OPINI

ARTIKEL

KHASANAH

MOZAIK

NASIONAL

INTERNATIONAL

.

.

Sabtu, 27 Januari 2018

Dua Jenderal Polisi Jadi Ptl Gubernur, Bisa Timbulkan Kecemburuan TNI

Dua Jenderal Polisi Jadi Ptl Gubernur, Bisa Timbulkan Kecemburuan TNI


10Berita – Penunjukan dua perwira tinggi Polri berpangkat Irjen sebagai pelaksana tugas (Plt) Gubernur Jawa Barat dan Sumatera Utara berpotensi memunculkan kecemburuan di kalangan TNI.

Pesan itu disampaikan pengamat politik Muslim Arbi (26/01), mengingat posisi strategis  Jabar dan Sumut. “Sumut dan Jabar Barat itu daerah yang sangat strategis untuk kemenangan Pilkada,” ungkap Muslim.

Menurut Muslim, penempatan Jenderal Polri di Jabar dan Sumut diduga kuat untuk memberikan dukungan terhadap calon kepala daerah yang didukung penguasa pusat. “Penguasa tidak menginginkan Jabar dan Sumut kalah seperti di DKI dan Banten,” papar Muslim.

Muslim menilai, petinggi Polri yang dijadikan Plt Gubernur justru menjadi sinyal bahwa reformasi di Kepolisian mengalami kemunduran. “Polri harus fokus pada keamanan, dan jika terlibat dalam urusan biroksi itu ada kemunduran,” papar Muslim.

Selain itu, kata Muslim, pernyataan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang menyatakan anggota Polri yang kalah di Pilkada bisa kembali ke kepolisian, menandakan korps berbaju coklat itu tidak konsisten dalam menjalankan reformasi.

“Kalau konsisten, anggota Polri yang maju pilkada harus pensiun, dan jika kalah otomatis tidak bisa aktif lagi di kepolisian,” jelas Muslim.

Patut dikhawatirkan, kata Muslim,  Kepolisian akan menjalankan “dwi fungsi Polri”, di mana Kepolisian terlibat dalam kekaryaan sebagaimana TNI di era Orba. “Kalau Orba TNI yang masuk politik, di era Jokowi Polri yang masuk politik,” pungkas Muslim.

Dua perwira tinggi Polri diusulkan untuk menjadi pelaksana tugas (Plt) gubernur di dua provinsi di di Indonesia. Dua pati yang dimaksud adalah Asisten Operasi (Asops) Kapolri Irjen Pol M. Iriawan dan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Martuani Sormin.(kl/ito)

Sumber :Eramuslim 

CATATAN Kritis Jurnalis Untuk Acara Talkshow Mata Najwa

CATATAN Kritis Jurnalis Untuk Acara Talkshow Mata Najwa



Pelajaran dari Amanpour Ihwal Host Talkshow Televisi

Oleh: N. Syamsuddin Ch. Haesy*
(Jurnalis dan pemerhati programa siaran televisi)

10Berita, REAKSI warganet (netizen) atas ‘dialog’ Gubernur Anies Baswedan dengan Najwa Shihab – host acara gunemcatur (talkshow) bertajuk Mata Najwa (Rabu, 24/1/2018). Tiba-tiba mengusik saya.

Saya coba menyimak ulang acara itu, melalui beberapa video rekaman yang saya minta dari beberapa teman. Termasuk infografis ‘Durasi Bicara’  dalam acara tersebut dari menit dan detik, serta berapa kali Najwa melakukan interupsi.

Sangat lama saya tidak hidup di dunia brodkas televisi Indonesia, sejak berhenti di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) tahun 1997 awal.  Boleh jadi karena ilmu yang saya pelajari masih memegang pakem prinsip tayangan yang bersifat dinamis, medium, dan kontinu, saya sulit membayangkan, apa sungguh konsep dasar tayangan itu.

Dari apa yang pernah saya pelajari, talkshow alias gunemcatur ya talk – show, formatnya jelas: gelar wicara. Narasumber yang diundang diposisikan sebagai sentra perhatian khalayak. Terutama, karena yang mau dilihat, disimak, dan diketahui adalah performa asli narasumber, bukan host.


Karenanya, ada semacam aturan tak tertulis wardrop host tak boleh lebih menonjol dari wardrop narasumber. Size visual narasumber pun diatur lebih dominan di layar, baik dalam size close-up, medium close-up, bahkan sekali sekala dilakukan super impossed, ketika narasumber memberikan aksentuasi atas pernyataan yang relevan dengan pertanyaan host.

Porsi narasumber keseluruhan frekuensi penampakan di layar, lebih banyak dibanding dengan host. Kecerdasan host akan tertampak dan terasakan dari bagaimana dia bertanya dan mempertanyakan suatu hal secara substantif dan fokus. Bukan dari bagaimana dia melakukan interupsi, memotong pernyataan ataupun penjelasan narasumber.

Dari begitu banyak host acara talkshow, favorit saya adalah Christiane Amanpour, sejak dia memandu acaranya di saluran CNN internasional, yang kini pindah ke PBS (Public Broadcasting System) di Amerika Serikat. Juga Ted Turner yang selalu mampu menggali daya fikir nara sumber dan Oprah Winfrey yang sangat mampu menggali daya naluri dan perasaan narasumber. Amanpour memadupadan keseimbangan daya nalar, naluri, perasaan, dan indria narasumber.

Saya tak hendak membandingkan ketiga host acara gunemcatur televisi itu dengan Najwa Shihab yang belakangan populer dengan acara Mata Najwa-nya. Selain tak setara, juga tak adil untuk membandingkannya.

Amanpour lulus summa cum laude dari University of Rhode Island bergelar Bachelor of Arts in Journalism. Karirnya beranjak dari reporter. Tapi, Amanpour tak hanya itu. Dia adalah seorang aktivis hak aktif keadilan dan kesetaraan gender. Dia juga anggota Komite Perlindungan Wartawan, Pusat Integritas Publik dan Yayasan Media Perempuan Internasional.


