OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Jumat, 20 Juli 2018

Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka

Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka

10Berita, SALAH satu pelajaran paling mendalam yang Saya ajarkan ialah: “Anak-anak mendengar dengan mata mereka, tidak dengan telinga mereka.”

Jika Anda menasihati anak Anda mengenai bahaya merokok, sementara Anda memegang rokok di tangan Anda, ucapan Anda tidak akan berpengaruh apa-apa, terlepas dari seberapa benarnya. Anak Anda akan melihat apa yang ada di tangan Anda dan mengambil pelajaran dari itu, mengabaikan apapun yang Anda katakan.

Dengan cara yang sama, alasan mengapa anak Anda mungkin tidak peduli tentang al-Quran meskipun Anda membawa mereka ke 5 sekolah Islam berbeda ialah karena Anda sendiri tidak tahu cara membacanya, tidak pula Anda melakukan upaya aktif untuk melakukannya. Kemunafikan tidak akan hilang dari anak-anak. Tidak akan pernah.

Baca: Jangan Takut Punya Banyak Anak!


Bahkan jika mereka belajar bagaimana secara fisik membaca, menulis, dan menghafalkan, itu tidak menembus hati mereka.

Di sisi lain, Saya mengenal beberapa orang tua yang membaca dan menghafalkan Quran setiap hari sebagai bagian dari gaya hidup mereka, dan anak-anak mereka (yang baru saja belajar berjalan) berupaya membaca Quran tanpa pernah disuruh. Anak-anak mereka di bawah umur 10 tahun telah menghafal sebagian besar Quran tanpa pernah dipaksa.

Apakah Anda suka atau tidak, Anda adalah role model terbesar mereka dalam setiap hal yang Anda lakukan, secara sadar dan tidak sadar.

Ini tidak hanya berlaku pada anak-anak. Beginilah cara kerja manusia. Anda melihat beberapa orang –baik bos, ayah, atau orang tua– berteriak dan menjerit demi penghormataan yang akhirnya tidak mereka dapatkan, sementara Anda juga melihat orang lain mendapatkan rasa hormat tanpa pernah mereka meminta atau menuntut. Itu karena mereka mempraktekkan apa yang mereka nasihatkan.

Sulit mengeluh pada atasan Anda tentang datang ke kantor pada jam 9 pagi ketika Anda melihat dia datang pada jam 8 pagi. Sulit memberitahu ayah Anda mengapa membaca 1 jus sehari terlalu banyak ketika dia membaca 2 jus sehari.

Bahkan, semakin Anda membuktikan nasihat Anda melalui tindakan, Anda tidak akan banyak bicara. Ketika teman Anda melihat bagaimana Anda memaafkan seseorang yang tidak pantas dimaafkan, itu adalah pelajaran hidup mereka, tanpa satu patah katapun dikeluarkan. Ketika mereka menjadi seseorang yang lebih besar, mereka tidak perlu datang ke Anda untuk meminta nasihat; Anda telah menasihati mereka lebih dalam dari pada kata-kata Anda.

Baca: Kisah Kesabaran Ibu Dianugerahi Tiga Anak Tunanetra


Aisyah (semoga Allah merahmatinya) menggambarkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai al-Quran berjalan. Itulah mengapa para sahabat memujanya. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam shalat dengan sangat lama hingga kakinya membengkak, Aisyah bertanya mengapa dia melakukannya padahal dosanya di masa lampau dan masa depan telah dimaafkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallammenjawab, “bukankah seharusnya Aku menjadi budak yang bersyukur?

Ketika para sahabat membangun parit dan memberitahu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam betapa laparnya mereka, menunjukkan padanya batu yang mereka ikat di perut mereka untuk menahan lapar, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallammengangkat bajunya dan memperlihatkan pada mereka dua batu yang dia ikat di perutnya. Para sahabat kemudian kembali bekerja.

Dialah adalah pria yang tidur di kasur keras yang bahkan meninggalkan bekas luka di punggungnya. Ketika dia mengatakan pada para sahabat untuk beribadah pada malam dan tidur sedikit, tidak ada satupun pertanyaan ditanyakan.

Jangan mengeluh tentang anak, pasangan, murid, atau karyawan Anda ketika solusinya tidak ditemukan melalui tindakan Anda sendiri.*

Artikel ditulis oleh Salah Sharief dari Ilmfeed, diterjemahkan Nashirul Haq AR

Sumber :Hidayatullah.com 

Saksi Beberkan Ciri-Ciri Pelempar Bom Molotov ke Rumah Ketua DPP PKS

Saksi Beberkan Ciri-Ciri Pelempar Bom Molotov ke Rumah Ketua DPP PKS

10Berita, BEKASI—Rumah pribadi Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera menjadi target serangan bom molotov oleh orang tak dikenal pada Kamis (19/7/2018) pagi.

