.

Pendapat berbeda disampaikan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak terkait pernyataan Kapolri. Menurutnya membela hak-hak hukum teroris adalah wajib. “Membela hak-hak hukum, jangankan teroris siapa pun manusianya, membela hak hak hukumnya itu wajib,” ujarnya seusai acara diskusi Mencari Capres Anti Korupsi yang diselenggarakan oleh Madrasah Anti Korupsi PP Pemuda Muhammadyah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/07/2018).

“Menurut saya, statement kalau ada yang membela teroris itu bisa disebut juga begitu, menurut saya itu tidak benar,” tandas Dahnil.

Menurut Dahnil, bersimpati dalam konteks membela hak-hak hukum terduga teroris harus dilakukan. Pasalnya, bersimpati dalam membela secara hukum bukanlah sebuah pelanggaran.

“Jadi menurut saya aparatur kepolisian, Pak Tito berhenti begitu. Berhenti mengkreasi stigma terhadap mereka yang berusaha mencari keadilan sebagai orang-orang yang pro teroris. Itu berbahaya loh,” tegasnya.

Terkait penindakan kepolisian dalam kasus terorisme, PP Pemuda Muhammadyah menemukan fakta-fakta adanya potensi abuse of power atau penggunaan kekuasaan berlebihan. Dahnil juga menyebut adanya sejumlah kasus salah terhadap orang yang dituduh sebagai teroris, di antaranya terjadi di Medan dan Deliserdang.

“Ini berbahaya sekali dan monolog. Seolah-olah kebenaran itu ada di pihak aparatur kepolisian,” kata Dahnil

Dia pun berharap agra polisi tidak anti koreksi dalam hal penanganan kasus terorisme. “Jadi saran saya, Pak Tito tidak boleh anti kritik, itu semua karena kita sayang dengan polisi,” tukas Dahnil.

Sebelumnya, Kapolri Tito Karnavian mengungkapkan sejumlah penangkapan oleh Densus 88 merupakan penerapan undang-undang Terorisme baru yaitu UU No 5 Tahun 2018. Dalam praktiknya, pasca bom Surabaya sekitar 200 orang ditangkap dan 20 lainnya ditembak mati.

Sumber : Kiblat.

Kali Kota Tua; Dulu Kumuh Kini Mirip di Eropa, ‘Congratulation Anies-Sandi’

Kali Kota Tua; Dulu Kumuh Kini Mirip di Eropa, ‘Congratulation Anies-Sandi’

10Berita – Revitalisasi Kota Tua adalah salah satu agenda pemerintah provinsi DKI Jakarta saat ini. Hasilnya, sedikit demi sedikit sudah terlihat, salah satunya adalah Kali Besar yang kini makin cantik.

Setelah dilakukan pemugaran sejak 2016 silam, akhirnya “wajah baru” Kali Besar ini telah diresmikan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, pekan lalu.

Salah satu yang menarik adalah taman terapung di atas kali ini. Pijakan berwarna abu-abu ini juga ditanami pohon tepat di tengahnya. Benar-benar berbeda dari taman pada umumnya.

Photo : VIVA.co.id/Purna Karyanto

Peresmian berlangsung di jalur pedestrian Kali Besar, Jalan Kali Besar Barat, Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat (6/07). Sandiaga hadir dalam acara tersebut dengan bersepeda dari rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dalam acara peresmian itu, Sandiaga didampingi Wali Kota Jakarta Barat yang baru dilantik Rustam Effendi. Hadir pula Kasatpol PP DKI Yani Wahyu.

Salah satu yang menarik adalah taman terapung di atas kali ini. Pijakan berwarna abu-abu ini juga ditanami pohon tepat di tengahnya. Benar-benar berbeda dari taman pada umumnya.

Kali Besar berada tepat di belakang kawasan Museum Fatahilah, dan dikelilingi oleh gedung-gedung tua yang penuh histori.

Salah satunya adalah Toko Merah yang sudah dibangun sejak 1870-an, dan salah satu bangunan tertua di kota Jakarta. Selain itu, masih banyak bangunan dengan desain klasik yang keren banget. (vv)

Sumber :Eramuslim 

Kapitra Ampera Bantah Jadi Caleg PDIP

Kapitra Ampera Bantah Jadi Caleg PDIP

10Berita  Pengacara dari Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq, Kapitra Ampera membantah bahwa dirinya maju jadi caleg PDIP di Pileg 2019 mendatang.

Kapitra menebutkan bahwa kabar itu hanya klaim sepihak yang disampaikan Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto.