Amanpour telah menghadirkan sosoknya melalui talkshow bertajuk Amanpour (2009) di CNN Internasional untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat dunia terhadap isu-isu utama global dan hak-hak jurnalis. Tentu banyak lagi status dan fungsi sosial yang disandangnya, selain menjadi tv news anchor – telangkai berita televisi.

Amanpour telah mendapatkan begitu banyak penghargaan jurnalisme televisi, mulai dari kategori Berita, Dokumenter (dalam Emmy Awards), Peabody Awards, George Polk Awards, duPont Award – Columbia, dan Keberanian dalam menghadirkan prinsip-prinsiop jurnalisme yang jernih, kritis, dan independen. Bahkan, dia diangkat sebagai warga kehormatan Sarajevo dan Duta Goodwill UNESCO untuk Kebebasan Pers dan Keselamatan Jurnalis.

Dunia mengakui, Amanpour adalah satu dari sangat sedikit jurnalis televisi yang telah mendudukkan dirinya dalam posisi jurnalisme untuk menghidupkan media yang adil, beradab, dan manusiawi.  Performanya sebagai host menegaskan dirinya sebagai sosok cerdas, intelektual sejati, justru karena kemampuan yang hebat menempatkan etika dan estetika acaranya sebagai suar di tengah kecamuk simpang-siur kebebasan informasi tak berbatas.

Amanpour mengemukakan, untuk menjadi sosok matang sebagai jurnalis, sehingga dia boleh menggunakan namanya sebagai brand acara, melalui kesungguhan menempa diri tanpa henti.

Amanpour mengungkapkan, dia belajar lama, dan lama sekali. Dia tidak pernah menempatkan atau menyamakan narasumber sebagai ‘korban’  dan dirinya sebagai ‘penyerang.’ Bahkan, dia mengaku, dalam memandu acaranya, dia tidak pernah membuat kesetaraan moral atau faktual palsu. Intinya: Amanpour percaya, acara yang dipandunya mesti menjadi medium bagi dirinya, narasumber, dan khalayak pemirsa menjadi jujur, dan dia mengambil jarak dengan topik yang dibahasnya.

Amanpour mengemukakan, dia sangat percaya, bahwa dirinya (sebagai host) harus berhenti ‘menghambat’ dan ‘melarang’ narasumber untuk menyampaikan pandangannya, sehingga khalayak memperoleh kebenaran yang mereka pahami dan yakini, setelah menyaksikan acaranya.

Kata-kata dan keyakinan Amanpour, menjadi pameo yang banyak dikutip: “Saat ini, kita harus siap bertarung dengan keras untuk mendapatkan kebenaran dengan cara yang benar."

Amanpour juga menyatakan sikapnya sebagai host, bahwa dia (sebagai jurnalis) berada di tengah (dan menghadapi) krisis eksistensial (banyak kalangan). Ini adalah ancaman terhadap relevansi dan kegunaan profesi (sebagai) jurnalis.


Karenanya, dalam memandu acaranya maupun dalam menjalankan praktik jurnalistik di lapangan, dia perlu menyesuaikan diri dengan realita secara adil, proporsional, dengan menghadirkan suatu dunia nyata, di mana jurnalisme dan demokrasi berada dalam kehidupan fana.

Setiap jurnalis, menurut Amanpour, harus menghentikan dan melawan (setiap kecenderungan) yang memungkinkan terjadinya perusakan kondisi masyarakat, termasuk oleh kekuatan asing dan ‘asing’ yang membayar untuk mengaduk-aduk dan menempatkan sajian informasi palsu ini. Tidak memberikan ruang kebohongan di banyak media kita, dan kembali ke sistem demokrasi yang beradab.

Ketika berpidato di hadapan 20.000 orang yang berkumpul di TD Garden untuk upacara wisuda sarjana Northeastern University yang dihadiri Joseph E. Aoun - Presiden Northeastern, dia membahas ihwal media dan berkembangnya kecerdasan buatan.

Dia mengajak para sarjana baru universitas itu, untuk selalu (kritis) mengenali kebenaran dari kebohongan yang tersebar di tengah prevalensi “berita palsu.”

“Jadilah generasi yang mengubah minuman beracun polarisasi dan keberpihakan yang kita hadapi, yang mengancam kita untuk menghancurkan peradaban, menghancurkan masyarakat kita dan menghancurkan demokrasi kita," seru Amanpour.


Amanpour telah mendedikasikan karir jurnalistik, termasuk acara talkshow-nya bertajuk Amanpour yang mendunia, itu untuk memberantas kecenderungan ‘memaksakan’ kehendak kepada narasumber, seolah-olah sebagai ‘fakta alternatif,’ yang tidak menguntungkan bagi narasumber dan khalayak pemirsa.

Penolakan fakta dan kebenaran, serta ilmu pengetahuan yang menyertai untuk memperoleh kebenaran hakiki, menurut Amanpour merupakan ciri khas populisme masa kini di mana-mana. Hal itu, baginya, melepaskan perjuangan panjang untuk tetap jujur dalam menjalani profesi.

Tidak merasa cerdas, meski sangat cerdas. Tidak merasa lebih tahu dari siapa yang sesungguhnya lebih tahu di bidang dan tanggungjawabnya.

Ini yang menghidupkan persona talkshow Amanpour yang cendekia, jernih, mengalirkan empati dan etika programa gunemcatur televisi. Tajam bertanya, bernas mempertanyakan, tekun menyimak, sabar menyikapi narasumber, tangkas dan jernih menyampaikan kata akhir, dan cendekia menghormati khalayak pemirsa. Inilah pelajaran pertama menjadi host acara talkshow televisi dari Amanpour.