Menurut keterangan saksi mata, penyerang rumah Mardani yang terletak di Jatimakmur, Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat berjumlah dua orang.

“Saya dengar ada suara pecahan beling di rumah Pak Mardani sekitar pukul 03.00 WIB. Tidak sampai ada suara meledak. Jadi, saya langsung cek,” kata petugas keamanan Lembaga Tahfizh Quran (LTQ) Yayasan Iqro Bekasi Prada, 35, di Bekasi.

Rumah tinggal Mardani yang berseberangan dengan yayasan tersebut membuat Prada penasaran dan langsung mengecek lokasi kejadian.

Situasi lingkungan yang gelap gulita membuatnya sulit mendeteksi pelaku. Namun, secara samar terlihat dua orang dengan ciri menggunakan helm full face, sweater hitam, membawa ransel dan menggunakan motor.

“Samar-samar saya lihat mereka berjumlah dua orang di kebun samping rumah Pak Mardani. Akan tetapi, saya tidak berani mengejar karena khawatir bawa senjata,” katanya.

Prada hanya berteriak untuk mengusir pelaku. Tidak lama kemudian pelaku melarikan diri ke arah kebun samping rumah. Usai pelaku pergi dari TKP, Prada kembali ke posnya untuk berjaga.

Hingga pukul 05.30 WIB, datang asisten rumah tangga Mardani membersihkan halaman rumahnya yang sudah berserakan beling pecahan botol.

Awalnya pecahan botol tersebut dikira mainan dari dua putra Mardani yang saat kejadian ada di dalam rumah. Namun, setelah dibantu pengecekan oleh Prada, rupanya benda tersebut mirip dengan bom molotov.

“Setelah tahu benda itu mirip molotov, saya langsung telusuri ke bagian samping rumah dan saya menemukan satu lagi bom molotov yang masih utuh dengan ciri botol bening, sumbu, dan cairan bensin,” katanya. Atas insiden itu, Prada lantas melapor kasus tersebut ke kepolisian setempat. []

SUMBER: Aktual,  Islampos.

Bikin Bangga! Ini Tiga Keistimewaan Indonesia di Mata Rakyat Palestina

Bikin Bangga! Ini Tiga Keistimewaan Indonesia di Mata Rakyat Palestina

10Berita, Tidak perlu menjadi rahasia lagi tentang indonesia untuk membantu palestina, dimana dalam semua sikap melalui OKI dan PBB indonesia selalu berada di depan, dan hubungan palestina dengan indonesia juga telah dimulai saat presiden soekarno menjabat.

Referensi pihak ketiga

Namun ada tiga hal yang mungkin harus UC'ers ketahui, yakni 3 keistimewaan indonesia di mata masyarakat palestina, dilansir dari www.blog.act.id, dimana pengungkapan luar biasa oleh rakyat palestina terhadap indonesia, berikut tiga keistimewaan tersebut.

1 - di mata rakyat palestina Indonesia adalah surga

Referensi pihak ketiga

Telah diketahui bahwa bangsa palestina telah sejak lama menjalani konflik dengan Israel, dimana semua kehancuran membuat palestina sulit mengenal keindahan alam bahkan susah dalam perekonomian, namun menurut Syeikh Ahmed Badawi dan tiga kawan yang lain ketika berkunjung di indonesia, mengungkapkan jika indonesia ialah sepenggal surga di dunia, karena keindahan alam yang terjaga.

2 - di mata rakyat palestina indonesia sangat sopan

Referensi pihak ketiga

Masih syekh ahmad badawi yang mengungkapkan jika sepanjang ia berkunjung ke negara negara lain, baru ini ia menemukan sekelompok manusia yang sopan dan ramah senyum.

3 - di mata rakyat palestina, indonesia sangat dermawan

Referensi pihak ketiga

Hal ini juga telah kita ketahui dimana indonesia dengan segudang bantuan dari rumah sakit indonesia hingga pasar gratis telah di sumbangkan untuk palestina, dan rakyat palestina menganggap, meskipun di indonesia banyak kekurangan, namun hal itu tak menyurutkan mereka untuk membantu kami (palestina).

Referensi pihak ketiga

Referensi pihak ketiga

Referensi :

Www.kasihpalestina.com

Www.bintang.com

Khusyuk Jadi Pengobat Luka

Khusyuk Jadi Pengobat Luka

Shalat khusyuk (ilustrasi).