“Itu kan hasto (yang ngomong),” kata Kapitra saat dihubungi, Selasa (17/7), dikutip dari Rmol.

Kapitra bahkan menyebut belum pernah bertemu Hasto seumur hidupnya.

“Demi Allah saya engggak pernah ketemu Hasto seumur hidup saya aja belum pernah,” kata Kapitra, Selasa (17/7), dikutip dari Kumparan.

Karena klaim yang disetuskan Hasto itu, Kapitra bahkan mengaku akan menggelar konferensi pers untuk meluruskan kabar dirinya jadi caleg PDIP. Rencananya konferensi pers yang akan digelar Kapitra dilaksanakan besok siang, Rabu, 18 Juli 2018.

Baca juga: Mantan Pimpinan KPK, Johan Budi Jadi Caleg dari PDIP

“Besok siang jam satu ya,” ucap Kapitra.

Diberitakan sebelumnya, Sekjen PDIP Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto di Kantor KPU RI, Menteng, Jakarta, mengatakan bahwa Kapitra masuk dalam daftar bakal caleg PDIP.

“Yang bersangkutan memang dicalonkan oleh PDIP dari dapil Sumatra Barat,” kata Hasto, Selasa, 17 Juli 2018, dikutip dari Viva.

Saat itu Hasto menyatakan bahwa partainya terbuka bagi semua kalangan yang ingin menjadi wakil rakyat. Hasto mengatakan bahwa Kapitra diharapkan menjadi jembatan dengan masyarakat melalui program dan visi-misi PDIP.

“Masyarakat Sumatera Barat itu betul-betul menghendaki adanya jembatan penghubung dengan PDIP, sehingga yang bersangkutan dicalonkan oleh PDIP. Dari dapil Sumbar,” ucap Hasto.

Hasto menyebutkan bahwa Kapitra Ampera masuk daftar bacaleg untuk membantu PDIP mendulang suara di Sumatera Bara yang merupakan provinsi tempat Kapitra berasal.

Sumber : Ngelmu.co

Dua Pukulan Telak. KPK Tangkap (lagi) Kader PDIP Dalam OTT

Dua Pukulan Telak. KPK Tangkap (lagi) Kader PDIP Dalam OTT

 

10Berita, Belum tuntas pemberitaan terkait tertangkapnya Bupati Purbalingga, Tasdi dalam OTT KPK. Kabar mengejutkan kembali terjadi terkait kasus yang sama.

Walikota Blitar Samanhudi Anwar / pdiperjuanga-jatim.com

Melansir dari kumparan.com (7/6/2018), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menjaring kepala daerah dalam OTT di Blitar dan Tulungagung, Rabu malam (6/6). Kali ini dikabarkan lembaga antirasuah itu menangkap tangan Walikota Blitar Muhammad Samanhudi Anwar bersama sejumlah pihak lainnya.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah / (Foto: Iqra Ardini/kumparan.com)

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, sebelumnya menyebut bahwa total yang diamankan dalam OTT pada Rabu malam (6/6) sebanyak 6 orang. Namun ketika itu, Febri menyebut belum ada kepala daerah yang diamankan oleh KPK dalam OTT tersebut. Tim KPK kemudian sempat melakukan pencarian terhadap Anwar. Ruang kerja Bupati Blitar pun sempat disegel oleh KPK. Pada akhirnya, Anwar dikabarkan kemudian memutuskan untuk menyerahkan diri kepada KPK.

(Foto: Arie Dwi/Okezone.com)

Dalam OTT yang dilakukan KPK di Tulungagung dan Blitar tersebut, tim juga mengamankan uang senilai Rp 2 miliar yang tersimpan dalam dua dus. Diduga uang itu merupakan suap terkait proyek infrastruktur

Kabar ini tentunya menjadi pukulan bagi PDIP untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya Tasdi, Bupati Purbalingga. Pasalnya Samanhudi Anwar juga kader partai berlambang banteng moncong putih. Sungguh ironis, karena belum lama digelar peringatan hari lahir Soekarno tanggal 6 Juni kemarin, di Kota Blitar. Peristiwa ini benar-benar mencoreng PDIP dan kota Blitar.


Sumber : PORTAL ISLAM

Mbappe Sumbangkan Seluruh Bayarannya di Piala Dunia untuk Amal, Segini Jumlahnya

Mbappe Sumbangkan Seluruh Bayarannya di Piala Dunia untuk Amal, Segini Jumlahnya


10Berita – Luar biasa kemurahan hati pesepakbola Timnas Prancis Kylian Mbappe.

Ia memutuskan untuk menyumbangkan seluruh bayarannya selama bertanding di Piala Dunia 2018 untuk kepentingan amal.