Mudah-mudahan, kelak -- entah bila -- Mata Najwa bisa seperti itu.|

*Sumber: http://akarpadinews.com/read/humaniora/pelajaran-dari-amanpour-ihwal-host-talkshow-televisi

Industri Kebencian

Industri Kebencian

10Berita – Ketakutan sejatinya merupakan sebuah kewajaran yang terkadang tak dapat dihindari seorang manusia. Bahkan dalam beberapa momen hal itu menimbulkan kewaspadaan yang akan menyelamatkan dirinya. Namun ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu seringkali menjadi tidak baik, karena terkadang sesuatu yang ditakuti itu ternyata tak membahayakannya sama sekali, hanya imajinasinya saja yang menggambarkan bahaya tersebut sementara pada tataran realitas bahaya tersebut nihil.

Seorang anak kecil yang baru mendapat pelajaran bahwa singa adalah binatang buas ataupun raja hutan yang memakan segalanya. Tentu akan lari dan menangis sejadi-jadinya ketika bertemu singa di kebun binatang. Ketidaktahuannya akan informasi bahwa singa tak akan menerkam jika kenyang dan bahwa singa tak mempunyai kemampuan menembus jeruji kandang telah membuat anak tersebut ketakutan. Tentu saja dia akan ditertawakan teman-temannya yang sudah paham bahwa singa di kebun binatang sama sekali tak berbahaya.

Hari ini, kita sering mendengar slogan ataupun jargon yang sebenarnya juga layak kita tertawakan;
“Islam teroris!!!”
“Islam tidak baik!!!”
“Islam akan memecah belah persatuan bangsa!!!”

Ungkapan-ungkapan tersebut biasanya terucap oleh mereka-mereka yang mengidap Islamofobia. Islamofobia telah menjadi hal yang lumrah dan dimaklumi di berbagai belahan dunia saat ini, khususnya Amerika dan Eropa. Ketika mendengar kata Islam maka secara otomatis berbagai pikiran negatif akan bermunculan di kepala mereka.

Kata fobia sendiri menurut kamus Merriam-Webster, adalah ketakutan yang berlebihan, biasanya tidak dapat dijelaskan dan tidak masuk akal, ditujukan kepada objek, sekumpulan objek, atau situasi tertentu. Mungkin sulit bagi orang yang menderita untuk bisa menentukan atau mengkomunikasikan sumber ketakutan ini, tapi realitanya ketakutan itu memang ada.

Adapun ketika dirangkaikan dengan Islam, maka sejumlah periset dan kelompok kebijakan barat menemui sebuah titik temu dalam pendefinisiannya; “Rasa takut, kebencian, dan permusuhan yang berlebihan terhadap Islam dan muslim yang diabadikan melalui stereotip negatif yang mengakibatkan bias, diskriminasi, dan marginalisasi serta pengucilan umat Islam dari kehidupan sosial, politik dan kewarganegaraan.”

Islamofobia di Eropa dan Amerika sejatinya tidak dimulai sejak peristiwa 11 September atau peristiwa-peristiwa “terror” lainnya. Dia sudah ada lama sejak peristiwa-peristiwa tersebut, buktinya adalah bahwa kata “Islamofobia” itu sendiri sudah menjadi sebuah istilah yang mempunyai definisi baku jauh sebelum tanggal 11 Sebtember 2001.

Artinya, masyarakat barat memang sejatinya sudah lama mempunyai ketakutan dan kebencian yang berlebihan terhadap Islam dan juga muslim. Tetapi seperti anak kecil yang ketakutan di kebun binatang tadi, seharusnya jika dia sudah memperoleh informasi yang benar maka dia sudah tak perlu takut dan khawatir lagi.

Namun apa jadinya ketika informasi yang benar tak pernah sampai kepada sang anak. Bahkan ada upaya sekuat tenaga agar tak pernah sampai. Tentu saja situasi sang anak akan semakin runyam dan rasa takutnya mungkin tak akan pernah tertolong lagi.

Begitulah Islamofobia hari ini. Islamofobia bukan lagi sekedar ketakutan biasa. Beberapa pihak yang haus uang dan kekuasaan melihatnya sebagai lahan basah yang mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Hari ini, segala sesuatu yang berbau Islam dan muslim senantiasa menjadi headline negatif di media mainstream. Serangan teror selalu dialamatkan kepada Islam sebagai tertuduh, sampai terbukti sebaliknya. Media-media mainstream mendadak melupakan kaidah hukum yang berkembang selama ini; praduga tak bersalah sampai ada bukti yang menunjukkan sebaliknya.

Di samping itu, entah disadari atau tidak. Islam cenderung dipandang sebagai penyebab dibanding sebagai konteks oleh para ahli ataupun pengambil kebijakan ketika membicarakan radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Entah mengapa para pengambil kebijakan seolah melakukan simplifikasi dengan menjadikan Islam sebagai kambing hitam, ketimbang mempertimbangkan inti masalah politik serta keluhan yang menggema di dunia Islam, di antaranya adalah kegagalan pemerintah di negeri muslim, kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dukungan barat terhadap rezim otoriter, invasi, penjajahan dan dukungan terhadap penjajahan Israel di Palestina.

Hari ini, terlalu mudah bagi kita untuk menemukan materi-materi yang memicu stereotip, ketakutan, serta diskriminasi terhadap seorang Muslim. Islam senantisa digambarkan sebagai ancaman politik, peradaban, dan demografi. Gambaran ini senantiasa dibesar-besarkan oleh beberapa jurnalis, akademisi, serta blogger-blogger fanatik dengan mengesampingkan fakta-fakta mengenai kompleksitas dinamika politik, sosial, dan keagamaan di dunia Islam.

Hasilnya pun bisa ditebak, masyarakat Barat menjadi seperti anak kecil tadi, tak terselamatkan lagi. Kini kebencian mereka menjadi sangat bias dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Seorang muslimah berniqab yang tak pernah bersuara keras ketika berbicara dengan suaminya dengan entengnya mereka cap sebagai teroris. Sementara pelaku penembakan sebuah konser di Las Vegas yang jumlah korbannya melebihi Charlie Hebdo tak lantas dicap teroris.