Foto: blog.uns.ac.id

Khusyuk bukan berarti lupa segala-galanya.

10Berita , JAKARTA -- Selepas kemenangan kaum Muslimin atas kaum kafir di perang Dzatur Riqa', Rasulullah bersama pasukan kaum Muslimin langsung bertolak ke Madinah. Dalam perjalanan, pasukan kaum Muslimin terpaksa bermalam di sebuah tempat. Lantas disuruhlah dua orang sahabat Rasulullah ‘Ammar bin Yasir dan ‘Abbad bin Bisyir untuk berjaga-jaga di tempat yang disebut pintu Syi'b.

Kedua sahabat yang kelelahan tersebut bersepakat untuk jaga malam secara bergantian. Melihat 'Ammar yang sangat kelelahan, 'Abbad meminta rekannya untuk tidur lebih dahulu. Ia pun mulai berjaga-jaga.

Melihat lingkungan sekelilingnya aman dan hening, terlintaslah dalam pikirannya untuk mengisi waktu dengan shalat malam. Bukankah ia bisa memperoleh pahala berlipat?

Ketika tengah khusyu' dengan bacaan shalatnya, tanpa disadari 'Abbad, ada sepasang mata yang mengincarnya. Sejurus kemudian, sebatang panah pun menancap di pangkal lengannya. Herannya, panah itu diabaikannya begitu saja. Ia terus melanjutkan shalatnya seakan tidak terjadi apa-apa.

Tak lama berselang, panah kedua dan ketiga pun berdesing menghujam tubuhnya. Namun, 'Abbad tetap saja bersikap tenang seperti tak terjadi apa-apa. Panah yang menancap di tubuhnya itu secara perlahan dicabutnya, lalu ia teruskan shalatnya. 'Abbad yang hampir sekarat itu terus menyelesaikan shalatnya. Setelah salam ke kanan dan kekiri, barulah ia tarik rekannya 'Ammar yang tertidur.

Spontan saja, ‘Ammar yang baru terbangun dari tidurnya sangat kaget melihat rekannya yang sudah bersimbah darah. "Gantikan aku mengawal, karena aku telah kena," tutur 'Abbad dengan sisa tenaganya.

Si pemanah pengecut itu pun lari tunggang-langgang melihat banyak di antara kaum Muslimin yang sudah terbangun. “Subhanallah, mengapa aku tidak dibangunkan ketika kamu dipanah yang pertama kali tadi?" tanya 'Ammar kepada 'Abbad.

"Ketika aku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat Alquran yang amat mengharukan hatiku, hingga aku tak ingin untuk memutuskannya. Demi Allah, kalau bukan karena takut mengabaikan tugas yang diperintahkan Rasulullah, aku akan biarkan orang itu membunuhku hingga aku selesaikan bacaanku," ujar 'Abbad. Demikian seperti dikisahkan dalam Bidayah wan Nihayah Karangan Imam Ibnu Katsir.

Sedemikian hebatkah kekuatan khusyuk sehingga mampu menghilangkan rasa sakit dipanah? Seorang 'Abbad bin Bisyir secara sukarela dipanah dan hampir terbunuh hanya karena tidak ingin memutuskan shalatnya. Pastilah ada suatu kenikmatan luar biasa dalam khusyuknya yang bisa melebihi rasa sakit akibat ditembus panah.

Demikian juga agaknya ketika Ali bin Abi Thalib yang pernah tertusuk panah. Seperti dikisahkan dalam Tafsir Kasyf al-Asrâr Maibadi, sebuah anak panah pernah menembus kaki beliau hingga mengenai tulangnya. Meski telah diusahakan untuk mencabut, namun tidak kunjung berhasil. Satu-satunya cara untuk mencabutnya adalah dengan menusukkan anak panah tersebut sampai benar-benar tembus, kemudian mematahkan ujungnya. Barulah panah itu bisa dicabut.

Ali bin Abi Thalib pun meminta agar anak panah tersebut dicabut ketika ia tengah menunaikan shalat Ashar. Benar saja, ketika beliau tengah khusyuk dengan shalatnya, seorang tabib datang untuk mencabut anak panah itu. Sedangkan Ali bin Abi Thalib sama sekali tak merasakan kesakitan. Tatkala beliau memberikan salam, Ali langsung berujar, “Sekarang lukaku agak ringan.”