Seluruh bayaran Mbappe selama tampil di Piala Dunia 2018 beserta bonus juara senilai $553.000 atau sekitar Rp 7.950.000.000, disumbangkan Mbappe untuk membiayai anak-anak yang dirawat di rumah sakit dan untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Mbappe yang berusia 19 tahun ini berhasil mencetak gol ke 4 untuk Timnas Prancis saat berlaga melawan Timnas Kroasia di final Piala Dunia 2018.

Kroasia terpaksa bertekuk lutut melawan Prancis dengan skor 4-2 yang mengantarkan Mbappe dan kawan kawannya menjadi Juara Dunia. []

Sumber :rakyatmerdeka

4 Kritikan tajam PKB pada Mahfud MD setelah namanya menguat sebagai cawapres

4 Kritikan tajam PKB pada Mahfud MD setelah namanya menguat sebagai cawapres

Mahfud MD. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

10BeritaMantan Ketua MK Mahfud MD masuk dalam bursa calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo. Bahkan partai koalisi pendukung Jokowi sudah memberi sinyal tentang hal tersebut. Tapi sayangnya tidak semua partai koalisi setuju Mahfud MD maju sebagai cawapres Jokowi.

Yang paling vokal menolak hal tersebut yakni partai PKB. Sampai-sampai PKB mengeluarkan kritikan tajam untuk Mahfud. Ini kritikannya:

Mahfud MD Capres PKB.

1. Mahfud MD dinilai tak bisa wakili NU

Merdeka.com - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dita Indah Sari mengatakan sulit jika bakal calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) memilih mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD sebagai calon Wakil Presiden (Cawapres). Menurutnya, ada beberapa penyebab Mahfud tidak bisa membawa dampak politik yang signifikan pada Jokowi. Mulai dari kesulitan mendapatkan dukungan partai pendukung hingga tidak berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

"Pak Jokowi sendirikan bukan berlatar belakang Islam kan tapi beliau nasionalis. Jadi perlu pendamping yang menguatkan dia dari segi itu. Kalau Pak Mahfud bagi kami tak cukup kuat mewakili umat Islam. Beliau akademisi, profesional. Sehingga manfaat politik yang bisa didapat Jokowi jadi minimal," kata Dita.

Mahfud MD.

2. Mahfud MD elektabilitasnya rendah

Merdeka.com - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid yakin Jokowi juga tidak mungkin memilih cawapres yang memiliki elektabilitas rendah. Kata dia, elektabilitas Mahfud berada di bawah Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

"Kami enggak yakin Pak Jokowi memilih calon yang tidak mempunyai elektabilitas. Ya misalkan Pak Mahfud MD, diadu saja elektabilitasnya dengan Cak Imin. Kan bisa dilempar ke lembaga survei," ucapnya.

Mahfud MD.

3. Nama Mahfud MD muncul karena tebak-tebakan

Merdeka.com - Selain itu, Jazilul Fawaid juga menilai, nama Mahfud muncul hanya karena tebak-tebakan saja. Dia yakin, kabar itu tak benar.

"Bukan klaim sepihak, menebak-nebak saja," kata Jazilul di Komplek Parlemen, Senayan,Jakarta, Selasa (10/7).

Jazilul mengatakan, pembahasan cawapres Jokowi hingga kini masih belum final. Sebab belum ada musyawarah lanjutan terkait pembahasan cawapres. "Ah belum itu, belum final (nama Mahfud MD). Kan belum ada rembukan di partai-partai, belum ada musyawarah ya. Semacem opini lah," ungkapnya.

4. Sulit dapatkan dukungan koalisi

Merdeka.com - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dita Indah Sari mengatakan Mahfud MD tidak cocok mendampingi Jokowi, karena tidak mewakili umat Islam. Lanjut Dita, Mahfud MD akan sulit mendapatkan dukungan dari partai-partai koalisi pendukung Jokowi.

"Sehingga satu akan lebih sulit mendapatkan dukungan dari partai politik- partai politik terutama yang ada di koalisi." kata Dita.

Sumber : Merdeka.com

VIRAL Video Pidato Jokowi di NASDEM, Warganet: "Kuliah Umum Presiden Jokowi Mirip Guru IPS SD kelas 4"

VIRAL Video Pidato Jokowi di NASDEM, Warganet: "Kuliah Umum Presiden Jokowi Mirip Guru IPS SD kelas 4"


10Berita, JAKARTA - Presiden Joko Widodo atau Jokowi memberikan kuliah umum untuk angkatan ke-2 Akademi Bela Negara Partai NasDem di Jakarta, Senin 16 Juli 2018.