Begitulah Islamofobia hari ini, dia bukan lagi akibat dari skeptisisme yang berkembang secara alami, dia telah menjelma sebagai sebuah industri. Sebuah industri yang diprediksi masih akan berlangsung untuk waktu yang sangat lama.

Dan jika Anda adalah salah satu yang menganggap industri ini sebuah kegilaan, maka banyak-banyaklah berdoa agar tak hancur tergilas lantas ikut-ikutan menjadi gila.

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Sumber : Kiblat.

Pesan Dari Makkah

Pesan Dari Makkah

"Pesan Dari Makkah"

Oleh: Ustadz Felix Siauw*

10Berita, Makkah sedari dahulu memang menjadi bumi inspirasi, banyak peristiwa hebat yang diinspirasi dari sini. Termasuk saat saya berkunjung kesini, pun mendapat banyak kebaikan.

Salah satunya pertemuan dengan seorang Habib yang namanya tidak lagi boleh disebut di media sosial, fotonya pun tak bisa dipampang, sebab akan dihapus darinya.

Tapi pesan-pesannya masih bisa disampaikan, beginilah saya rangkumkan kepada kawan-kawan sekalian agar bisa mendapat manfaat darinya, atau jadi penyemangat.

Pertama, beliau mengirimkan salam, doa, dan kerinduan kepada semua Muslim di negeri, terkhusus pada mereka yang selama ini terlibat dalam aksi-aksi bela Islam.

Beliau mengingatkan bahwasanya spirit 212 bukanlah hanya tentang menumbangkan penista agama, tapi ruh dan nyawa 212 ialah semangat penerapan syariat.

Semangat 212 adalah semangat kerinduan Muslim untuk selalu menjadikan ayat-ayat Allah lebih tinggi dari apapun. Dan dari situ semua harus diukur, Islam diatas segalanya.

Dibahasakan beliau, menumbangkan penista agama adalah hanya target jangka pendek, jangka menengahnya menolak siapapun yang anti terhadap Islam, jangka panjagnya tentu saja menerapkan aturan syariah, berdasar Kitabullah dan Sunnah.

Kedua, ukhuwah adalah perkara paling indah yang Allah berikan pada ummat Islam di Indonesia. Kita boleh jadi kalah harta, kalah ilmu, kalah teknologi. Tapi kesemuanya bisa kita lampaui selama kita memiliki persatuan.

Maka jaga ukhuwah diantara kaum Muslim, berlemah lembut pada mereka, bilapun mesti berbeda, berbedalah dengan adab, perlakukan saudara dengan akhlak mulia.

Terkhusus buat para pemuda, beliau bercerita betapa Rasulullah menyayangi yang muda, senantiasa membesarkan hati mereka, selalu memberi perhatian lebih pada mereka.

Itulah sebabnya Rasulullah memenuhi pendapat pemuda untuk menyongsong kafir Quraisy saat perang Uhud, walau sahabat senior memilih untuk bertahan di Madinah.

Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari, beliau berpesan pada pemuda agar tetap istiqamah, dan gunakan apapun yang bisa dilakukan untuk berkontribusi dalam dakwah.

Semoga Allah rahmati kita semua, memuliakan kita semua dalam dakwah, dan memberi balasan yang terbaik. Kita doakan semoga beliau selalu diberi kebaikan pula 🙂🙂🙂

26 Januari 2018

__
*Sumber: fb Ustadz Felix Siauw
Foto: dari foto yang dihapus sebelumnya
NB: Ustadz Felix Siauw silaturahim bertemu Habib Rizieq di Makkah belum lama ini

Sumber : PORTAL ISLAM

Lawan Kejahatan Kebencian, Muslim AS Bagi-bagi ‘Taco Halal’

Lawan Kejahatan Kebencian, Muslim AS Bagi-bagi ‘Taco Halal’



Foto: Halallifestyle
10Berita, AMERIKA SERIKAT—Warga Muslim dan penduduk Amerika Latin dikabarkan telah membagi-bagikan “Taco halal” kepada masyarakat untuk melawan aksi kebencian terhadap Islam.
Muslim Amerika Latin tersebut berdomisili di Sacramento, California, Amerika Serikat (AS). Mereka membagi-bagikan taco halal itu ketika mereka merasa sedang menjadi sasaran bidik aksi kebencian. Dengan tindakan ini, mereka ingin menyebarkan kasih sayang dan persatuan di tengah masyarakat.
Penghinaan dan permusuhan terhadap Muslimin dan penduduk Amerika Latin semakin meningkat pada era kepresidenan Donald Trump.
Beberapa waktu lalu, Trump pernah menyerupakan sebagian negara Amerika Latin dan Afrika dengan lubang WC.
Dari sejak Trump terpilih sebagai presiden AS, Muslimin memang sudah menjadi sasaran serangan. Salah satu bentuk serangan ini adalah pelarangan terhadap Muslimin untuk memasuki tanah Amerika.
Untuk mengikis habis gambaran buruk tentang Muslimin ini, warga muslim membagi-bagikan taco halal di kalangan masyarakat luas.
“Keadilan bukan hanya untuk kita. Ketika kita berperang untuk keadilan, maka kita harus menuntut seluruh hak kita, termasuk hak-hak madani kita,” ujar Rita Hamidah salah seorang penyelenggara program tersebut.
“Dengan taco halal ini, kita memerangi kebencian. Taco ini pada hakikatnya adalah simbol kecintaan dan khidmat kepada masyarakat,” ujar Rita.
Gerakan untuk melawan ujaran kebencian terhadap warga muslim telah dimulai dari sejak tiga tahun lalu. []
SUMBER: SHABESTAN

Soal Bantuan, Palestina Abaikan Ancaman Trump

Soal Bantuan, Palestina Abaikan Ancaman Trump


Seorang anak Palestina di Gaza sedang disuapi ayahnya

10Berita, RAMALLAH, Palestina mengabaikan ancaman baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menahan bantuan ratusan juta dolar pada Kamis (25/1/18).