Khusyuk seperti inilah yang tak ingin dilewatkan para sahabat ketika shalat. Kenikmatan 'bercakap-cakap' dengan Allah telah menjadi penawar dari segala bentuk kesakitan. Jika sakit yang nyata seperti tertusuk panah saja bisa lenyap dengan shalat, apalagi dengan sakit ruhani.

Hati yang tidak tenang, pikiran yang buntu, dan jiwa yang ada dalam kegalauan. Shalat dengan khusyuklah yang menjadi penawar semua itu. Ketika mengadukan semuanya kepada Allah maka segala persoalan pasti akan diselesaikan oleh Yang Mahakuasa. Pantas saja Allah berfirman, "Minta tolonglah kalian dengan sabar dan shalat. Namun, yang demikian itu sungguh berat, melainkan bagi orang-orang yang khusyuk," (QS al-Baqarah [2]:153).

Khusyuk bukan berarti lupa segala-galanya. Seperti didefenisikan Imam Ibnu Rajab, khusyuk berarti kelembutan, ketenangan, ketundukan, dan kerendahan diri dalam hati manusia kepada Allah SWT. Intinya, seorang hamba menyadari bahwa ia tengah berkomunikasi dengan Allah. Ketahuilah, di akhirat nanti, kenikmatan terbesar seorang hamba ketika menemui Rabb mereka di surga. Bagaimanakah kiranya, ketika mereka bisa merasakan itu di dunia?

Sumber : Dialog Jumat Republika

Jangan Paksakan Mencium Hajar Aswad

Jangan Paksakan Mencium Hajar Aswad


10Berita , JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengingatkan jamaah calon haji Tahun 2018 dari daerah itu agar tidak usah memaksakan diri untuk bisa mencium batu hitam (hajar aswad) saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah.

"Sebaiknya tidak perlu memaksakan diri, bergegas-gegas atau cepat-cepat. Apalagi kondisi kesehatan dan fisik kurang memungkinkan untuk mencium hajar aswad," ucap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Prof Dr H Zainal Abidin, MAg, saat menyampaikan ceramah pada acara keberangkatan haji Wakil Kapolres Donggala Kompol Abubakar Djafar di Palu, Kamis (19/7).

Dalam ceramahnya, Prof Zainal Abidin MAg tidak melarang jamaah calon haji mencium hajar aswad saat melaksanakan ibadah mengelilingi kabah (tawaf) di Mekkah. Namun, sebut dia, mencium atau tidak mencium hajar aswad tidak memberikan pengaruh terhadap sah atau tidak-nya ibadah haji yang dilakukan oleh seseorang saat tawaf.

Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat itu menyatakan mencium hajar aswad hukumnya sunnah. Artinya dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak mendapat dosa.

"Mencium hajar aswad itu tidak termasuk rukun dan syarat sah haji. Hukumnya sunnah. Oleh karena itu perlu memperhatikan faktor kesehatan dan kekuatan fisik," ujar rektor pertama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu itu.

Ia mengingatkan kepada jamaah calon haji agar menjaga kesehatan, mulai dari Tanah Air, sampai melaksanakan ibadah syarat dan rukun haji serta kembali ke daerah. Hal itu karena, ibadah haji yang dilakukan oleh jamaah, membutuhkan kesehatan dan kekuatan fisik.

"Sebaiknya tidak memaksa diri untuk melaksanakan ibadah saat kesehatan kurang membaik," sebut Rois Syuriah Nahlatul Ulama Sulteng itu.

Selanjutnya ia mengingatkan kepada jamaah agar tidak memaksa diri beribadah saat cuaca kurang baik. Tidak memaksakan diri beribadah, sebut dia, dimaksudkan hadir di masjid Madinah atau Masjid Haram di Mekkah karena mengejar pahala yang berlipat ganda, jika di banding di luar kedua masjid tersebut.

"Misalkan saat cuaca dingin, bahkan sangat dingin, maka jangan memaksa diri untuk beribadah. Jamaah harus bisa menjaga kesehatan fisik dan melihat faktor cuaca di saat hendak ingin melaksanakan ibadah," kata Prof Zainal Abidin menambahkan.

Lebih lanjut dia mengatakan hal-hal di atas, terlebih lagi jangan dipaksakan pada awal kedatangan. Karena waktu cukup lama bagi jamaah berada di Kota Mekkah sebelum hari arafah

Sumber : Republika.co.id

Kamis, 19 Juli 2018

Bangga Menjadi Muslim

Bangga Menjadi Muslim

Umat Islam saat beribadah di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta (ilustrasi)

Foto: Republika/Putra M. Akbar

Umar bin Khattab: Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam.