Video pidato kuliah umum Presiden Jokowi juga beredar viral di sosial media.

Di video itu, Jokowi menceritakan negara Indonesia adaah negara besar.

"Saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya bahwa negara kita Indonesia ini adalah negara besar, negara besar, kita harus tahu kita memiliki sekarang ini penduduk 263 juta, yang hidup di 17 ribu pulau, kita juga harus tahu bahwa negara kita Indoensia memiliki 714 suku yang berbeda-beda, kita juga memiliki 1100 lebih bahasa daerah bahasa lokal, kita juga memilik adat dan tradisi yang berbeda beda, agama yang berbeda beda itulah Indoensia," papar Jokowi.

"Kuliah Umum Presiden mirip Guru IPS SD kelas 4," komen @dulatips yang memposting cuplikan video Jokowi di akun twitternya.

[video]

— Kak DuL 🔞 (@dulatips) 16 Juli 2018

Acara kuliah umum Jokowi ini juga dihadiri sejumlah elit politik. Mereka antara lain Ketua DPR Bambang Soesatyo, Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Hadir pula Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Prof. Mahfud MD. Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto juga hadir dalam acara ini.

"Kasihan, Para Profesor, Doktor dll, Mendengarkan "Kuliah" Tingkat Dasar Anak Kelas 4..Para Prof & Doktor2,Yg Ilmu nya Sudah Sundul Langit..Dan dgn "Terpaksa" hrs Down grade Pola Pikir nya..Haha haha..," komen @JunaediNjoto.

Kasihan,Para Profesor,Doktor dll,Mendengarkan "Kuliah" Tingkat Dasar Anak Kelas 4..Para Prof & Doktor2,Yg Ilmu nya Sudah Sundul Langit..Dan dgn "Terpaksa" hrs Down grade Pola Pikir nya..Haha haha..

— #JNS #ThridPivot (@JunaediNjoto) 16 Juli 2018

Harusnya Headline Metro Tv 👇

"Ternyata Indonesia ini negara yang besar, terimakasih infonya Pak Jokowi, kami baru tau, sumpah, baru tau, serius Pak".

— Ade (@Adztra) 16 Juli 2018

Ternyata ada yg seakan-akan baru tahu ya Indonesia itu banyak penduduk, banyak pulau, banyak suku bangsa, banyak bhs daerah, banyak agama. Lha, memangnya bhinneka tunggal ika sdh dari tahun 1945 itu muncul tanpa alasan?

— NANDI S. CHATAB (@nandisyukri) 16 Juli 2018

Hahahaha hahahaha ha-ha-ha.. wi wii... Anak SD pun tahu Indonesia ini negara besr. Yaa Rob.. cukuplah satu periode saja Engkau kirim Jokowi sebagai musibah di negri tercinta ini.. @2019gantijokowi dgn yg baik.

— Anti rezim kacung (@Antiplongo) 16 Juli 2018


Sumber : PORTAL ISLAM 

Jokowi Gemetar Lihat Koalisi Prabowo, Tak Ada yang Bisa Diandalkan Kecuali….

Jokowi Gemetar Lihat Koalisi Prabowo, Tak Ada yang Bisa Diandalkan Kecuali….

Presiden Jokowi saat memberikan konferensi pers terkiat kerusuhan Mako Brimob, Kamis (10/5/2018). Foto: Setgab

10Berita , JAKARTA – Petahana Presiden Joko Widodo sepertinya ketar-ketir dengan manuver politik Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang sudah mendapatkan mitra koalisi.

“Sementara koalisi Jokowi belum kunjung terbentuk akibat tarik-menarik kepentingan cawapres yang umumnya setiap partai pengusung ingin kadernya menjadi cawapres,” kata pengamat politik dari Bimata Politica Indonesia (BPI) Panji Nugraha, Selasa (17/7).

Prabowo sudah dipastikan mendapat tiket Pilpres 2019 setelah terbentuknya koalisi Gerindra, PAN dan PKS. Hal tersebut jelas menjadi ancaman bagi Jokowi yang hingga saat ini belum menemui kata sepakat.

Panji menambahkan, Jokowi jelas khawatir karena peta politik 2019 berbeda jauh dari 2014 saat dirinya dengan mudah mendapatkan partai pengusung.

Hal tersebut disebabkan beberapa faktor. Pertama, elektabilitas Jokowi yang belum aman membuat masing-masing calon parpol pengusung mengklaim jika dengan kadernya bisa memuluskan Jokowi dua periode.

