OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Selasa, 15 Agustus 2017

Unsur Indonesia di Masjid Istiqlal Bosnia

Unsur Indonesia di Masjid Istiqlal Bosnia

10Berita,  JAKARTA -- Penamaan masjid itu merupakan bentuk penghormatan kepada Presiden Soeharto yang menggagas berdirinya rumah ibadah tersebut pada medio 1997.

Masjid Istiqlal ini bukanlah yang ada di Indonesia. Lokasinya pun bukan di Jakarta, melainkan Sarajevo, ibu kota Bosnia Herzegovina. Namun, inspirasi dan sejarah pembangunannya tidak lepas dari kerja sama bilateral antara kedua negara tersebut.

Bahkan, nama lain Masjid Istiqlal Bosnia adalah Masjid Soeharto. Penamaan masjid itu merupakan bentuk penghormatan kepada Presiden Soeharto yang menggagas berdirinya rumah ibadah tersebut pada medio 1997.

Republika pada 13 September 1997 silam mengutip keterangan ketua Majelis Ulama In donesia (MUI) kala itu, KH Hasan Basri. Ia me nyebut, persiapan pembangunan mas jid dua lantai itu sudah mendapatkan perse tujuan baik dari Presiden Soeharto maupun Presiden Bosnia Herzegovina Alija Izetbegovic.

Setidaknya, sejak tahun 1995 sudah ada pem bicaraan mengenai perlunya pendirian mas jid raya di ibu kota Bosnia Herzegovina itu.

Dana pembangunan Masjid Istiqlal Bosnia mencapai tiga juta dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, Panitia Nasional Soli daritas Muslim Bosnia sudah menghimpun uang untuk membantu korban perang Bosnia.

Ternyata, uang tersebut masih tersisa sebanyak satu juta dolar AS sehingga diperuntukkan bagi dana pembangunan Masjid Istiqlal. Kemudian, lanjut Hasan, sisa dua juta dolar AS lagi dipenuhi dari sum bangan para konglomerat Indonesia. Tujuan nya agar tidak memberatkan masyarakat Bosnia sendiri.

Rancangan Masjid Istiqlal Bosnia merupakan karya arsitek Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Prof Achmad Noe'man dan putranya, Ir Fauzan Noe'man. Gaya bangunannya mengikuti corak khas dua negara, Indonesia dan Bosnia Herzegovina.

Namun, seperti tampak dari namanya, unsur Indonesia cenderung dominan.

Rencananya, pembangunan rumah ibadah ini memakan waktu 1,5 tahun. Akan teta pi, masjid tersebut baru tuntas diselesaikan secara sempurna pada 2001. Menteri Agama RI saat itu, Said Agil al-Munawar ikut meresmikannya.

Luas bangunan Masjid Istiqlal Bosnia mencapai 2. 500 meter persegi. Masjid ini berkubah tunggal dengan diameter dan tinggi yang sama, yakni 27 meter. Ada dua menara di sebelah kiri dan kanan pintu utama.

Tiap-tiap menara setinggi 48 meter itu menyimbolkan persahabatan erat dan setara antara Indonesia dan Bosnia Herzegovina.

Sumber: Republika

Senin, 14 Agustus 2017

Sisa-Sisa Kemegahan Mughal

Sisa-Sisa Kemegahan Mughal

10Berita, JAJKARTA --  Selain Ottoman, Dinasti Mughal juga tercatat sebagai salah satu kerajaan yang memiliki peradaban megah dalam sejarah dunia Islam. Hari ini, sisa-sisa kemegahannya tersebut masih dapat kita jumpai di sejumlah wilayah anak benua Asia, seperti Pakistan, Bangladesh, dan India.

Dinasti Mughal atau juga dikenal dengan sebutan Mogul, merupakan dinasti Islam yang menguasai sebagian besar kawasan utara India sejak 1526-1857. Pada masa-masa selanjutnya, eksistensi kerajaan ini terus menyusut dan semakin melemah pengaruhnya hingga pertengahan abad ke-19.

Kerajaan Mughal menjadi masyhur lantaran kemampuannya mempertahankan pengaruh di tanah Hindustan selama dua abad lebih. “Di samping itu, dinasti ini juga terkenal karena keberhasilannya mempersatukan masyarakat Hindu dan Muslim di bawah naungan satu negara India,” tulis Ensiklopedia Britannica.