Di Davos, Swiss, Trump menyebut Palestina “tidak menghormati” Amerika Serikat dengan menolak bertemu dengan Wakil Presiden Mike Pence dan mengancam akan menahan bantuan dana untuk Palestina.

Juru bicara Presiden Mahmoud Abbas mengatakan mereka tidak akan bertemu dengan pemerintah Amerika Serikat sampai Washington menarik keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Zionis “Israel”.

“Jika pemerintah Amerika tidak mencabut keputusan mereka untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota ‘Israel’, mereka akan tetap di luar meja (perundingan),” kata Nabil Abu Rudeina.

Seorang pejabat senior Palestina lainnya, Hanan Ashrawi, mengatakan kepada AFP, “Tidak bertemu dengan penindas Anda bukanlah tanda tidak hormat, itu tanda harga diri,” tegas pejabat senior Palestina lainnya, Hanan Ashrawi, kepada AFP

“Palestina tidak menghormati kami sepekan lalu dengan tidak mengizinkan wakil presiden kami yang luar biasa menemui mereka,” kata Donald Trump dalam pertemuan dengan Perdana Menteri penjajah, Benjamin Netanyahu, di Davos, Swiss.

“Kami memberi mereka ratusan juta dolar AS,” ujar Trump lagi.

“Uang itu tidak akan diberikan kepada mereka kecuali mereka duduk dan merundingkan perdamaian,” katanya sebagaimana dikutip AFP.

Amerika Serikat sudah menangguhkan bantuan puluhan juta dolar bagi badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina.

Palestina membekukan hubungan setelah Trump pada 6 Desember 2017 lalu mengakui Yerusalem sebagai ibu kota wilayah jajahan Zionis itu. Palestina memandang Yerusalem timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

Keputusan Trump melanggar konsensus internasional puluhan tahun lalu yang menyepakati status Yerusalem harus dirundingkan antara para pihak. (*)

Sumber: Antara,  Salam Online.

Urgensi Penguatan Kelembagaan Media Islam

Urgensi Penguatan Kelembagaan Media Islam


Oleh: Roni Tabroni*

10Berita, Dua organisasi jurnalis Islam yaitu Forum Jurnalis Muslim (Forjim) dan Jurnalis Islam Bersatu (Jitu) baru saja menyelesaikan agenda pentingnya yaitu Kongres. Kegiatan tersebut menandai semakin bergairahnya pers Islam di Indonesia yang digawangi jurnalis-jurnalis handal di bawah organisasinya yang semakin kuat. 

Baik Forjim maupun Jitu memiliki misi mulia di tengah beratnya tugas untuk mengembangkan dunia jurnalisme Islam di tanah air yang begitu dinamis. Bahkan masih segar dalam ingatan bagaimana puluhan media Islam online diberangus pemerintah yang menimbulkan tanya sampai kini.

Kehadiran dua organisasi ini sesungguhnya masih baru di jagat jurnalisme Indonesia. Dibutuhkan waktu untuk menguatkan secara kelembagaan dengan melakukan konsolidasi dan koordinasi di kalangan internal, media-media Islam yang ada, juga berbagai lembaga terkait lainnya. 

Namun demikian, kita pun berharap banyak kepada dua lembaga ini, karena secara the facto banyak di antara pengurusnya yang sesungguhnya sudah malang melintang di dunia jurnalistik, baik di media Islam maupin media umum sebelumnya. Bekal pengalaman yang matang di dunia media ini akan menjadi alasan mempercepat kemajuan dan matangnya lembaga ini. 

Perihal mendesaknya mematangkan lembaga ini, dikarenakan secara kasat mata kini semakin berkembangnya media massa Islam baik dalam format cetak, elektronim (khususnya tv digital), terlebih media online. Keberadaan media-media Islam ini harus dibarengi oleh semakin meningkatnya kuantitas dan kualitas jurnalis Islam. 

Secara kelembagaan, media massa Islam dituntut untuk semakin memperkuat dirinya karena beberapa alasan: pertama, kencangnya gelombang Islamphobia yang menjadikan media sebagai agen propagandanya. Jika media Islam tidak kuat maka citra Islam semakin memburuk dan akhirnya perang informasi dimenangkan oleh mereka. Kedua, tuntutan keberimbangan informasi. Kehadiran medi Islam sebenarnya mengembang misi penting yaitu membangun peradaban dunia yg lebih baik, tetapi pada jangka pendek media Islam ini memiliki tugas untuk membangun keberimbangan informasi agar publik tidak terbodohi oleh konten-konten yang sepihak khususnya terkait isu-isu keagamaan. 

Ketiga, ada tuntutan bahwa media Islam pun diharapkan dapat meningkatkan kualitas demokrasi khususnya di Indonesia. Pola pemberitaan dan tradisi informasi yang dibangun diharapkan semakin menumbuhkan pola fikir dan perilaku produktif agar masyarakat turut berpartisipasi dalam menguatkan makna pembangunan di wilayahnya masing-masing. 

Menjawab tantangan tersebut, media Islam secara kelembagaan diharapkan dapat memprioritaskan penguatan pada beberapa aspek: pertama, penguatan SDM. Dalam banyak kasus, jurnalis media Islam perlu ditingkatkan kemampuan jurnalismenya baik secara filosofis maupun secara teknis. Bahwa menjadi jurnalis di media Islam perlu totalitas, harus berkualitas dan memiliki integritas yang tinggi. Bukan saatnya lagi menjadi jurnalis di media Islam hanya sekedar sampingan atau iseng. 

Kedua, idiologisasi Islam bagi jurnalisnya. Bahwa menjadi jurnalis di media Islam bukan semata persoalan teknis (menulis berita kemudian diberi gaji dan habis urusan). Menjadi jurnalis di media Islam adalah sebentuk jihad di wilayah media yang memiliki nilai dan pengorbanan sangat tinggi. Jurnalis Islam tidak melulu mencari materi, tetapi juga dakwah kemanusiaan untuk peradaban yang lebih baik. 