10Berita , JAKARTA -- Betapa bahagianya hati seorang laki-laki dari Kabilah Ghifar, Abu Dzar al-Ghifari, ketika baru memeluk Islam. Sahabat yang menjadi orang keenam masuk Islam itu ternyata lebih ekstrem dibanding saudara-saudara se-Islamnya yang lain.

Mereka yang memeluk Islam akan ditindas dan disiksa. Untuk itulah, Rasulullah meminta para sahabat ketika itu untuk menyembunyikan keislamannya. Termasuk, juga kepada Abu Dzar. “Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti,” pinta Rasulullah kepada pria bernama asli Jundub bin Junadah itu.

Namun, gelora hidayah Islam di dadanya membuat semangatnya meluap-luap. Kebahagiaannya telah memeluk Islam seakan ingin ia beritahukan kepada seisi bumi. Ia ingin dikenal sebagai seorang Muslim. “Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, aku takkan kembali sebelum meneriakkan Islam di depan Ka’bah,” pintanya kepada Rasulullah.

Ia pun menuju Haram dan menyerukan syahadat dengan suara lantang. Spontan saja, masyarakat jahiliyah Makkah ketika itu langsung mengerubungi “si pencari gara-gara” tersebut. Hal terburuk sudah bisa ditebak. Ia babak belur dihajar massa dan nyaris tewas.

Begitulah kebanggaan seorang Abu Dzar dengan Islamnya. Jangankan cemoohan atau hinaan, kemungkinan terburuk yang akan merenggut nyawanya tak ia perhitungkan lagi. Baginya, menjadi seorang Muslim merupakan suatu kebanggaan.

Hal berbeda terlihat jelas antara Abu Dzar dan pemuda sekarang. Sungguh susah menemukan para pemuda yang bangga menyandang predikat sebagai seorang Muslim. Mereka malu mengenakan aksesori Islam. Katakanlah hanya sekadar mengenakan pakaian Muslim, berbaju koko, memakai peci atau kopiah, atau sekadar mengucapkan salam. Hal tersebut mereka nilai kampungan dan tabu. Terlebih lagi, jika mereka melakukan semua itu, mereka benci bila disebut orang alim.

Demikian juga dengan para Muslimah. Mereka malu memakai jilbab lantaran takut mendapat cemoohan orang. Takut tidak terlihat cantik, takut tidak dilirik lawan jenis, atau takut tidak mendapatkan teman. Sebenarnya, mereka malu membawa Islam dalam kesehariannya.

Para orang tua lebih bangga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah elite bertaraf internasional ketimbang pondok pesantren. Mereka lebih suka anak-anaknya jago fisika dan kimia ketimbang hafiz Alquran. Hanya memberi prioritas pada dunia tanpa memberi porsi yang seimbang pada pengetahuan Islam. Sekolah agama dinilai tak berarti apa-apa untuk bekal anaknya kelak.

Ketika umat Islam sudah malu mengusung Islam dalam kehidupannya, justru ketika itulah Allah SWT menghinakan mereka. Niat hati ingin terlihat elite karena mengikuti gaya hidup Barat yang katanya modern, tapi secara tidak sadar ia sudah menghinakan diri sendiri.

Bukankah Umar bin Khattab RA pernah berpesan, “Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan selain daripada Islam maka kita akan dihina oleh Allah.”

Rasulullah SAW sudah meramalkan umatnya suatu saat nanti akan dihinakan kaum kafir. Rasulullah mengibaratkan umatnya pada akhir zaman seperti makanan lezat yang diperebutkan orang kafir. “Apakah umat Islam waktu itu sedikit, wahai Rasulullah?” tanya salah seorang sahabat.

“Bahkan, jumlah kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi, keadaan kalian seperti buih di lautan,” jawab Rasulullah. (HR Abu Daud).

Penyebabnya, umat Islam mengalami krisis kebanggaan terhadap agama mereka. Mereka mengejar dunia dan melupakan akhirat. Penyakit seperti ini dinamakan Rasulullah SAW dengan sebutan wahn. "”(Wahn itu) cinta kepada dunia dan takut mati,” sabda Rasulullah (HR Abu Daud).

Lihatlah bagaimana jayanya Islam dahulunya. Pada abad pertengahan, seluruh aspek kehidupan dikuasai umat Islam saat itu. Para ilmuwan dan cendekiawan semuanya berasal dari umat Islam. Lihatlah betapa agungnya arsitektur peninggalan zaman keemasan Islam, mulai dari Cordoba (Spanyol), Persia, sampai peninggalan Wali Songo di Indonesia. Semuanya menjadi bukti keagungan Islam. Rahasianya, karena kebanggaan mereka mengusung Islam sebagai sumber gaya hidup, hukum, dan seluruh aspek kehidupan mereka.