Kemegahan peradaban Dinasti Mughal tidak terbatas pada Taj Mahal, Taman Shalimar, dan Masjid Agung Delhi saja. Masih banyak peninggalan lainnya dari kerajaan itu yang dapat kita saksikan sampai hari ini. Sebagian di antaranya bahkan masuk dalam daftar World Heritage Sites (Situs Warisan Dunia) UNESCO.

Benteng Lahore (Lahore Fort) yang terletak di Punjab, Pakistan, termasuk salah satu mahakarya arsitektur Dinasti Mughal. Bangunan kuno yang didirikan semasa pemerintahan Sultan Akbar ini memiliki panjang 426,7 meter dan lebar 340 meter.

Beberapa situs terkenal yang berada di dalam kompleks benteng ini, antara lain Sheesh Mahal, Gerbang Alamgiri, Paviliun Naulakha, dan Masjid Moti. Benteng Lahore ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1981.

Peninggalan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah Benteng Merah (The Red Fort) yang menjadi kediaman sultan-sultan Mughal selama hampir 200 tahun (sampai 1857). Bangunan dengan luas total 103,06 hektare ini terletak di pusat Kota Delhi, India.

Selain menampung sultan dan anggota keluarganya, Benteng Merah juga menjadi pusat kegiatan pemerintahan Mughal. Istana ini pertama kali dibangun oleh Syah Jehan pada 1648. “Dinamai Benteng Merah karena dinding bangunan ini dilapisi oleh batu pasir merah,” tulis laman UNESCO.

Sumber: Republika

Sang Penakluk Dirikan Dinasti Mughal

Sang Penakluk Dirikan Dinasti Mughal

10Berita, JAKARTA --  Kesultanan Mughal didirikan oleh seorang pangeran Chagatai (Turko-Mongol) bernama Zahiruddin Babur yang memerintah India sejak 1526-1530. Dari kedua orang tuanya, Babur mewarisi darah penakluk.

Ayahnya merupakan keturunan Timur Lenk (Tamerlane), sang penakluk Asia Tengah yang juga pendiri Dinasti Timurid. Sementara, ibunya mewarisi silsilah penguasa Mongol yang melegenda, Jengis Khan.

Sejak kekuasaan leluhurnya di Asia Tengah runtuh, Babur mengalihkan ambisi penaklukannya ke India. Dari Kabul (Afghanistan), ia mulai mengarahkan ekspansinya ke Punjab. Selanjutnya, ia berhasil pula menduduki sebagian wilayah utara India menyusul kemenangan tentara di Panipat pada 1526.

Ketika Babur mangkat pada 1530, wilayah kekuasaan Mughal semakin meluas; membentang dari Sungai Indus di sebelah barat sampai ke Bihar di sebelah timur, dan; dari Himalaya di utara hingga Gwalior di selatan.

Sumber: Republika

Timuriyah, Dinasti Besar Islam di Asia Tengah

Timuriyah, Dinasti Besar Islam di Asia Tengah

10Berita,  JAKARTA --  Kekaisaran Timuriyah adalah dinasti besar Islam yang muncul di Asia Tengah sejak abad ke-14 hingga awal abad ke-16. Dinasti ini didirikan oleh Timur Lenk (Tamerlane), seorang penakluk yang berasal dari keturunan suku Turko-Mongol.

Setelah menguasai Transoksiana pada 1370, Timur Lenk lantas mendirikan kerajaannya dengan Samarkand (kota yang terletak di Uzbekistan sekarang) sebagai pusatnya.

Sebagai seorang pemimpin, Timur Lenk memiliki minat yang tinggi terhadap seni. Bahkan, semasa hidupnya, sang raja kerap membawa sejumlah perajin atau seniman dari berbagai daerah yang ditaklukkannya ke ibu kota Samarkand. Karenanya, tidak mengherankan bila pada kemudian hari Dinasti Timuriyah juga tercatat sebagai salah satu kerajaan yang paling cemerlang dalam sejarah seni Islam.

“Kesenian dan arsitektur Timuriyah memberikan inspirasi kepada daerah-daerah yang membentang dari Anatolia sampai ke India,” ujar Yalman.