Ketiga, kesejahteraan yang memadai. Walaupun kesejahteraan bersifat relatif, tetapi kesejahteraan merupakan aspek yang harus dicari solusinya. Sebab aspek ini sangat berkorelasi dengan aspek profesionalisme yang berujung pada kualitas media Islam. Tetapi juga bukan berarti bahwa menjadi jurnalis Islam kemudian mencari kesejahteraan semata dan mengabaikan idiologi. Kesejahteraan juga diharapkan tidak dipertentangkan dengan keikhlasan. 

Keempat, aspek modal. Secara umum media Islam kalah bersaing karena modal. Tetapi seiring dengan peningkatan kualitas diharapkan hadirnya insan-insan yang peduli yang dapat memperkuat media Islam dengan modalnya. Walaupun demikian sesungguhnya juga ada potensi dana ummat yang sampai saat ini belum tergali dengan optimal, seperti zakat/infaq untuk kepentingan dana dakwah via media. 

Keempat, konten yang berkualitas. Konten media Islam secara umum perlu ditingkatkan lagi baik dari sisi pengangkatan materi, pemilihan objek liputan, cara memframing sebuah objek, mengambil sudut pandang, teknik laporan mendalam dan investigasi, pemilihan narasumber, sampai aspek diksi dan ilustrasi. 

Pada dasarnya media Islam termasuk yang khas. Secara umum agak sulit disamakan dengan media lainnya. Tetapi, jika kembali pada tujuan utama media yaitu mempengaruhi orang lain dan melakukan edukasi, maka secara konsep dan praktisnya perlu ada pembenahan.

Karenanya, baik Forjim maupun Jitu, sesungguhnya memiliki banyak PR dalam membangun dunia media Islam di tanah air. Selain pembenahan kelembagaan, pembuatan sejumlah regulasi, juga aspek pendukung teknis lainnya yang dapat membangun media Islam yang berwibawa. 

Kedua lembaga ini dapat melakukan dialog terbuka, melakukan perjuangan politik, penguatan modal, hingga peningkatan kualitas jurnalis dengan berbagai aktivitas training dan pemagangan. Semuanya dapat dilakukan secara mandiri maupun bersinergi dengan lembaga-lembaga terkait termasuk Perguruan Tinggi. Wallahu'lam. [syahid/voa-islam.com]

Penulis adalah Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah

Sumber : Voa-islam.com

Fahri: Rencana Penunjukan Pati Polri Jadi Penjabat Gubernur Timbulkan Kecurigaan

Fahri: Rencana Penunjukan Pati Polri Jadi Penjabat Gubernur Timbulkan Kecurigaan


Fahri Hamzah

10Berita, JAKARTA Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai rencana penunjukan dua perwira tinggi Polri menjadi penjabat gubernur di Jawa Barat dan Sumatera Utara, menimbulkan kecurigaan di masyarakat.

Ia juga mempertanyakan mengapa pemerintah tidak mengambil opsi penunjukkan ynag berasal dari pejabat sipil di Kementerian Dalam Negeri atau Pemerintah Daerah setingkat Eselon 1.

“Terus terang keputusan mendagri ini agak mengganggu di tengah ada konsolidasi, restrukturisasi di TNI yang begitu cepat, kemudian banyaknya calon yang berasal dari institusi TNI dan Polri. Jadi orang curiga,” kata Fahri di Komplek Parlemen, Jakarta, Jumat (26/1/18).

Dia menilai pejabat dari sipil bisa lebih tegas daripada Polisi dan TNI ketika memimpin di pemerintahan sehingga aneh kalau dari ribuan pejabat sipil tidak ada yang dipilih.

Fahri tidak sependapat dengan asumsi bahwa kalau sebuah daerah mau aman maka pemimpinnya harus dari unsur TNI atau Polri, karena dalam transisi demokrasi yang sudah berjalan 20 tahun, semua pihak melatih dirinya masing-masing.

Dia mencontohkan pejabat sipil pun harus mengerti manajemen dan tegas dalam memimpin, sehingga ketika memimpin harus dihormati semua pihak.

“Jadi tidak boleh dianggap hanya tentara dan polisi yang bisa ditaati. Kalau ditaati sekelompok orang, namun tidak ditaati sekelompok orang lainnya karena dinilai tidak netral, itu membuat kita lebih ribet,” ujarnya.

Fahri mengatakan semua pihak harus melindungi TNI dan Polri dari tuduhan bersikap tidak normal atau bertindak tidak netral dalam Pemilu karena dalam transisi demokrasi komitmen tersebut harus terjaga dengan baik.

Di sisi lain, Fahri menyarankan agar pemerintah memberikan penjelasan yang komprehensif, betul atau tidak ada pelanggaran UU terkait kebijakan mengangkat Pati Polri sebagai Penjabat Gubernur karena ada orang yang menginterpretasikan bahwa namanya eselon satu itu bukan Polri.

“Kalau pemerintah mau mengantisipasi tidak adanya pelanggaran UU, maka pastikan ini keputusan kabinet yang merupakan keputusan eksekutif yang tertinggi,” katanya. (*)

Sumber: Antara,  Salam Online.

Imam Kurdi : “PKK/PYD Telah Menindas Suku Kurdi, Mereka Melarang Pelajaran Bahasa Arab”

Imam Kurdi : “PKK/PYD Telah Menindas Suku Kurdi, Mereka Melarang Pelajaran Bahasa Arab”

10Berita,  Imam Kurdi, Sheikh Muhammad Cilo di wilayah Afrin, Suriah mengatakan bahwa kelompok teroris PKK/PYD telah menindas suku Kurdi dan keyakinan mereka. Mereka bahkan melarang pelajaran bahasa Arab diajarkan kepada anak-anak suku Kurdi.