Umat Nabi Muhammad SAW adalah umat terbaik yang pernah ada di muka bumi. Seperti firman Allah SWT, “Kalian (umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia (karena) kamu menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110).

Untuk itulah, tak perlu merasa malu maupun rendah diri ketika mengusung Islam. Bawalah Islam dalam setiap aspek kehidupan kita. Praktikkanlah seluruh nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah, dengan itulah Allah memuliakan kita.

Sebagaimana firman Allah, “Janganlah kamu merasa hina dan jangan pula kamu bersedih hati. Kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman (QS Ali Imran [3]: 139).

Sumber : Dialog Jumat Republika

Pembelot yang Bertingkah Seperti Belut Karena Terbelit

Pembelot yang Bertingkah Seperti Belut Karena Terbelit


10Berita, Belut adalah binatang yang tak berbisa tetapi tidak mudah dipegang. Licin. Slippery. Hebatnya si belut diburu orang. Dagingnya digemari semua lapisan masyarakat. Dulu, sebelum manusia mulai memburu belut, binatang air ini masih suci. Namun, begitu para pemburu mengalami kesulitan untuk menangkap belut, mulailah nama baik mereka dijelek-jelekkan.

Entah siapa yang memulainya, terkenallah idiom “licin seperti belut”. Muncullah ejekan, “Awas, dia itu belut”, dsb.

Herannya, daging belut tetap disukai. Sampai akhirnya hari ini belut menjadi salah satu komiditas perikanan yang beromzet puluhan miliar rupiah. Ada sekian jenis jajanan yang berbasis belut. Walhasil, idiom buruk berbasis belut bisa diimbangi oleh popularitasnya sebagai jajanan yang disenangi.

Itulah belut. Licin, susah dipegang, tapi disukai.

Nah, manusia-manusia hebat, khususnya para pemain politik, kemudian melihat potensi besar dari watak, sifat dan kondisi belut. Mereka mempraktikkan sifat-sifat kebelutan itu di pentas politik. Watak belut paling banyak di-subscribe atau di-like oleh para politisi dan penguasa Indonesia.

Mulailah muncul di sana-sini politisi dan pejabat belut. Mudah berjanji, tak bisa dipegang. Setelah jadi, langsung menghilang. Bila terdesak, cepat menyeberang.

Hebatnya, untuk mempelajari dan mempraktikkan filosofi belut, tidak mahal. Bahkan Anda tak perlu membeli atau memelihara belut. Cukup ikuti saja berita-berita tentang politisi yang membelot. Yang melakukan lompat indah. Yang pindah kubu.

Amatinya sepak-terjang pembelot. Lobus frontalis (otak depan) Anda akan melakukan “automatic recording and downloading” (perekaman dan pengunduhan otomatis) dari sifat-sifat kebelutan si pembelot yang Anda amati itu.

Sampai di paragraf ini, mulai nampak hubungan antara “belut” dan “belot”. Kalau mau lebih jelas lagi: pembelot banyak belajar tentang belut. Bisa jadi juga di dalam ilmu balaghah (epistemologi), “belot” bertetangga dengan “belut”.

Sekarang, kita perlu menjawab pertanyaan korelatif. Dalam terminologi perguruan tinggi Islam, pertanyaan “ushuluddin”-nya. Yaitu, mengapa pembelot mengamalkan watak belut?

Berdasarkan “Survey 100” (masih ingat acara tebak berhadiah di TV?), pada umumnya orang melakukan pembelotan karena “belitan” atau “terbelit” sesuatu. Bisa terbelit hutang atau terbelit masalah.

Nah, kita sampai di paragraf tentang “belit”. Kata “belit” bermakna sesuatu yang melilit atau melingkari benda atau orang.

Kita ambil saja orang sebagai contoh. Bila seseorang kena “belit” (misalnya hutang, masalah legal, sosial, atau moral), maka sangat besar kemungkinan dia akan berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari belitan itu.

Dalam situasi yang genting, dia tidak akan segan-segan melakukan pembelotan apa saja. Termasuk pembelotan ideologi, pembelotan dalam hubungan suami-istri, bahkan pembelotan aqidah. Bagi orang itu, yang penting dia bisa lepas dari belitan.

Jadi, tidaklah terlalu mengherankan kalau di depan mata Anda berlangsung pembelotan yang mencengangkan. Yang tidak Anda sangka membelot, telah melakukannya. Yang Anda rasa bukan “belut”, sekarang “belot”.