Meski usia Kekaisaran Timuriyah yang luas itu sendiri relatif singkat, kata dia, namun keturunan dinasti tersebut tetap memainkan peranan penting sebagai penyokong utama kesenian Islam di kawasan Transoksiana. Ketika ibu kota dipindahkan ke Herat (Afghanistan sekarang) pada 1505, kerajaan ini berhasil menjadi pusat kebudayaan Islam terkemuka di Asia Tengah.

Para penguasa Timuriyah menaruh perhatian besar terhadap budaya Persia. Mereka membujuk para seniman, arsitek, dan sastrawan untuk berkontribusi membentuk peradaban megah. Tidak sedikit pula kalangan pejabat Timuriyah memesan salinan naskah tentang seni dan arsitektur Persia untuk dijadikan sebagai koleksi di perpustakaan-perpustakaan milik mereka.

Sepanjang era kejayaannya, banyak pangeran Timuriyah membantu pembangunan berbagai lembaga keagamaan, seperti masjid, madrasah, dan tempat perkumpulan sufi atau tarekat. Beberapa bukti peninggalannya masih dapat kita saksikan sampai hari ini. Antara lain, Madrasah Ulugh Beg yang dibangun pada 1417-1420 dengan gaya arsitektur Islam yang khas.

Kompleks Madrasah Ulugh Beg berada di kawasan situs kota tua Registan, Samarkand. Sekolah ini diapit oleh sejumlah menara tinggi. Di halamannya yang berbentuk persegi berdiri sebuah masjid dan ruangan kuliah yang dibatasi oleh asrama tempat para siswa tinggal selama menjalani pendidikan.

Madrasah Ulugh Beg menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik pada abad ke-15. Kampus ini berhasil mencetak sejumlah sarjana terkenal pada zamannya. Di antaranya adalah filsuf dan penyair besar Persia, Abdul Rahman Jami.

Warisan Dinasti Timuriyah lainnya yang masih dapat dijumpai di Samarkand adalah Masjid Bibi Khanym. Nama tempat ibadah yang selesai dibangun pada 1404 ini diambil dari nama istri Timur Lenk, Bibi Khanym.

Dinding luar masjid ini memiliki panjang 167 meter dan lebar 109 meter. Sementara, tinggi kubah utamanya mencapai 40 meter, dan pintu masuknya setinggi 35 meter. Ada marmer besar dengan kaligrafi Islam yang berdiri anggun di tengah-tengah halaman. Sayangnya, gempa besar yang terjadi pada 1897 merusak sebagian besar bangunan ini.

Selain Madrasah Ulugh Beg dan masjid, masih banyak lagi peninggalan megah Dinasti Timuriyah di Samarkand. Ini menjadi salah satu alasan ditetapkannya kota tersebut sebagai “World Heritage City” (Kota Warisan Dunia) oleh UNESCO pada 2001.

Sumber : Republika

Panglima TNI: Awas Ada Udang Dibalik Isu Toleransi

Panglima TNI: Awas Ada Udang Dibalik Isu Toleransi

10Berita – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebut isu intoleransi sengaja dihembuskan belakangan ini untuk memecah belah Indonesia. Menurutnya, bukan tanpa alasan intoleransi dimainkan, jika melihat kekayaan alam Indonesia yang sangat berlimpah.

Gatot menuturkan, Indonesia merupakan negeri yang kaya, mulai dari sumber daya alam (SDA), jumlah penduduknya, keragaman suku dan bahasa hingga wilayah yang membentang dari Sabang sampai Merauke.

“Intoleransi ini yang kita hadapi, karena Indonesia sangat kaya, mereka mau kuasai,” kata Gatot dalam acara ‘Simposium Nasional’ Taruna Merah Putih di Balai Kartini, Jakarta, Senin (14/8).

Selain soal intoleransi yang menguat belakangan ini, ancaman global seperti persaingan antar negara juga perlu diperhatikan pemerintah Indonesia. Mengingat, semakin bertambahnya penduduk di dunia.

Jenderal bintang empat ini mengingatkan, konflik-konflik yang terjadi di belahan dunia lain, terutama di Timur Tengah dan Afrika, lantaran adanya kebutuhan energi. Banyak negara bersaing untuk memperebutkan kebutuhan energi.