“PKK/PYD adalah tiran, tidak ada yang seperti merek. Mereka lebih jahat dari iblis. Mereka tidak datang untuk membawa kedamaian disini. Mereka adalah teroris yang hanya menghancurkan wilayah kita,” ungkap Sheikh Muhammad Cilo, seperti dilansir dari Anadolu Agency, Jumat, (26/1/18).

“Saya memohon kepada orang-orang Afrin, bawalah anak-anak Anda menjauh dari mereka. PKK/PYD harus pergi dari sini, mereka harus kembali dari tempat mereka datang,” tambahnya.

Sheikh Muhammad Cilo mengatakan bahwa dia telah mendapat ancaman dari kelompok teroris tersebut karena pendiriannya menentang kelompok itu.

“Saya adalah seorang imam dan seorang guru, saya ingin mengajar bahasa Arab untuk murid-murid saya disini, tapi PKK tidak mengizinkan saya untuk melakukan itu,” ungkap Sheikh Cilo.

“Mereka (PKK/PYD) mengatakan kepada saya bahwa saya bisa mengajar jika saya memuji mereka, tapi saya mengatakan bahwa saya hanya akan mengajar apa yang agama kita perintahkan dan saya hanya akan mengatakan apa yang sebenarnya,” ungkap Sheikh Cilo.

Cilo mengatakan saat ia terus mengajar agama di Afrin, ia sering menghadapi kesulitan dari kelompok teroris tersebut.

Sheikh Cilo menjelaskan : “Saya mengajar di beberapa desa, namun kelompok teroris tersebut menghalangi saya dalam usaha saya. Bahkan penduduk desa mengatakan bahwa PKK/PYD juga melarang pengajaran bahasa Arab kepada anak perempuan mereka.”

“PKK/PYD menyerang masjid saat shalat di desa Syaikh al-Hadid; Mereka masuk ke dalam dengan sepatunya, mengirim anak-anak pulang dan merobek halaman Al-Quran,” jelas Sheikh Cilo.

Sheikh Cilo mengingat berbagai kejahatan yang dilakukan oleh kelompok teror PKK/PYD terhadap orang Kurdi di Afrin. “Kami adalah suku Kurdi asli, kami adalah orang-orang yang ditindas oleh rezim Assad. Saya lebih Kurdi daripada mereka [PKK/PYD], mereka bukan orang Kurdi.

Sheikh Cilo mengatakan bahwa PKK/PYD telah menyakiti kehormatan dan kebanggaan orang Kurdi. “Orang-orang Kurdi adalah orang-orang yang religius dan terhormat, jangan ikuti mereka (PKK/PYD). Ocalan (pemimpin PKK) dan Assad telah bertindak bersama dan saling melindungi.”

Sheikh Cilo menegaskan bahwa Suku Kurdi dan Arab adalah saudara seiman. Sheikh Cilo mendesak rakyat Afrin untuk memprotes kelompok teror PKK/PYD tersebut. Sheikh Cilo mengatakan bahwa wilayah ini adalah tanah air orang Kurfi Afrin dan mereka (PKK/PYD) hanyalah penjajah, mereka bukan Kurdi. (DH/MTD)

Keterangan : Dilansir dari Wikipedia, PKK singkatan dari Partiya Karkerên Kurdistan atau Partai Komunis Kurdi adalah organisasi militan Kurdi yang didirikan pada tahun 1970-an. PKK dipimpin oleh Abdullah Öcalan yang ditangkap tahun 1999. Ideologi Partai ini adalah Marxisme-Leninisme. Tujuan partai ini adalah mendirikan negara komunis Kurdi di wilayah yang terdiri dari Turki tenggara, Irak barat laut, Suriah timur laut dan Iran barat laut. Sedangkan PYD (Partiya Yekîtiya Demokrat)adalah Partai Komunis Kurdi Suriah. 

Sumber : Anadolu Agency, Moslemtoday.com | Redaktur : Hermanto Deli
Copyright © 1439 Hjr. (2018) –

4 Kaidah Pokok Memahami Peristiwa Akhir Zaman

4 Kaidah Pokok Memahami Peristiwa Akhir Zaman

10Berita – Kiamat sudah dekat, begitu kata sebagian orang. Terlebih banyak sekali tanda-tanda kiamat kecil yang hadir di tengah-tengah kita. Sebagai seorang Muslim, mengimani tanda-tanda Hari Kiamat adalah bagian dari iman kepadanya. Dengan sudah banyaknya tanda-tanda Hari Kiamat yang muncul, sebagian orang berkesimpulan bahwa kita sudah dekat dengan akhir zaman.

Dalam menyikapi akhir zaman sendiri, ada yang mengingkarinya dan ada pula yang terlalu gegabah dalam mencocokkannya dengan hadits. Padahal untuk memahami akhir zaman dengan benar, perlu ada kaidah yang perlu dipahami agar kita tidak tergelincir dalam pemahaman yang salah. Di antara kaidah dalam memahami peristiwa akhir zaman adalah sebagai berikut:

Memastikan Keshahihan Hadits-hadits AkhirZaman

Tidak dapat dipungkiri bahwa dari sekian banyak hadits-hadits yang berbicara tentang akhir zaman, banyak juga hadits-hadits yang dhoif bahkan palsu. Oleh karenanya kita harus hati-hati, jangan sampai kita menyandarkan sebuah keyakinan kita terhadap hal ghaib kepada hadits palsu.

Ada sebuah kaidah yang harus kita pahami yaitu :

لولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Artinya, “Kalau seandainya bukan karena sanad, maka setiap orang akan berbicara apa yang dia suka.”

Keberadaan sanad mampu menjaga orisinilitas agama ini, sehingga setiap hadits yang ada bisa diklarifikasi derajat keshahihannya. Baik hadits-hadits yang berkaitan dengan fikih maupun hadits-hadits tentang akhir zaman. Semoga Allah merahmati para ulama yang telah berjasa di bidang ini.