Kedua, Jokowi sendiri tidak sreg dengan nama-nama cawapres yang disodorkan oleh parpol pengusung, dikarenakan dia menyadari bahwa kinerjanya tidak maksimal khususnya di bidang ekonomi, politik dan hukum. Ketiga, PDIP sendiri yang jelas-jelas menginginkan kadernya untuk mendampingi Jokowi.

“Jokowi sepertinya ketar-ketir dengan manuver politik Prabowo yang sudah mendapatkan koalisi, sementara hingga saat ini Jokowi belum akibat tarik-menarik kepentingan cawapres,” tutup Panji.

Sumber : pojok satu

Anies Bisa Terganjal, Kemendagri: Kepala Daerah yang Ingin Jadi Capres-Cawapres Harus Izin ke Presiden

Anies Bisa Terganjal, Kemendagri: Kepala Daerah yang Ingin Jadi Capres-Cawapres Harus Izin ke Presiden


10Berita,  JAKARTA - Jelang dibukanya pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), sejumlah nama mulai mencuat termasuk dari kalangan kepala daerah. Salah satunya yang mencuat adalah nama gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang oleh beberapa pihak dianggap kandidat paling potensial untuk kalahkan petahana.

Namun, kepala daerah ternyata tidak bisa langsung menjadi calon presiden atau wakil presiden yang diusung partai atau koalisi partai tertentu. Harus ada izin dari presiden terlebih dahulu.

Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri, Bahtiar, menyebutkan ada regulasi yang mengharuskan kepala daerah tingkat provinsi atau kabupaten/kota meminta persetujuan dari presiden terlebih dahulu sebelum mengikuti Pilpres. Hal ini mengacu pada Pasal 171 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu).

"Izin dari Presiden ini merupakan dokumen persyaratan yang harus dipenuhi kepala daerah yang memutuskan mau atau diusung partai politik sebagai calon presiden atau sebagai calon wakil presiden," terang Bahtiar dalam keterangannya, Senin (16/7/2018), seperti dikutip kumparan.com.

Pasal 171 ayat (4) UU Pemilu dimaksud berbunyi "Surat permintaan izin gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, walikota dan wakil walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada KPU oleh partai politik atau gabungan partai politik sebagai dokumen persyaratan calon presiden atau calon wakil presiden".

Sementara pada ayat (1), disebutkan "Seseorang yang menjabat sebagai gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, walikota dan wakil walikota yang akan dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu sebagai calon presiden atau calon wakil presiden harus meminta izin kepada presiden".

Disampaikan Bahtiar, sesuai Pasal 171, surat permintaan izin dari kepala daerah ini selanjutnya akan diproses paling lama 15 hari. Namun, ia menegaskan, saat mendaftarkan diri ke KPU cukup melampirkan permintaan izin dari Presiden.

"Sesuai ayat (3) Pasal 171, apabila (Presiden) belum memberikan izin, sementara permintaan izin sudah disampaikan, izin dari kepala daerah bersangkutan dianggap sudah diberikan oleh Presiden," sebut Bahtiar.

Pendaftaran pemilihan calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019 akan dibuka pada 4-10 Agustus 2018.

Hal tersebut sesuai dengan salinan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 7 Tahun 2017 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2019.

Dalam pesta demokrasi 2019, rakyat akan memilih sekaligus presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.

Sumber :Portal Islam 

Sudah SP3, Kok Polda Metro Jaya Panggil Ulang Habib Rizieq?

Sudah SP3, Kok Polda Metro Jaya Panggil Ulang Habib Rizieq?


10Berita – Polisi telah resmi mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus chat mesum berkonten pornografi Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

Selain Rizieq, dalam kasus itu, ia sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka bersama Firza Husen.

Kendati demikian, Polda Metro Jaya yang menangani kasus tersebut berencana melakukan pemanggilan ulang kepada Rizieq.

Demikian disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (16/7/2018).

“Ya memang pemanggilan gak ada. Itu undangan,” jelas Argo.

Mantan Kabid Humas Polda Jatim itu menjelaskan, undangan dengan pemanggilan berbeda jauh.

“Beda pemanggilan dan undangan,” tegasnya.

Akan tetapi, pihaknya menyatakan sudah mengirimkan surat undangan dimaksud.

Akan tetapi, Argo tak merinci kemana surat itu ditujukan dan kapan tepatnya undangan itu berlangsung.

Selain itu, pihaknya juga tak menjelaskan secara rinci agenda dalam undangan yang dikirimkan itu.

“Surat ya sudah (kita kirim). Tunggu aja agendanya,” tutup Argo.[psid]

Sumber :Eramuslim