Menurut Gatot, kondisi bumi yang semakin tua, ditambah pemanasan global, persaingan hidup antar manusia dalam bertahan hidup akan semakin kuat. Pada 2043 akan banyak manusia dari bangsa lain, yang ingin menguasai wilayah ekuator, termasuk Indonesia.

Sebab, lanjut Gatot, di wilayah ekuator ini tanah masih subur lantaran daerah tersebut merupakan garis peredaran matahari.

“Pasti nanti seratus persen konflik berlatar energi, pangan, ekonomi. Semua pindah ke ekuator,” ucapnya.

Gatot berkata, untuk semua pihak harus sama-sama menjaga agar Indonesia tak didera konflik berlatar belakang agama atau kelompok suku dan etnis tertentu. Dia menyebut, para pemuda harus berperan menjaga keberagaman ini dengan Pancasila sebagai tamengnya.

“Kebhinekaan harus dijaga dan dibina, kuncinya ada di Pancasila sebagai dasar negara,” pungkasnya. (MA/Ram)

Sumber: eramuslim

Peringati Tahun ke-4 Peristiwa Raba’a, Ikhwanul Muslimin Bertekad Lanjutkan Perjuangan Damai

Peringati Tahun ke-4 Peristiwa Raba’a, Ikhwanul Muslimin Bertekad Lanjutkan Perjuangan Damai

10Berita~KAIRO – Ikhwanul Muslimin Mesir bersumpah untuk tetap berpegang pada aktivisme damai saat kelompok muslim tersebut memperingati  tahun keempat dari sebuah aksi pendudukan massa besar (Raba’a) di Kairo dimana ratusan penduduk Mesir direnggut nyawanya oleh rezim militer dalam kudeta berdarah 2013.

Dalam sebuah pernyataannya, Mahmud Ezzat yang bertindak atas nama “Brotherhood Supreme Guide” menegaskan bahwa dengan mempertahankan perjuangan damainya, “ini akan menjadi jaminan untuk tidak lagi menjadi korban kekerasan dan keputusasaan”.

Pada tanggal 14 Agustus 2013, pasukan keamanan Mesir melancarkan operasi berdarahnya saat berupaya membubarkan sebuah aksi sit-in (pendudukan) yang dipentaskan untuk mendukung mantan Presiden Mohamed Morsi di alun-alun Rabaa al-Adawiya di Kairo Timur.

Sementara pihak berwenang Mesir mengatakan hanya 623 orang tewas dalam aksi pembubaran militer tersebut, pihak Ikhwanul Muslimin mencatat korban tewas berada di angka hampir 2.600 jiwa.

Pembubaran massa dengan moncong senjata tersebut terjadi beberapa pekan setelah faksi militer, yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Jenderal Abdel-Fattah al-Sisi, menggulingkan Mohamed Morsi, Presiden Mesir pertama yang terpilih secara bebas, dalam sebuah kudeta militer berdarah tahun 2013.

Aksi pendudukan massal di Rabaa al-Adawiya itu hanya dilakukan selama enam minggu setelah Morsi digulingkan dalam sebuah kudeta militer, setelah ia hanya sempat memegang amanah presiden selama satu tahun.

“Kami akan mengingat Raba’a karena telah menjadi simbol kebebasan, kehormatan dan martabat,” kata Mahmud Ezzat.

Dalam waktu hampir empat tahun sejak insiden itu, pihak berwenang Mesir telah melakukan tindakan keras terhadap para pendukung Morsi dan anggota kelompok Ikhwanul Musliminnya yang saat ini dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh rezim As-Sisi.

Ratusan Warga Divonis Hukuman mati

Ratusan warga Mesir telah divonis hukuman mati sejak 3 Juli 2013, saat Mohamed Morsi, Presiden pertama yang terpilih secara bebas dan juga merupakan pemimpin senior Ikhwanul Muslimin, digulingkan dan dipenjarakan dalam sebuah kudeta militer berdarah.

Salah satu vonis hukuman paling terkenal yang dikeluarkan oleh Pengadilan Pidana pada bulan Maret 2014, adalah ketika 529 orang – termasuk pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin Mohammed Badie – dijatuhi hukuman mati secara massal.

Banyak dari vonis hukuman ini kemudian dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi Mesir setelah upaya-upaya banding oleh pengacara para terdakwa.