Kesimpulan: sekarang kita telah menemukan benang merah-kuning yang menghubungkan “belot”, “belut” dan “belit”. Yaitu, pem-BELOT belajar dari sifat BELUT karena ter-BELIT macam-macam masalah.

Mudah-mudahan tulisan tentang belut ini tidak berbelit-belit sampai membuat Anda pergi membelot ke tulisan lain.

Penulis: Asyari Usman (eks wartawan BBC)

Sumber : PORTAL ISLAM

Warganya Turunan Indonesia Tapi Pulau Ini Milik Australia, Yuk Kenalan dengan Pulau Cocos

Warganya Turunan Indonesia Tapi Pulau Ini Milik Australia, Yuk Kenalan dengan Pulau Cocos


radioaustralia.net.au

10Berita, Sekitar 1000 kilometer di selatan Pulau jawa terdapat satu buah pulau kecil yang unik. Penduduknya sebagian besar berbahasa Indonesia dan Melayu, tapi pulau ini bukan milik Indonesia melainkan milik Australia.

Namanya Pulau Cocos, bersama dengan pulau kembarnya Pulau Natal, dua pulau ini seolah terombang-ambing dan terpencil di Samudera Hindia, di antara Indonesia dan Australia.

Dilansir dari radioaustralia.net.au (22/6/2018) secara geografis, Pulau Cocos lebih dekat dengan Indonesia, lantaran dengan kota paling dekat di Australia saja, yakni Kota Perth, jaraknya sekitar 3000 kilometer, atau sekitar 4 jam perjalanan dengan udara.

cocooscope.com

Pulau Cocos adalah sebuah pulau dengan gugusan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Luas pulau ini hanya sekitar 14 kilometer saja dengan 700 penduduk. Tapi yang uni, sekitar 500 penduduknya adalah keturunan melayu dan juga suku Jawa.

Merunut sejarahnya, sebagaimana dikutip dari Goodnewsfromindonesia.id (26/6/2018) etnis Melayu dan Jawa datang pertama kali ke Pulau Cocos pada abad 19. mereka didatangkan untuk mengurus perkebunan di Pulau Utama yakni Pulau Home.

Kendati jauh dari tanah leluhur, tapi keturunan Indonesia di Pulau ini masih memegang teguh adat istiadat dan budaya nenek moyang.

radioaustralia.net.au

Buktinya, sebagian besar warganya masih cakap berbahasa Jawa dan juga Melayu. Bahkan sebagian kecil ada yang fasih berbahasa Indonesia. Mereka juga masih melestarikan kebudayaan khas Indonesia, seperti wayang kulit, gamelan hingga jaran kepang atau kuda lumping saat menggelar acara besar.

Bahasa Indonesia juga dengan mudah ditemukan di tempat-tempat publik, seperti nama jalan dan sebuah kapal yang melayani warga Cocos sehari-hari yang diberi nama Cahaya Baru.

antaranews.com

Tapi, lantaran berada di tanah Australia, mereka menjadi bagian dari warga negara Australia. Mereka hidup makmur di bawah pemerintahan Australia dan menikmati subsidi serta kesetaraan hak seperti warga Australia daratan lainnya.

Sejumlah fasilitas selayaknya di pemukiman lain juga tersedia di sini, seperti rumah sakit, swalayan, restoran dan juga sebuah masjid. Ya, masjid ada di pulau ini, lantaran sebagian besar warganya adalah muslim.

ceritadarijalan.com

Pulau cocos juga menyimpan pesona alam yang luar biasa indah. Pulau ini menjadi rujukan tempat berlibur warga Australia saat libur panjang untuk menyelam atau sekedar menikmati matahari musim panas.(Politiklime)

Sumber : UC News

Begini Caranya Supaya Lahan Sempit di Teras Rumahmu Bisa Tetap Hijau,

Begini Caranya Supaya Lahan Sempit di Teras Rumahmu Bisa Tetap Hijau, Cobain, deh!




10Berita, Selama tinggal dan menetap di Ibu Kota, rasa-rasanya punya taman kecil di teras rumah merupakan hal yang sulit sekali diwujudkan. Anda pun yang tinggal di perkotaan mungkin merasakan hal yang serupa.

Padahal, keinginan berkebun pastilah ada. Sayangnya, lahan sempit menjadi kendala sehingga sulit sekali mewujudkan penghijauan di halaman rumah yang luasnya tak seberapa.