Ibnu Qudamah berkata, “Adapun hadits-hadits palsu atau hadits-hadits lemah, maka tidak boleh disampaikan dan (tidak boleh) meyakini apa yang ada di dalamnya dan keberadaannya tidak dianggap sama sekali.” (Dzammut Ta’wil, hal 47)

Dalam batas minimal, hadits-hadits akhir zaman yang kita yakini dan percayai haruslah dalam derajat hasan. Karena itu standar minimal diterimanya sebuah hadits.

Lantas, bagaimana jika hadits-hadits akhir zaman itu tidak disampaikan oleh Rasulullah SAW, melainkan disampaikan oleh sahabat? Jika secara sanad haditsnya shohih dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah besar dalam agama, maka ada dua kondisi.

Pertama, hadits tersebut disampaikan oleh sahabat yang tidak pernah mendengarkan riwayat dari ahlu kitab. Maka, hukumnya marfu’ (boleh dinisbatkan kepada Nabi). Karena kabar tentang akhir zaman bukanlah ranah ijtihad, sehingga jika ada sahabat menyampaikan kabar akhir zaman maka bisa dipastikan bahwa itu didapat dari Rasulullah SAW dan tidak mungkin bagi sahabat untuk mengada-ada dalam perkara ini.

Kondisi kedua, jika hadits tersebut disampaikan oleh sahabat yang pernah mendengar dari ahlu kitab, maka hadits ini tidak dihukumi marfu’. Karena bisa saja, apa yang disampaikan sahabat merupakan hasil interaksinya dengan riwayat-riwayat ahli kitab.

Adapun cerita-cerita Israiliyat, maka tidak boleh dijadikan sandaran dalam memahami peristiwa akhir zaman. Hal ini karena orisinalitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ibnu Katsir berkata, “Cerita-cerita Israiliyat yang mengabarkan umur umat Islam baik yang telah belalu maupun sisa umur dunia tidak ada dasarnya. Karena tidak ada yang tahu umur dunia yang telah lampau kecuali Allah.

Menyandarkan Pemahaman terhadap Hadits-hadits Akhir Zaman kepada Pemahaman Salaf

Di antara khazanah keilmuan para salaf adalah ilmu terkait hadits-hadits akhir zaman. Mereka meriwayatkan banyak hadits-hadits akhir zaman, menyelami maknanya dan memahaminya dengan pemahaman yang benar.

Mengembalikan pemahaman hadits-hadits akhir zaman kepada pemahaman para salaf sama halnya dengan mengembalikan perkara-perkara agama kepada para mujtahid. Allah SWT memerintahkan hal tersebut dalam firman-Nya :

Artinya, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (Surat An-Nisa: 83)

Kenapa harus sesuai dengan pemahaman salaf? Karena mereka yang langsung mengambil ilmu dan iman dari Rasulullah SAW, menyaksikan turunnya wahyu dan memahami konteksnya. Ditambah murninya pemahaman keagamaan mereka dari pengaruh pemahaman lain yang merusak kemurnian pemahaman Islam itu sendiri.

Ibnu Taimiyah –rahimahullah– berkata, “Seorang muslim dituntut untuk memahami apa yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya dengan memahami lafadz-lafadz Al-Quran dan Sunnah. Yaitu dengan mengetahui bahasa Al-Quran dan memahami apa yang dikatakan oleh sahabat, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan seluruh ulama umat Islam dalam memahami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Karena Rasulullah SAW saat menyampaikan Al-Quran dan Sunnah kepada mereka, beliau juga memberi tahu apa yang diinginkan oleh lafadz-lafadznya.” (Majmu Fatawa 17/353)

Berhati-hati dalam Mentakwil Nash-nash Akhir Zaman

Pada dasarnya setiap nash-nash syar’i baik itu ayat maupun hadits harus kita maknai sesuai dengan makna aslinya. Tidak boleh mentakwil nash syar’i kepada makna lain kecuali ada dalil penguat (qarinah). Qarinahnya bisa berupa dalil lain atau konteks nash yang membuat kita tidak bisa memaknainya dengan makna asal.

Sebagai contoh, jika ada yang berkata, “Ada singa sedang memimpin pasukan.” Hukum asalnya, singa harus dimaknai dengan makna asal, yaitu hewan buas yang hidup di hutan. Namun konteks kalimat di atas membuat kita berpikir bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Barulah kemudian kita beralih kepada makna lain, yaitu seorang yang pemberani sedang memimpin pasukan. Peralihan makna ini karena adanya konteks yang menuntut hal itu.

Kaidah di atas juga berlaku bagi hadits-hadits akhir zaman. Tetap memaknainya sesuai dengan makna aslinya, selama tidak ada qarinah yang memalingkannya dari makna asli.

Di antara contoh takwil yang salah terhadap hadits-hadits akhir zaman adalah takwil tentang Dajjal. Dalam banyak hadits-hadits ditemui bahwa Dajjal adalah makhluk Allah yang muncul di Akhir Zaman, memiliki ciri-ciri fisik tertentu, seperti mata yang buta sebelah dan tertulis di keningnya huruf Arab (ك–ف–ر). Namun ada sebagian orang yang mencoba mentakwilkan Dajjal, alih-alih mengganggap Dajjal sebagai makhluk khusus dengan ciri-ciri khusus dan kemampuan khusus, mereka malah mentakwilkan Dajjal dengan takwil-takwil yang tidak berdasar sebagaimana yang dilakukan oleh Jahmiyah dan Muktazilah.

Di era modern pun ada yang mentakwilkan Dajjal kepada makna-makna lain. Ada yang beranggapan Dajjal itu adalah peradaban Barat hari ini, mereka mengatakan bahwa maksud dari buta sebelah dari hadits Dajjal adalah peradaban Barat yang tidak seimbang antara perkembangan materi dan moral, ada pula yang mengatakan bahwa Dajjal itu adalah nama general bagi setiap kerusakan dan takwilan-takwilan lain yang tidak ada landasannya dari wahyu atau para salaf.

Bersambung di tulisan berikutnya.

Penulis: Miftahul Ihsan Lc.

Sumber : Kiblat.net