23 orang, diantara mereka bagaimanapun, masih divonis hukuman mati, dan apabila Presiden Abdel Fattah al-Sisi menyetujui hukuman tersebut, mereka akan segera dieksekusi dengan cara digantung.

Namun, banyak pengamat mengatakan Presiden As-Sisi tidak akan memberikan grasi. Abdel Fattah al-Sisi sebelumnya merupakann Menteri Pertahanan, dan aktor intelektual yang mempelopori kudeta militer berdarah Mesir.

Ezzet Ghoneim, Direktur Jaringan Hak dan Kebebasan Mesir, mengatakan bahwa kecenderungan rejim al-Sisi untuk mengeluarkan hukuman mati sepertinya tidak akan berubah jika tidak ada reorientasi kebijakan yang dramatis, jelasnya saat berbicara dengan Anadolu Ajensi.

Dari 23 orang yang sekarang menunggu eksekusi mati, 2 diantaranya dijatuhi hukuman mati karena dituduh memicu tindak “anarki dan kekerasan” selama aksi demoinstrasi pro-Morsi pada pertengahan 2013; 4 orang lainnya karena diduga melakukan serangan bom mematikan; 6 orang karena diduga membunuh seorang perwira polisi dan hakim pada tahun 2014; 1 orang karena diduga terlibat dalam “tindakan kekerasan” setelah kudeta; Dan 10 orang karena diduga terlibat dalam perkelahian mematikan saat pertandingan sepak bola di Port Said pada tahun 2012.

Sejak kudeta di pertengahan 2013, total 8 hukuman mati telah dilaksanakan oleh pihak berwenang.

1 orang dieksekusi Desember lalu karena diduga membunuh 25 tentara, sementara 6 orang lainnya digantung pada Mei 2015 karena diduga membunuh tentara dan menjadi anggota kelompok teroris dengan dugaan hubungan dengan Islamic State (IS).

Kasus terakhir mendapat kritik luas, namun, karena beberapa dari mereka yang dituding melakukan aktivitas teroris, dilaporkan berada di dalam tahanan Kementerian Dalam Negeri pada saat kejadian tersebut.

Hukuman mati pertama yang dilakukan di masa rejim al-Sisi berlangsung pada bulan Mei 2015, ketika Mahmoud Ramadan, anggota Ikhwanul Muslimin, dieksekusi mati karena diduga melemparkan seorang pemuda dari sebuah atap di Alexandria setelah kudeta berdarah.

Selain 23 orang yang sekarang berada di deretan daftar tunggu hukuman mati, tidak ada angka resmi berapa hukuman mati yang dikeluarkan secara keseluruhan oleh Pengadilan Tinggi Mesir. Namun kelompok hak asasi manusia mengatakan ratusan orang telah dijatuhi hukuman mati sejak kudeta militer berdarah tersebut.

ini masih menunggu pengadilan meninjau kembali tuntutan banding yang diajukan oleh pengacara mereka.

Pada bulan Juli tahun ini, Pengadilan Pidana Kairo menjatuhkan hukuman mati yang diajukan terhadap 20 orang yang dituduh terlibat dalam pembunuhan seorang petugas polisi pada tahun 2013.

Dalam 4 tahun sejak penggulingan Morsi, pihak berwenang Mesir telah melakukan tindakan kekerasan tanpa henti terhadap aktifitas protes massa, hingga menewaskan ratusan pendukungnya dan memenjarakan puluhan ribu warganya di balik jeruji besi.[IZ]

Sumber: Panjimas


Yang Baru di Musim Haji 1438 Hijriyah: Melontar Jamarat Kini Diatur Lampu Lalu Lintas

Yang Baru di Musim Haji 1438 Hijriyah: Melontar Jamarat Kini Diatur Lampu Lalu Lintas

10Berita – Kementerian Haji Arab Saudi melalui Muasassah Haji wilayah Asia Tenggara telah menyiapkan sejumlah terobosan dalam pelaksanaan haji 1438 Hijriah. Sejumlah aturan baru diterapkan pada musim haji kali ini guna menghindari situasi yang tidak terkendali saat puncak ibadah haji.