Nah, kali ini penulis akan berbagi solusi yang lumayan mudah dan bisa dipraktikkan oleh siapa saja, termasuk Anda.

Seperti dilansir media.rooang.com (retrieved, 21/06/2018), inilah beberapa tips mudah melakukan penghijauan di lahan sempit Anda!

Tower garden merupakan teknik menanam secara vertikal sampai menyerupai sebuah menara. Cara ini cukup efektif bagi Anda yang tidak punya persediaan lahan luas. Anda bisa menggunakan pipa sebagai potnya atau gunakan pot secara bersusun.

Foto: animalmedicalcentervb.com

2. Tanaman menjalar seperti anggur dan sirih bisa ditanam di dalam pot kemudian dibiarkan menjalar pada trellis yang melingkar di atas pagar rumah atau sengaja dibentuk sebagai kanopi. Suasana sejuk pun akan terasa. Tanaman seperti ini bisa menangkal cahaya matahari sehingga tidak masuk langsung ke teras Anda.

Foto: tukangtamanrumput.com

3. Bagi Anda yang suka menanam bunga tapi tidak punya lahan cukup, cobalah memilih tanaman gantung sebagai solusinya. Anda bisa menggantung beberapa pot berisi tanaman kesayangan di teras rumah. Jika ingin lebih menarik, Anda bisa memilih pot bunga dengan warna-warna cerah yang saat ini bisa Anda dapatkan dengan mudah.

Foto: satujam.com

Itulah beberapa tips supaya Anda bisa tetap melakukan penghijauan meski di lahan sempit. Mudah dan praktis sekali untuk dicoba. Kira-kira Anda tertarik melakukan tips nomor berapa?(Muyassaroh)

Sumber : UC News

Prabowo Diprediksi Hanya akan Jadi King Maker , Ini Kata PKS

Prabowo Diprediksi Hanya akan Jadi King Maker , Ini Kata PKS

Spekulasi mengenai Prabowo menjadi king maker diutarakan pengamat Pangi Chaniago.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjenguk Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (18/7).

10Berita , JAKARTA -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyatakan, belum mendengar informasi resmi dari Partai Gerindra bahwa Prabowo Subianto hanya akan menjadi king maker atau bertarung di balik layar dalam Pilpres 2019. Sebelummya, spekulasi mengenai Prabowo menjadi king maker diutarakan Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago.

"PKS belum mendengar informasi itu secara resmi dari Partai Gerindra. Sampai saat ini yang saya tahu keputusan Partai Gerindra telah mencalonkan Pak Prabowo sebagai capres," kata Direktur Pencapresan DPP PKS Suhud Alynudin dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (19/7).

Jika memang spekulasi yang menyebutkan Prabowo hanya akan beraksi di balik layar benar terjadi, menurut Suhud, hal itu sepenuhnya merupakan hak Prabowo dan Partai Gerindra. "Sikap PKS tentu saja menyerahkan sepenuhnya hal itu kepada pihak Gerindra dan Pak Prabowo," katanya.

Ditanya apabila spekulasi itu menjadi kenyataan, Suhud menekankan bahwa PKS akan selalu menjadikan Partai Gerindra sebagai mitra koalisi. Alasannya, karena kerja sama yang dibangun kedua partai telah berlangsung relatif lama.

Sebelumnya Pangi Chaniago meyakini Prabowo Subianto tidak akan maju dalam Pilpres 2019. Tetapi, hanya akan bertarung di balik layar.

"Saya hakul yakin Prabowo bakal tidak maju. Akan jadi king maker," ujar Pangi.

Pangi menakar Prabowo memiliki banyak pertimbangan. Soal logistik, soal beban mental Prabowo yang pernah kalah dua kali dalam Pilpres, hingga soal sisi humanis dan keluarga yang bisa "digembosi" atau terus diserang lawan politik untuk menurunkan elektabilitasnya.

Ia memandang, Prabowo jauh lebih terhormat dan disegani apabila mengatur dari belakang layar capres dan cawapres yang kelak diusung. Prabowo pun akan jadi seorang negarawan.

"Tidak perlu Prabowo berdarah-darah dan jadi bemper," ujarnya.

Usulan Prabowo jadi king maker juga telah dilontarkan partai mitra koalisi Gerindra, yakni Partai Amanat Nasional (PAN). Ketua DPP PAN Yandri Susanto menyarankan Ketua Umum Partai Gerindra menjadi king makersaja di Pilpres 2019. Yandri mengusulkan partai koalisi mengusung pasangan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo sebagai pasangan alternatif.

Sumber :Republika.co.id