Selain menyiapkan batu untuk melontar para jamaah saat berada di Muzdalifah, lembaga terkait yang berurusan dengan haji di Saudi itu juga akan memasang lampu lalu lintas jemaah di Mina.

Menurut Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama, Sri Ilham Lubis, lampu lalu lintas itu untuk mengendalikan pergerakan jemaah haji saat melontar jumrah bagi jemaah haji di setiap maktab.

“Jadi ada lampu semacam traffic light (lampu lalu lintas): ada merah, kuning, hijau,” ujar Sri Ilham saat ditemui di Bandara International King Abdul Azis pada Sabtu, 12 Agustus 2017.

Saat lampu berwarna hijau menyala, kata Sri Ilham, jemaah dibolehkan masuk dan melontar jumrah. Jika warna kuning yang menyala, berarti sudah ada peringatan kepada jemaah untuk berhenti berjalan. Saat lampu merah yang menyala, jemaah diwajibkan berhenti. Petugas akan mengunci pintu gerbang sehingga jemaah tidak akan bisa masuk untuk melontar jumrah.

Untuk membantu kelancaran jalannya ibadah haji di Mina, Kemenag mensiagakan dua petugas dari Panitia Pelaksana Ibadah Haji yang akan ikut mengatur pergerakan jemaah.

Saat puncak haji, kawasan Mina menjadi salah satu titik konsentrasi petugas. Akan ada petugas terlatih, unsur perlindungan jemaah maupun tim kesehatan, yang dikerahkan di wilayah itu untuk memberikan keamanan kepada jemaah.

Selain itu, Muasassah Haji wilayah Asia Tenggara juga akan menyiapkan jasa dorong kursi roda bagi jemaah haji Indonesia. Pasalnya, banyak jemaah calon haji Indonesia berusia lanjut dan masuk dalam kategori risiko tinggi.

Muasassah juga akan memberikan 50 sepeda motor yang khusus digunakan untuk berpatroli bagi jemaah. Sepeda motor itu untuk membantu jemaah haji yang mulai kelelahan. Kedua fasilitas itu akan disediakan di Mina.

Puncak ibadah haji diperkirakan berlangsung pada 9 sampai 13 Dzulhijjah atau 1 sampai 5 September 2017. (VN/Ram)

Sumber: Eramuslim

Inilah Sebabnya Mengapa Orang Kafir dan Sekuler Takut dengan Kekhilafahan

Inilah Sebabnya Mengapa Orang Kafir dan Sekuler Takut dengan Kekhilafahan


10Berita~Ketua Bidang Dakwah dan Kader FUI, Ustadz Abu Saad menerangkan alasan orang kafir dan sekuler takut dengan kekhilafahan. Meski aktivis pejuang khilafah tidak menggunakan senjata.

"Mengapa mereka takut dengan khilafah, padahal pejuangnya tidak menggunakan kekerasan? Mereka takut khilafah karena khilafah bagian dari ideologi Islam," katanya saat mengisi kajian Mabit, di Masjid Al Falah Pejompongan, Jakarta, Sabtu Malam (12/8/2017).

Menurut Abu Saad, bila Kekhilafahan Islam tegak, kapitalisme akan disingkirkan. Hal ini yang tidak diinginkan kalangan liberal dan sekuler.

"Karena khilafah itu menjaga keberlangsungan kehidupan Islam, termasuk ideologinya. Oleh karena itu, mereka takut khilafah tegak," kata Abu Saad.

Sebelumnya, Ustadz Abu Saad menerangkan perbedaan pokok ideologi Islam dan Kapitalisme. Dalam pandangannya, Islam dan kapitalisme memiliki perbedaan pokok saat memandang kehidupan akhirat.

"Islam mengatur urusan dunia dan akhirat. Kapitalis tidak mengatur urusan akhirat," ujarnya.

Akan tetapi, di saat kapitalisme ingin memasuki ranah akhirat. Maka, kapitalisme meminjam dari agama-agama yang ada. "Kapitalis sendiri tidak memiliki agama,"cetusnya.[] 

Sumber : voa-islam.com

 

Pemuda Muhammadiyah Usul Penggunaan Kata “Koruptor” Diubah Jadi “Maling”, Kalian Setuju?

Pemuda Muhammadiyah Usul Penggunaan Kata “Koruptor” Diubah Jadi “Maling”, Kalian Setuju?


10Berita - Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengusulkan nomenklatur atau penggunaan kata "koruptor" diubah menjadi "maling".

Menurut Dahnil, penggunaan kata "maling" lebih mudah dipahami oleh berbagai lapisan di masyarakat.

"Kami ingin mendorong publik untuk mengganti nomenklatur koruptor dengan kata yang mudah dipahami budaya Indonesia, yaitu 'maling'," kata Dahnil dalam pidatonya saat pembukaan Konvensi Antikorupsi 2016 di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (17/6/2016).

Dahnil melanjutkan, penggunaan kata "koruptor" terkesan elitis bagi sebagian masyarakat. Dengan menggunakan kata "maling", maka masyarakat akan lebih memahami makna dan akibat dari yang ditimbulkan oleh koruptor.

Dahnil juga mengusulkan agar awak media menggunakan kata "maling" dalam pemberitaan mengenai perilaku korupsi. Ia bahkan juga mengusulkan perubahan nama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Kalau ada revisi Undang-Undang KPK, kami usulkan ganti nama KPK jadi Komisi Pemberantasan Maling (KPM)," ucap dia.

Dahnil mengatakan, melawan korupsi perlu dilakukan dengan tindakan kebudayaan.

"Jenazah koruptor tidak perlu dishalatkan. Itu ekspresi kebencian terhadap koruptor. Dulu Rasul pernah melakukan itu juga," tutur dia.

Ia berharap Konvensi Antikorupsi 2016 dapat memberikan manfaat di masyarakat dalam upaya pemberantasan korupsi di masa datang. Pemberantasan korupsi, kata dia, bisa dilakukan dimulai dari diri sendiri.

Acara pembukaan Konvensi Anti Korupsi 2016 dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo, Bupati Bojonegoro Suyoto, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli.

Hadir pula Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Muhammad Nasir Djamil, Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Mantan ketua PP Muhammadiyah Teguh Santosa, Koordinator ICW Adnan Topan Husodo.

Sumber : umatuna.com

Kesuksesan Timur Lenk dan Jatuhnya Dinasti Timuriyah

Kesuksesan Timur Lenk dan Jatuhnya Dinasti Timuriyah

10Berita, JAKARTA -- Timur Lenk memang dikenang sebagai pemimpin yang sukses. Dalam tempo 35 tahun, dia bersama pasukannya berhasil menaklukkan seluruh Asia Tengah yang mencakup wilayah Iran, Irak, bagian selatan Rusia, hingga utara India. Luas wilayah keseluruhan yang dikuasai mencapai 4,4 juta km persegi.

“Tidak sampai di situ saja, dalam ekspedisi mereka ke arah barat, antara 1400-1402, pasukan Timuriyah juga mengalahkan tentara Mamluk di Suriah dan Ottoman di Angora (Ankara),” tulis peneliti dari Museum Kesenian Metropolitan, Suzan Yalman, dalam artikelnya “The Art of the Timurid Period (1370-1507 M)”.

Timur Lenk meninggal dunia pada 1405, ketika dia dan tentaranya tengah mempersiapkan rencana untuk menyerang Tiongkok. Tetapi, bakat dan kepiawaiannya memimpin negara itu tidak diwarisi oleh para penguasa Timuriyah periode pasca-Timur Lenk.

Takhta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putra bungsu Timur Lenk, Shahrukh Mirza, yang memerintah sejak 1405-1447. Namun, raja yang baru ini ternyata tidak mampu menjaga pencapaian yang sudah ditorehkan ayahnya.

Sejumlah wilayah barat yang telah dikuasai sebelumnya jatuh ke tangan kelompok Kara Koyunlu dari suku Turkmen. Tidak hanya itu, beberapa pangeran Timuriyah berikutnya juga terlibat perselisihan internal sehingga mereka pun berusaha membangun kerajaan sendiri-sendiri.

Kondisi tersebut ikut melemahkan kekaisaran dari dalam. Pada akhirnya, hanya Khurasan dan Transoksiana yang tetap berada dalam kekuasaan Timuriyah. “Selepas periode Shahrukh Mirza, dinasti ini diperintah oleh anggota keluarga Timuriyah dalam wilayah yang terpisah-pisah,” tutur Yalman.

Sumber: Republika